Reinkarnasi Dewa Dan Dewi Sejati

Reinkarnasi Dewa Dan Dewi Sejati
Kamu Harus Menjaga Mereka Berdua


__ADS_3

Pelukan itu terlepas, tatapan dengan mata yang ber air membuat hati Yue Yin berdenyut lagi "Kenapa harus Mei Lin? Kenapa tidak kau saja?"


"Maaf, aku harus menyelesaikan urusanku. Tempat ini akan menjadi tempat yang aman bagimu" tangan Yue Yin mengusap jejak air mata yang mengalir, tatapan penuh perhatian Yue Yin layangkan.


Persetan dengan tempat, yang kuinginkan hanya dirimu. Aku merasa akan saat didekatmu, kenapa kau tidak mengerti?


Aku mengerti.


"Aku selalu disimu selagi Giok itu masih di tangan mu, aku akan menemui mu saat kau sudah siap untuk dunia ini" banyak makna yang ada di perkataa Yue Yin.


"Apa yang kamu katakan?"


"Dunia ini begitu jahat, kamu harus jadi jahat agar tidak kalah dengan orang lain" kata kata yang tidak bisa di pahami mereka semua kembali dilayangkan, misterius sekali.


"Kamu harus berganti identitas, jernihkan emosi mu itu jangan mudah terpancing"


Tangan Yue Yin terangkat, monotok akupuntur Fu Huishen untuk membuat nya tertidur. Yue Yin menumpang tubuh Fu Huishen yang ambruk, tangan kanannya mengusap rambutnya.


"Maaf, aku akan menemui mu saat kalian berdua sudah bisa menguasai persilatan" tanda tanya besar bagi Fu Chenwu yang masih tidak mengerti.


"Shi Chao bawa masuk tuan mu ini, baringkan si kamar yang ada disana dan istirahat lah kalian. Untuk barang yang kalian perlukan, aku akan kembali mengambilnya ditemani dengan Mei Lin" Yue Yin memberikan tubuh Fu Huishen yang lemas ke tangan Shi Xiong yang disamping kanannya, lalu memandang Fu Chenwu yang disana.


"Mengapa nona melakukan ini?" Shi Chao melihat Yue Yin yang pasrah itu dengan berlinang air mata, tidak sadar air mata itu jatuh membasahi pipi nya.


Yue Yin melihat itu tersenyum, maju perlahan di hadapan Shi Chao dan mengusap air mata itu "Jaga mereka berdua seperti keluarga kalian, jangan selalu bertengkar"


Bukan nya berhenti, air mata itu malah semakin deras. Perasaan yang tidak pernah Shi Chao rasakan, usapan hangat yang mengingatkan ibuya yang telah tiada.


"Jangan menangis, Shi Chao bukann orang yang lemah. Tunjukan keras kepala mu itu" nada gurau itu membuat Shi Chao terkekeh kecil dengan is akan kecil.


"Sudah, masuk saja. Anggap saja rumah sendiri" satu persatu masuk ke dalam begitu di beri izin oleh pemiliknya, meninggalkan Fu Chenwu yang berdiam diri.


Mata inda itu menatap Fu Chenwu yang berdiam diri disana "Kau tidak masuk? Jangan sampai masuk angin"

__ADS_1


Tidak ada pergerakan, Fu Chenwu langsung berlari memeluk Yue Yin di hadapan nya. Hangat, apa mungkin kakak yang ingin sekali memeluknya itu rasa nya begini?


Yue Yin membalas pelukan itu, mengelus perlahan rambut nya. Ah, anak ini sudah besar saja "Anak baik, jaga kakak mu itu ya?"


Tidak ada jawaban dari pihak Fu Chenwu, dia hanya merasakan pelukan dan elusan itu dengan tenang "Tunjukan padaku bahwa kamu hebat"


"Tunjukan kepadaku betapa hebatnya kamu menggunakan pedang, jangan mengecewakan ku"


"Baik, aku akan menunjukan kepada mu" is akan itu terhenti, pelukan juga terlepas.


Yue Yin mengulurkan tangan nya, memunculkan Giok Biru dengan motif yang sama seperti yang dimiliki Fu Huishen, namun berbeda Giok itu bercampur dengan warna hijau terang.


"Ambil Giok Ruhau ini, jaga dia seperti kamu menjaga kakak mu. Dan jangan lupa ingtkan kakaku untuk menjaga Giok miliknya juga"


Tatapan tidak percaya Fu Chenwu layangkan, Giok yang inda ini hanya diberi secara percuma saja? Yang benar saja, tangan nya juga langsung mengambil Giok itu dan mengenggam nya.


"Baik, kakak cantik terimakasih banyak" lucu sekali, senyum indah mata yang masih ber air ini.


"Baik, sekarang masuk dan istirahat ya" perintah itu di jawab anggukan oleh Fu Chenwu, dia langsung masuk terburu buru.


'Sesakit inikah takdir? Kenapa takdir begitu jahat padamu? Takdir selalu mempermainkan mu' senyum pedih itu tambah membuat sakit hatinya.


Yue Yin terkejut, lalu memeluk erat. Ah, pelukan hangat ini, jangan pernah melepaskan nya, jangan pernah.


"Kenapa nasib mu selalu buruk?"


"Tanyakan saja sama Dewa, jangan denganku"


"Kalau begitu aku akan memarahi Dewa karena nasib burukmu"


"Memangnnya berani? Kau saja takut dengan kucing" tawa kecil Yue Yin mebuat air mata Mei Pin tidak jadi jatuh, sialan.


"Terserah, sekarang apa yang harus kita lakukan?"

__ADS_1


"Kau harus menjaga mereka, aku akan melihat perkembangan tubuh ku" tatapan itu jatuh di rumah utama yang sangat ia yakinin, disana tempat mereka tertidur.


"Kenapa harus aku lagi?" pelukan itu mengendur, rasa kesal terdengar lucu dari mulut Mei Lin.


"Kalau tidak kau, mau siapa lagi?"


"Kan ada pengawal nya? Kenapa harus aku sih"


"Kamu bisa meninggalkan mereka saat mereka bertemu dengan mereka juga"


Kerutan muncul, maksud nya ini apa? Kenapa Yue YIn ini suka sekali memakai kata kata yang tidak mudah dimengerti, haduh.


"Sudah ikut aku, kita harus mengambil barang barang yang mereka berdua butuhkan" tangan Yue Yin menggandeng tangan Mei Lin Dan menariknya keluar lewat atas, bukan lewat pintu lagi.


Mereka melewati hutan bambu, hutan yang ada di dekat sungai Denglan. Sungai yang mempunyai banyak misteri, sungai yang dipercayai memakan banyak korban yang memiliki niat jahat. Bukan hanya itu, jika ada yang berlatih disana dengan tekun, pemilik sungai ini dapat menemuinya dan membantunya untuk meningkatkan ilmu orang itu.


Yue Yin dan Mei Lin berhenti, menatap satu sama lain disini. Yue Yin menatap tengah air ini, air yang biru dan tenang namun di balik ketenangan itu memiliki bahaya yang sangat. Berbeda dengan Mei Lin, Mei Lin menatap sungai itu horor, jangan bilang kalau Yue Yin ingin bunuh diri? Astaga?


"Kau mau apa? Jangan bunuh diri" seruan Mei Lin membuat Yue Yin beralih menatap nya, ada apa dengan anak ini?


Jawaban tenang membuat hati Mei Lin teratur "Aku tidak ada niatan untuk bunuh diri"


"Aku kira saja, kenapa berhenti disini?"


Tangan Yue Yin melepas topeng ungu emas nya, terlihat wajah yang indah nan bersih disana "Kita harus berendam sejenak, tubuh ku ini sudah tidak kuat untuk bertahan"


Tangan lentik Mei Lin manarik tangan ramping Yue Yin "Baiklah, ayo sebentar saja ya"


Yue Yin mengikuti langkah Mei Lin dengan tenang, melepaskan lapisan luar pakaian nya dan langsung bergegas masuk disusul Mei Lin.


Mereka berdua berdiam diri di dalam rendaman air ini, air yang hangat tidak dingin sama sekali. Berbeda dengan air yang lain, keheningan menyambut pendengaran mereka.


Angin malam ini membuat siapa saja nyaman, Yue Yin membuka mata saat merasakan dia sudah berada di dunia lain. Dunia yang hanya dapat dimasuki oleh orang terpilih saja, bukan sembarangan orang.

__ADS_1


"Ada perlu apa Dewi berkunjung kemari?"


__ADS_2