Reinkarnasi Dewa Dan Dewi Sejati

Reinkarnasi Dewa Dan Dewi Sejati
Apa Yang Terpanggil?


__ADS_3

"Shi Chao, kura kira letak sungai DengLan dimana?" rasa penasaran Fu Chenwu kembali muncul, melupakan fakta kalau Fu Huishen masih belum tau rencana beberapa waktu ke depan.


"Sungai DengLan? Memangnya ada apa? Kamu akan pergi ke sana?"


Tidak ada jawaban dari Fu Chenwu, Fu Chenwu sendiri sedikit tidak tenang. Tatapan bertanya dengan tatapan dingin mencampur jadi satu di layangkan oleh Fu Huishen, berbeda dengan Fu Chenwu yang hanya tersenyum malu.


"Benar, kalian ini sudah berada di depan ruang makan kenapa malah berhenti di tengah jalan?" seketika suara dari arah depan ruangan makan, suara perempuan.


"Nona Mei?" yang bersuara ini Shi Xiong.


"Iya ini aku, kau kira siapa?" malas menanggapi perkataan Shi Xiong, Mei Lin lebih baik berlalu ke arah Yue Yin.


Terlihat sekali kalau Yue Yin tengah duduk manis di sebuah rantai pohon, pohon besar di sekitar aula paviliun Anyun, paviliun ini letaknya sangat strategis bahkan di sekitar paviliun Anyun terdapat kebun bunga atau kebun buah.


Kalau di tanya siapa yang membuat kebun itu, atau sejak kapan kebun itu ada pasti jawabannya adalah, sejak Yue Yin menginjakkan kakinya di daerah paviliun Anyun. Bisa dibilang itu berkah dari dewa, karena bisa dibilang kedudukan Yue Yin maish setara dengan dewi, tapi tubuh itu tidak akan bisa menjadi dewi melainkan iblis.


Pemandangan Fu Huishen tidak luput dari Yue Yin, wanita yang selalu memakai topeng ungu emas dan kipas putih bergambar naga itu tercetak jelas. Tampak anggun dan berhati hati.


"Yue Yin, tidak sopan kalau di situ. Kemari" ajak Mei Lin pada Yue Yin.


"Tidak, aku terlalu malas untuk turun" kipas itu terus berkibar ke kiri dan ke kanan.


"Kamu seharusnya menghormati"


"Diam, tinggal makan apa susahnya?"


"Terserah, karena aku baik hati" melawan Yue Yin sama saja melawan maut.


Pertengkaran singkat ini sangat menguras banyak waktu, walaupun terjadi hanya sebentar waktu Yue Yin tidak banyak lagi berakhir nya Yue Yin menyuruh mereka untuk makan tanpa memperdulikan dirinya.

__ADS_1


"Aku mendengar kalau Fu Suiyin masih sama, bahkan keadaannya semakin memburuk" percakapan dimulai dari Mei Lin untuk menggosip, seperti kata gosip ini hanya perlindungan dari kata mencemonoh.


"Itu buruk, bagaimana dengan keluarga nya?" kali ini Yue Yin berbicara, Mei Lin dapat merasakan nada tidak sedap.


"Yang pasti berserakan, mereka mencari cari tabib tapi dari semua tabib yang di undang tidak ada satupun yang bisa menyembuhkan" setelah mengatakan itu, Mei Lin memakan makanan nya dengan tenang berpura pura tidak memperdulikan wajah tegang dari Fu Huishen dan lainya.


'Tentu, hanya aku yang bisa' Yue Yin menyembunyikan senyum jahat, membuat senyuman datar tanpa ada rasa sama sekali.


"Oh ya, sungai DengLan terletak dimana?" Fu Chenwu bertanya pada Mei Lin.


"Dimana ya, aku terlalu bodoh untuk soal arah" menyengir malu saat di tatap kedua pangeran dan bawahan.


"Perasaan ku di sini tidak ada sungai, kemarin baru saja aku melakukan pengintaian di sekitar daerah sini" Shi Xiong menyatakan kejanggalan.


"Ada, arah barat. Berdekatan dengan perbatasan Negara Jing dan Negara Shen" Fu Huishen menoleh ke arah Yue Yin, jawaban yang masuk akal tapi kenapa ada dua negara lainya?


Fu Chenwu melihat ke arah Mei Lin, anggukan dj berikan oleh Mei Lin menyetujui ucapan Yue Yin, lalu Mei Lin melanjutkan aktivitas kembali.


"Karena ini daerah tersembunyi" jawaban singkat tapi mudah dipahami, namun ada yang menjanggal dari jawaban Yue Yin "Daerah ini tidak ada di peta manapun, kalau memang ada orang yang berani memasuki daerah ini, mereka akan menghilang entah kemana tanpa ada harapan untuk kembali"


Pernyataan dari Yue Yin membuat mereka terheran heran, alasan yang tidak masuk akal untuk dipahami. Pantas saja daerah ini sangat bebas, hewan hewan berkeliaran ke sana ke mari, aura siluman juga terasa.


"Baik mari kita ke sungai DengLan, ingat kalian jangan membuat alasan apapun saat di sana" terdengar suara barang dijatuhkan, Mei Lin bangkit bertepatan dengan Yue Yin yang turun dari batang pohon.


...****************...


"Air nya dingin sekali" Fu Chenwu mengeluh, badan Fu Chenwu terasa beku seketika, padahal ini baru lima belas menit dia berendam di sungai.


"Nona, sampai kapan kita berdiam diri" Shi Xiong juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


"Sampai kalian merasa ada sesuatu yang berbeda, tenanglah sedikit" tanpa memperdulikan mereka yang mengeluh, Mei Lin melangkah menjauh meninggalkan mereka yang tengah berendam kedinginan.


"Nona, anda ingin pergi kemana?!" Shi Chao berteriak panik, entah kenapa instingnya berkata bahwa ada hal buruk.


"Berisik, kalian akan kami jemput sebentar lagi, hati hati ya" teriakan Mei Lin terdengar hampir di seluruh hutan.


Mendengar tidak ada suara kaki, mereka berempat terdiam beberapa saat menikmati air yang perlahan lahan menjadi hangat, mengalir seperti mengambang dalam diam.


Fu Huishen hanya terdiam, merasakan air dingin yang berubah menjadi hangat seiring berjalan nya waktu, entah datang dari mana ada bau bunga lavender. Bunga ini mendeskripsikan Dewi Sejati, bunga yang sangat di sukai Dewi Sejati.


'Kenapa ada bunga ini? Lalu kenapa dengan perasaan ku? Rasa bahagia dan rindu' hati yang berkata kalau ia merindukan seseorang, rindu oleh kenangan manis.


"Kakak, aku mengantuk" Fu Chenwu menutup mulut, menguap pelan sambil memejamkan mata.


"Jangan tertidur, tetaplah terjaga" cegah Fu Huishen terhadap Fu Chenwu, bagaimanapun Fu Huishen takut jika ada sesuatu yang terjadi.


"Jangan terlalu khawatir, lihatlah mereka berdua saja bisa tidur" melirik ke arah Shi Chao dan Shi Xiong yang entah sejak kapan telah tertidur lelap, dengan posisi duduk bersandar pada batuan sungai.


Wajah tenang itu terlihat, bahkan sangat tenang.


"Tapi-" ingin sekali Fu Huishen memberitahu Fu Chenwu apa yang ia rasakan "Kakak jangan terlalu khawatir, kalau memang kakak terjadi apa apa pasti nona Yue Yin akan menyelamatkan kakak"


Bahagia, perkataan Fu Chenwu membuat Fu Huishen sangat bahagia, desiran aneh dirasakan Fu Huishen.


'Ada apa ini? Kenapa rasa ini muncul lagi?'


Seiring berjalan nya waktu, Fu Huishen terdiam menikmati air yang mengalir, merasakan ketenangan dan tanpa sadar kesadaran Fu Huishen terbilang terkuras, mantanya tertutup seiring bau hunga lavender yang menjauh.


Sebelum matanya tertutup, Fu Huishen dapat merasakan angin yang kencang menghampiri dirinya, dengan nada menggeram hewan itu berputar di tubuh Fu Huishen.

__ADS_1


"Tuan, aku menunggu selama ribuan tahun. Akhirnya tuan bisa memanggilku kembali" entah datang darimana, sebuah naga berwarna biru mendekati seseorang wanita dan berteriak kesenangan.


__ADS_2