
" Ayahmu menjadi tersangka dari penggelapan dana pajak yang akan dikirimkan untuk wabah dibagian barat ibukota. Aku yakin mereka pasti sudah mulai bergerak sekarang "
" Tersangka ? apa yang anda maksud Wangseja ? " ( merasa tidak ingin percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh putra mahkota )
" Ayahmu, dituduh menjadi tersangka penggelapan uang pajak. Kamu juga tahu mengapa pajak di ibukota meningkat akhir - akhir ini. Kas negara tidak mencukupi dan
mereka melakukan hal itu untuk mengirimkan sebagian dana ke bagian barat ibukota. Tapi, sebagian dana yang cukup besar itu hilang entah kemana. Mereka mencurigai ayahmu dan beberapa pejabat yang sejajar. "
" Kenapa ? kenapa harus ayahku ? ayahku tidak mungkin melakukan hal itu " ( Hyun Ok melangkah mundur mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya )
" Nona Hyun Ok.. " ( Wangseja mencoba meraih tangan Hyun Ok )
Tangannya tak sampai menggapai, Hyun Ok berbalik lalu berjalan cepat menuju kantor pemungut pajak daerah. Hatinya mulai risau sambil mempercepat laju hingga berlari meninggalkan Wangseja Yong Ju dan pelayanannya dibelakang berdiam diri.
" Ayah.. Ayah.. Ayah.. " ( gumamnya dalam hati sambil terus berlari )
Boram ikut mengejar Hyun Ok. Hanya saja langkahnya tidak bisa menyamai Nona nya.
*** *** *** *** *** *** ***
Hahhh hahhh hahhh.. Aku tidak tahu sudah seberapa cepat berlari. Sesampainya di depan gerbang, suasana disana tampak ramai. Beberapa warga yang terlihat emosi sembari mencaci maki. Para pejabat yang resah kalang kabut, dan polisi yang sibuk menggeledah serta menangkap salah satu Diantaranya ialah Tuan Yeo, ayah Hyun Ok.
" Para bangsawan itu memang busuk, mereka memeras uang kita dan memakannya sendiri " ( kata salah seorang bertubuh lusuh dan kurus )
" Hah ! Jahat tetaplah jahat. Mereka memakai alasan menaikkan pajak untuk membantu menyelesaikan wabah. Cuihh ! Aku berharap mereka dieksekusi mati. " ( tambah seorang ibu perawakan tua )
" Benar sekali, eksekusi mati adalah hukuman yang setimpal untuk mereka " ( timpal teman wanita disampingnya )
Lalu serentak mereka meneriakkan emosi yang memuncak kepada para pejabat yang diborgol tangan sambil diseret oleh para petugas polisi.
" Hukum mati saja ! "
" Nee, hukum mati para koruptor ! "
" Hukum mati ! "
" Hukum mati ! "
__ADS_1
" *Hukum mati ! "
" Hukum mati ! "
" Hukum mati ! "
" Hukum mati ! "
" Tidak, ayah* " ( kata Hyun Ok pelan )
" Ayah ?! "
Aku berteriak dan menghampiri para polisi yang menyeretnya kasar.
" Ayah ?! " ( teriakku sekali lagi )
Lalu ayah melihat kearah ku setelah mendengar suaraku. Ia masih tetap dengan wajah dan ekspresi yang tenang, sambil menggelengkan kepala ia berkata sesuatu yang tidak bisa kudengar namun dapat kumengerti.
" Pergilah "
" Hyun Ok, pergilah " ( masih dengan gerakan mulut tanpa suara )
" Pergilah Hyun Ok " ( Tuan Yeo kembali memalingkan wajahnya dan berjalan lurus diseret tebalnya rantai yang membelenggu.
Hal terakhir yang kulihat, para warga melempari batu kerikil kepada pejabat yang mereka sebut tersangka.
Beberapa batu tampak mengenai kepalanya, mengalir deras darah pria paruh baya yang pasrah difitnah koruptor.
Kaki ini lemas dan tidak kuasa menahan air mata. Akupun menangis melihat pahlawanku menderita. Ayah, seseorang yang punya arti segalanya untukku. Yang menjalankan dua peran, sebagai seorang ayah dan Ibu untukku dan juga orabeoni.
" Agassi, " ( Boram datang dari belakang dan terlambat melihat tuan Yeo )
" Agassi, dimana tuan Yeo ? " ( tanya Boram khawatir melihatnya menangis )
" Ayah,, ayah disana " ( balas Hyun Ok sambil melihat jejak yang membekas di jalanan. )
Tiba - tiba ingatan perkataan Orabeoni terlintas di benakku.
__ADS_1
" Ayah tetap tenang agar bisa memikirkan solusi terbaik. Bukankah memikirkan masalah dalam keadaan tenang menghasilkan jalan keluar yang lebih tepat ? "
" Boram, ayo kita cari orabeoni " ( setelah sadar menggenggam tangan Boram )
" Baik Agassi " ( tutur Boram )
*** *** *** *** *** *** ***
Setelah mencari dimana pun tak juga kutemukan dimana orabeoni. Kami memutuskan untuk kembali kerumah memikirkan jalan keluar lain.
Saat sampai di kediaman Yeo, segala isi didalamnya baik kursi, kamar, dan perabotannya berserakan dimana - mana.
" Mereka baru saja menggeledah rumah kita " ( kataku singkat pada Boram )
" Betul Agassi. tidak sopan sekali mereka menggeledah tanpa persetujuan dari pemiliknya. " ( balas Boram ikut merasa geram )
" Nona Hyun Ok, sebaiknya kamu mengamankan diri lebih dulu. Ayo ikutlah bersamaku ke tempat yang lebih aman. "
Suara Wangseja Yong Ju tiba - tiba saja muncul, ia telah berdiri menatap kami berdua. Alisnya terlihat berkerut yang menyatakan bahwa ia cemas.
" Saya tidak bersalah yang mulia wangseja, untuk apa kami harus menyelamatkan diri. " ( menoleh dan menatap lawan bicaranya Putra mahkota Yong Ju )
" Aku mengerti. Bukankah kakakmu juga menghilang ? pergilah bersamaku. Aku akan membantumu mencari solusi dari permasalahan ini "
" Saya baru saja melihatnya tadi pagi. Tidak mungkin dia menghilang. " ( tegas Hyun Ok )
" Ya, tapi bukankah Hyun Jae tidak ada sewaktu kalian mencarinya dari tadi ? " ( tebak Wangseja Yong Ju mengenai sasaran )
" Percayalah padaku, aku pasti akan membantumu. Karenanya, sebelum itu kamu harus mengamankan dirimu terlebih dulu agar bisa menyelamatkan tuan Yeo dan mencari kakakmu "
" Mereka akan semakin curiga jika aku juga menghilang " ( ragu Hyun Ok menambah alasan )
" Tidak akan, aku yang akan menjamin mu " ( tukas Wangseja Yong Ju meyakinkan )
Keadaan yang sudah kacau semakin membuat bimbang dan semua hal hanya terlihat buram dalam pandangan ku.
Kami pun mengikuti arahan Wangseja Yong Ju.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Pangeran agung Yong Hwa tampak terjun dari atas dan mendatangi kediaman Yeo, tapi terlambat. Tidak ada seorangpun disana. Yeo Hyun Ok yang dicarinya juga tidak terlihat di manapun.
Bersambung..