Reinkarnasi Dewa Dan Dewi Sejati

Reinkarnasi Dewa Dan Dewi Sejati
Malam Tahun Baru Yang Menyenangkan


__ADS_3

"Hormat untuk kakak ketiga, ini aku Fu Chenwu"


Helaan nafas Fu Huishen terdengar, jangan jangan Yue Yin pergi karena dia tau adiknya akan datang menemuinya? Astaga, mengapa ada saja halangan.


"Bangunlah, untuk apa adik datang kemari?" tidak ingin memikirkan masalah yang tidak ia tau, dia lebih baik menyambut adik kandung nya ini.


Fu Chenwu memandang kakaknya aneh, kenapa tiba tiba dia bertanya sebelum dipersilahkan duduk. Biasanya kakak nya ini menyuruhnya duduk terlebih dahulu, tapi sekarang tidak apalagi raut wajahnya seperti kebingungan.


"Chianlu, papah adik keempat untuk duduk"


Bawahan itu melaksanakan perkataan Pangeran ketiga, membantu Pangeran ke empat duduk di samping Fu Huishen berada.


"Tinggalkan aku sendiri"


"Baik, Hamba pamit" Chianlu membukuk lalu melangkah menjauh dari tuan nya, dia tau ada sesuatu yang akan di bicarakan dan tidak boleh ada yang mengetahuinya. Ia hanya berharap topik itu untuk melarikan diri dari sini.


Sepeninggalan Chianlu tidak ada yang membuka suara, hanya desiran angin yang lagi lagi terdengar di telinga keduanya. Fu Huishen menatap adiknya yang duduk dengan tenang, mereka sama sama memakai kain sutra untuk menutup mata. Namun ada yang berbeda, jika Fu Huishen masih bisa melihat walaupun buram, berbeda dengan Fu Chenwu yang tidak dapat melihat apa apa.


"Kakak, hari ini hari tahun baru kan? Kakak tidak ada niatan untuk merayakan nya?"


"Memangnya kenapa? Kakak ingin pergi ke Gunung Goulin. Kamu mau ikut?" adiknya ini memenag tidak pernah keluar dari istana ini, selalu di jengkang karena takut membuat istana di pandang rendah.


"Memang nya boleh? Aku mau ikut kakak" seruan senang terdengar saat Fu Chenwu menyahuti pertanyaan kakak nya ini, akhirnya dia dapat menghirup udara segar.


Fu Huishen menggenggam tangan Fu Chenwu dengan sayang, merapikan beberapa rambut yang menggantung dan mengusap pipi adiknya ini "Kakak bisa menyembuhkan pengelihatan mu, walau kakak tidak terlalu yakin"


Dengan senyuman indah, Fu Chenwu memegang tangan Fu Huishen yang ada di pipinya "Benar kah kak? Siapa yang bisa?"


Manis sekali, interaksi antar saudara kandung yang Yue Yin lihat ini membuat hati nya bergetar, ugh kapan ya di dapat perlakuan seperti itu? Tunggu... Kenapa Yue Yin masih disini?


"Kakak bertemu dengan nya tadi, dia berkata ingin menyembuhkan mu. Walau tidak bisa sekarang"


"Tidak apa kak, yang terpenting aku dan kakak juga bisa sembuh"


Senyuman yang indah tercetak di bibir mreka berdua, astaga senyuman ini membuat siapa saja akan tertarik dan ingin melihat lebih lama lagi.

__ADS_1


"Adik, makanlah ini. Makanan nya masih banyak" tangan kanan Fu Huishen mengambil sumpit yang ada di sana, sumpit yang sudah di sediakan oleh Shenying ke tangan kanan Fu Chenwu.


Fu Chenwu menerima sumpit itu dengan girang, kakak nya ini sangat perhatian sekali. Dia mulai memakan dengan tenang di susul juga dengan Fu Huishen "Baiklah kak"


Yue Yin yang masih bersembunyi pun merasa sangat familiar dengan adegan ini, adegan yang dimana kehidupan dulu saat menjadi Jia Yin sangat Dewi Sejati dan Fu Huishen yang menjadi Dewa Sejati melakukan hal yang sama.


Senyuman getir muncul di sudut bibir Yue Yin 'Ugh aku sudah tidak tahan dengan adegan ini, tapi aku tidak tega menghentikan nya. Ah sudahlah'


Mereka berdua memakan makanan nya dengan tenang, tidak terusik dengan kegiatan yang dilakukan para pelayanan yang tengah berlalu lalang menyiapkan malam tahun baru. Aku baru ingat jika Kaisar Fu sedang menyiapkan festival tahun baru, kaisar Fu juga mengundang beberapa bangsawan yang ada di wilayah Fu.


"Tata baik baik, jangan sampai ada yang lecet"


"Ini semua taruh di Gerha Aula, jangan sampai ada yang tertinggal"


"Cepatlah sedikit, kalian ini lambat sekali"


Berisik sekali, Yue Yin menoleh ke belakang melihat banyak orang yang berlalu lalang tapi tidak bisa melihat nya. Memang nya ini yang sering di lakukan manusia saat perayaan tahun baru? Terlalu meriah.


Yue Yin membuat perisai agar tidak ada yang bisa mendengarkan pembicaraan yang akan dilakukan nya dengan kedua Pangeran ini, perisai yang hanya bisa dilihat oleh orang yang membuat nya. Bagus sekali, setelah selesai dia menampakkan kakinya di tanah.


Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara, Fu Chenwu menyerngit bingung, siapa orang ini? Jangan jangan dia ingin membunuh ku dan kakak ku? Tidak akan kubiarkan. Fu Chenwu mengambil belati yang di simpan di balik sabuk nya.


Fu Huishen yang tau perlakuan Fu Chenwu pun mencengkal tangan nya "Jangan"


"Mengapa kamu disini? Yue Yin"


"Aku hanya ingin melihat seberapa sayang nya saudara kandung ini, memangnya aku salah?" kepakan kipas terdengar terhenti, lalu terdengar juga langkah kaki mendekat.


ㅤㅤㅤ


"Kamu siapa?" Fu Chenwu menyerngit dan menatap wanita ini, berniat ingin menggertak nya. Lucu nyaa hhhaaa.


"Aku? Entahlah aku juga tidak tau. Pangeran, lebih baik kalian menuju gunung Goulin, aku mendengar habis ini festival akan dirayakan dan Ayah yang kali terhormat itu memerintahkan seorang pembunuh untuk membunuh kalian"


"Tunggu Yue Yin, luka mu?"

__ADS_1


Kekehan kecil terdengar, oh ternyata Pangeran ini masih teringat luka yang terkena belati nya "Biarlah, hitung hitung itu hadiah pertama bagi ku"


Fu Chenwu merasa aneh dengan interaksi keduanya, kakak nya pernah bertemu dengan Yue Yin ini? Apa yang aku lewatkan dari kejadian ini.


"Yue Yin?" tidak ada jawaban dari orng yang bersangkutan, Fu Huishen lantas langsung menggenggam tangan Fu Chenwu dengan lembut "Kalian masuklah"


Ke enam orang masuk dari persembunyian, mereka menunduk hormat ke arah kedua Pangeran Fu berada "Hormat kami Pangeran"


"Kalian pasti sudah menguping kan? Pertanyaan nya, menang benar yang dikatakan oleh wanita itu?" Fu Huishen ingin tau jawaban nya benar atau tidak, jika tidak pun tidak masalah tapi jika iya darimana wanita itu tau.


"Benar, hamba mendengar Kaisar Fu menyuruh orang untuk membunuh" Jawaban yang tidak terduga sekali, kata yang di layangkan Yue Yin.


"Baiklah, sekarang bawa aku dan adikku ke gunung Goulin" ucapan Fu Huishen adalah perintah mutlak, mereka ber enam mengangguk secara bersamaan. Entah apa yang dilakukan mereka, sekarang mereka semua sudah berada di gunung Goulin.


Bawahan mereka melakukan ilmu berpindah tempat yang diajari okeh guru mereka, setelah mereka tiba di sana terlihat sekali malam yang gelap namun menenangkan. Ah, tidak terasa hari sudah menjelang malam.


Petasan petasan terdengar secara tiba tiba, bawahan nya dapat melihat petasan yang indah nan cantik ini, tapi mereka berdua tidak bisa. Fu Chenwu maju dengan perlahan, walaupun dia tidak bisa melihat setidaknya dia dapat mendengarkan suara petasan ini.


Tangan nya tertulur untuk membuka kain sutra yang menutupi matanya, saat terbuka mata indah Fu Chenwu terlihat seperti lampu yang menyinari tempat yang gelap ini, indah sekali.


"Pangeran, jangan membuka mata sembarangan nanti jika debu masuk itu berbahaya " Chianlu mendekati atasan nya dan memegang lengan atasan nya, takutnya ia akan terjatuh begitu saja.


"Tidak apa, aku hanya ingin melepasnya sebentar" nada lembut itu mencoba meyakinkan bawahan nya, sejuk sekali udara disini.


"Shi Chao, bawa aku kesana" Fu Huishen juga menginginkan rasa yang sudah lama ia tidak pernah rasakan, bawahan Shi Chao maju untuk memampah tubuh Fu Huishen dan berdiri di sisi kiri Fu Chenwu.


Fu Huishen dan Shi Chao berjalan dengan pelan, sangat menyenangkan mendengar petasan yang muncul dan menghilang lagi. Kapan dia bisa melihat keindahan ini dengan sempurna?


Kain yang bertengger indah itu juga merosot, memperlihatkan mata Fu Huishen yang terang di gelapan malam, indah di pandang namun mematikan untuk dirasakan.


Pikiran bawahan mereka berkecambuk, mengapa tuan nya ini melepaskan kain nya? Nanti apa yang terjadi jika ada orang yang melihatnya?


"Kakak, kapan kita bisa melihat dunia ini?" nada lemah ini membuat hati siapa pun merasakan sakit, dengan senyuman pedih muncul di bibir Fu Chenwu.


Kakaknya hanya bisa tersenyum mendengar perkataan adiknya ini yang penuh harap, memegang tangan Fu Chenwu dengan lembut "Sabarlah, aku yakin. Kita pasti akan dapat melihat nya"

__ADS_1


Perkataan yang penuh dengan keyakinan.


__ADS_2