
Tidak terasa fajar telah tiba, dua wanita yang tadinya ingin berkunjung saja memperjelas niatnya ingin menetap kembali pada sekte Tianyin, lupa oleh orang yang mereka tinggalkan beberapa jam yang lalu. Mereka seperti sangat tidak memperdulikan, mereka hanya ingin hidup dengan tenang, itu saja.
Ruangan tengah aula sepi sedari tadi, hanya menyisakan dua wanita yang tengah merenungi ditemani keheningan malam, suara angin pun enggan untuk terdengar.
"Aku akan mengantarkan mereka ke wilayah Shen, seterusnya kamu saja yang menangani" Yue Yin berpikir ini jalan yang terbaik, membiarkan mereka berkembang sendirinya.
Mei Lin jelas sangat menolah, secara cepat Mei Lin menggeleng tidak terima "Tidak, seharusnya kamu yang menangani, aku tidak berhak"
"Aku ijinkan, lagipula ada hal yang ingin aku urus"
Mei Lin menggeleng lagi "Aku tidak mau, kita berdua saja pergi meninggalkan mereka"
Kening Yue Yin mengerut tidak senang, jawaban tidak masuk akal ini membuat emosi Yue Yin sedikit naik "Kalau kita berdua, bagaimana kita bisa mengikuti perkembangan mereka? Jangan bodoh"
"Ya setidaknya kita bisa mengintai mereka kan? Kalau aku sendiri bagaimana aku harus mencari alasan?" Mei Lin menoleh lesu, sedih.
Benar, otaknya memang bermasalah. Yue Yin menggerutu dalam hati, bingung apa yang harus ia lakukan juga bingung apa yang akan terjadi di masa depan.
Mei Lin kembali melirik ke arah Yue Yin, merasa perkataan tadi menyentuh hati Yue Yin yang paling terdalam, Mei Lin tersenyum bahagia.
"Tidak masalah, aku akan berkunjung saat mereka berdua bisa mempelajari bela diri dan ilmu kultivasi" Yue Yin berkata santai, tidak dengan Mei Lin yang hampir ingin membunuh master nya ini.
"Terserah, tapi kunjungan mu dengan ku harus sesuai jadwal. Jika tidak, aku akan menyusul mu" baiklah, kali ini Mei Lin mengalah.
Dengan berat hati Mei Lin iyakan, tidak selang berapa lama Mei Lin tidak mendengar nafas Yue Yin, sedikit panik.. Tapi Mei Lin mendengar dengkuran pelan, sangat halus, tatapan Mei Lin mengendur seperti kapas yang bertemu dengan air, sangat lembut.
Senyum bahagia Mei Lin terlihat "Aku akan membantumu, seperti kamu membantu ku dulu"
__ADS_1
Mei Lin melangkah ke arah Yue Yin, menarik lengan Yue Yin dan berpindah tempat di kamar pribadi milik Yue Yin, tidak ada siapapun yang boleh memasuki kamar ini terkecuali orang orang yang berada di masa lalu Yue Yin. Dibaringkan nya tubuh Yue Yin di kasur, sejenak Mei Lin merasa teringat kejadian masa lalu.
Saat tubuh lemas Yue Yin terbaring dalam kegelapan, tidak ada satupun yang tau bahkan Mei Lin awalnya tidak tau, jiwa Yue Yin pergi dari raga Yue Yin terjebak dalam kegelapan yang tiada ujung nya.
Mereka awalnya mengira kalau Yue Yin hanya tertidur biasa, tapi saat Yue Yin di bangunkan dalam kurung waktu tiga hari Yue Yin tidak kunjung bangun, mereka panik bahkan sangat panik. Dari kejadian itu, Yue Yin mendalami kultivasi hitam yang jelas dalam pantauan suaminya dan keluarga suaminya.
"Kapan ini berakhir? Aku tau kau tidak sekuat itu" tatapan prihatin Mei Lin layangkan untuk Yue Yin, sedikit sakit hati membayangkan betapa sedihnya kehidupan Yue Yin.
Ya setidaknya Mei Lin bisa mendeskripsikan semua isi hati, berbeda dengan Yue Yin yang tidak bisa sama sekali semenjak Jia Yin menggunakan raga Yue Yin.
...****************...
Pagi ini, Shi Chao merasa ada yang aneh, saat Shi Chao bangun pagi Shi Chao tidak melihat keberadaan Yue Yin dan Mei Lin, bahkan Shi Chao tidak melihat nya di dapur!
Shi Chao jelas panik, bagaimana kalau Yue Yin benar benar meninggalkan mereka begitu saja? Apa yang harus Shi Chao lakukan?
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'
"Shi Chao, kenapa kamu berlarian di dalam halaman?"
Shi Chao sedikit terkejut, ia hampir terjatuh akibat langkah kaki nya terhenti secara tiba tiba, tubuh tegap itu berbalik menghadap asal suara, betapa terkejutnya Shi Chao melihat Mei Lin yang tengah berdiri di salah satu batu.
"Nona, apa yang kamu lakukan?" nada khawatir terdengar.
"Tidak usah dipikirkan, panggil mereka untuk makan dan kita akan pergi mengunjungi sungai DengLan" fokus Shi Chao teralihkan, menatap wanita ber hanfu ungu yang sedang duduk di atas ranting pohon, tunggu itu benar benar pohon!
Yue Yin terlihat sangat santai, bahkan Yue Yin duduk bersandar dengan mata terpejam menikmati angin yang berhembus dengan kencang, mengabaikan tatapan tidak paham dalam sekitaran.
__ADS_1
Memang ada yang salah sedari awal, perginya Yue Yin dan datangnya Yue Yin tidak dapat diketahui, Yue Yin datang dan pergi dengan sesuka hatinya tanpa memperdulikan orang orang itu.
"Baik, Hamba pergi" Shi Chao sedikit membungkuk memberi salam, lalu pergi dari pandangan mereka berdua.
Secara tergesa gesa, Shi Chao berlari menuju Shi Xiong yang ternyata Shi Xiong sudah bangun dan berjalan keluar dari kamar Fu Huishen. Melihat Shi Chao yang tergesa gesa, Shi Xiong merasa aneh.
"Ada apa dengan mu?"
Nafas Shi Chao terdengar cepat "Huh, dimana para pangeran?"
"Sedang bersiap, mereka berdua sehabis mandi. Ada apa?" benar saja, Fu Chenwu keluar dari pintu kamar nya, menggunakan hanfu kuning muda bercampur putih.
"Pangeran, jika pangeran ke empat dan Pangeran ke tiga telah selesai, pangeran bisa langsung menuju ruang makan dan kita akan pergi ke sungai setelahnya" Shi Chao dan Shi Xiong membungkuk pelan, merasa takut yang hanya dirasakan oleh Shi Chao saja.
"Ke sungai? Memangnya ada apa?" kening Fu Chenwu mengkerut aneh, seingatnya di sini tidak ada sungai.
"Aku tidak tau, Nona Yue Yin yang bilang kalau nanti kita ke sungai. Sungai apa ya?" mengingat ingat perkataan Yue Yin tadi "Oh benar, sungai DengLan"
'Sungai DengLan? Kenapa aku baru mendengarnya?'
Tidak mau ambil pusing, Fu Chenwu memilih menyetujui ucapan Shi Chao "Baiklah, aku akan memanggil kakak ketiga terlebih dahulu"
Fu Chenwu melangkah pelan menuju kamar Fu Huishen, langkah kakinya terdengar samar, belum sempat Fu Chenwu melangkah ke kamar, Fu Huishen membuka pintu. Betapa terkejutnya Fu Chenwu melihat kakaknya yang tiba tiba menampakkan diri, memegang dadanya yang sedang berpacu sangat cepat.
Merasa ada yang aneh, Fu Huishen bertanya "Ada apa? Kenapa kalian berkumpul di sini"
Fu Chenwu menggeleng pelan "Tidak ada, ayo kak kita pergi menuju ruang makan"
__ADS_1
Fu Chenwu dan Fu Huishen berjalan beriringan, tangan Fu Chenwu melilit lengan tangan Fu Huishen karena Fu Chenwu beralasan nanti kalau Fu Chenwu jatuh ia akan kesusahan, tubuhnya sangat lemas Dan berakhir lah mereka berjalan santai melawati ruangan ruangan paviliun Anyun menuju ruang makan.