Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 10


__ADS_3

Mereka berdua tak langsung kembali ke rumah sakit, sebab di tengah jalan Fahri mengirimkan pesan kepada Annisa untuk membelikan beberapa keperluan ibunya yang sudah mulai habis.


Bian sama sekali tak keberatan menemani Annisa berbelanja di Ambarukmo Plaza, ia berpikir sekalian membeli kemeja untuk meetingnya besok pagi, sebab ia hanya kembawa kaus.


"Apa lagi yang mau di beli?" tanya Bian saat ia mendorong troli belanjaan di lorong supermarket.


Annisa kembali membuka chat yang di kirimkan oleh kakaknya, memastikan tidak ada barang yang terlewat. "Tisu basah sudah, tisu kering sudah... Tinggal pempers dewasa saja mas," ucap Annisa.


"Ooh kayanya tadi ada di rak sebelah sana," Bian memutar arah trolinya menuju rak yang mendisplay pempers dewasa, begitu tiba di depan rak, tak tanggung-tanggung Bian mengambil 10 pak dan menaruhnya di troli.


"Mas, banyak sekali," ucap Annisa.


"Enggak apa-apa buat stok," ucap Bian. "Beli buah sekalian ya." Bian mendorong troli ke arah tempat buah-buahan segar.


"Kamu mau buah apa?" Bian hanys sekedar basa-basi menayakan hal tersebut, karena nyatanya ia mengambil semua buah yang ada di supermarket itu.


"Mas belanja sebanyak ini bagaimana bawanya?" protes Annisa.


Bian tersenyum menanggapi protes Annisa. "Gampang. Aku sudah hubungi jasa kirim barang, sekarang kita bayar dulu yuk sebelum kurirnya datang."


Di depan kasir Bian dan Annisa berdebat tentang siapa yang akan membayar. "Nis, kali ini saja," pinta Bian.


"Tapi mas dua hari ini sudah banyak membatuku, jadi lebih baik aku saja yang membayar, aku tak ingin merepotkan mas Imam."


"Akukan tidak tiap hari ada di sini, lagi pula aku adalah teman kakakmu jadi wajar jika aku membatu temanku sendiri."


"Tapi mas..."


"Jadi siapa yang akan membayar," sahut sang petugas kasir memotong perdebatan Annisa dan Bian.

__ADS_1


"Saya," "Saya," ucap mereka bersamaan.


Sang petugas metapa kedua dengan tatapan yang kesal karena telah membuat antrian panjang.


"Okay, gini saja. Bagaimana kalau kita suit jepang. Siapa yang menang dia yang bayar," Bian mencoba mencari solusi tercepat karena ia tak bisa Annisa yang membayar belanjaan, sementara dirinyalah yang sedari tadi mengambil barang dengan jumlah yang banyak.


Annisa mengangguk setuju. "Boleh. Hanya satu kali suit," ucapnya sembari menoleh ke belakang, ia benar-benar tak telah membuat antrian mengular.


Satu.. Dua... Tiga...


"Aku menang," Bian tersenyum puas dan langsung memberikan kartu kreditnya kepada petugas kasir.


"Mas Imam, mana bisa begitu," protes Annisa. "Ketas sama batu, jelas yang menang kertas. Mas Imam curang."


"Bisa saja kalau kertasnya basah bagaimana?" Imam tertawa, sembari menaruh kembali kartu kreditnya di dalam dompetnya, kemudian ia membawa semua barang-barang belanjaannya. "Sudah yuk, tuh kurirnya sudah menunggu di depan," ia berbergegas menghampiri kurir yang akan mengantar belanjaannya ke rumah sakit, di ikuti Annisa dari belakang.


Setelah menyerahkan semua belanjaannya pada kurir, Bian berbalik menghadap Annisa, ia menatap Annisa lekat-lekat. "Dari kecil aku ingin sekali punya ibu, saat tadi ibumu mengelus kepalaku, aku rindu sekali dengan ibuku. Jadi please, jangan marah ya."


Bian menggeleng. "Beliau sudah bahagia dengan keluarga barunya."


Annisa terdiam tak memberikan komentar apa pun, rasa sakit di tinggal karena orang yang kita sayangi lebih memilih bahagia bersama orang lain jauh lebih sakit, di bandingkan dengan rasa sakit ketika orang orang yang kita sayangi sudah di panggil Tuhan. "Maaf..."


"Tidak apa-apa, temani aku cari kemeja yuk!!" ajak Bian.


Annisa memilihkan stelan jas berwana hitam dan biru untuk Bian, lengkap dengan dasi berwarna senada. Pilihan yang sangat sederhana namun tetap terkesan elegan, dan Bian sangat suka dengan pilihan Annisa.


"Bagaimana?" tanya Bian ketika ia keluar dari fitting room, Bian memutar agar Annisa bisa dengan jelas pakaian yang di pilihkan untunya.


"Bagus, mas Imam terlihat lebih... Tam-pan," jawab Annisa malu-malu, ia sedikit menundukan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya, namun sayangnya Bian sudah terlebih dahulu melihat rona itu.

__ADS_1


Tak ingin membuat gadis itu semakin malu, Bian kembali masuk dan mengganti pakaiannya, barulah ia membayar belanjaannya, sebelum ke kasir diam-diam Bian mengambil selembar hijab untuk ia berikan kepada Annisa.


"Untukmu," Bian mengulurkan paper bag berisi hijab tadi kepada Annisa.


"Apa ini mas?" tanya Annisa bingung.


"Kenang-kenangan. Besok siang setelah meeting aku langsung pulang ke Jakarta, aku harap kau tidak melupakanku meski mungkin kita tidak akan bertemu lagi," ucap Bian dengan berat hati, sejujurnya ia masih ingin tinggal di Jogja lebih lama lagi, ia masih ingin dekat dan bahkan memiliki hubungan yang serius dengan Annisa, namun rasanya agak sedikit mustahil karena dunianya dan dunia Annisa sangat berbeda, ia tak ingin Annisa kecewa sebab ia tak sebaik yang Annisa pikirkan.


"Terima kasih, aku tidak akan pernah melupakan mas Imam," dengan ragu-ragu Annisa menerima bingkisan tersebut.


Tak ingin terlalut dalam kegalauan hatinya, Bian mengajak Annisa membeli ice cream. "Mau coba yang strawberry stracciatella?" ia memberikan ice cream miliknya sebelum ia memakannya.


"Boleh," Annisa tersenyum sembari menyendokan ice cream milik Bian dengan sendok ice creamnya. "Emmm... kok enakan punya mas Imam?"


"Mau tukeran?"


"Punyaku sudah aku makan," tolak Annisa dengan lembut.


"Enggak apa-apa." Bian memaksa mengambil ice cram rasa green pistachio milik Annisa.


"Enggak usah mas, tadi aku hanya bercanda," tolak Annisa kembali. Aksi tarik menarik pun terjadi, mereka terhenti ketika kedua mata mereka saling bertemu.


Beberapa detik kemudian Annisa menundukan pandangannya. "Maaf, harusnya kita memang tidak jalan berduaan."


Kalimat itu meluncur bagai pisau yang menancap di hati Bian, sungguh Bian sangat menikmati jalan bersama Annisa, tapi ia pun tak ingin membuat Annisa tak nyaman.


Tanpa bicara sepatah kata pun, mereka menghabiskan ice cream, kemudian Bian mengantar Annisa kembali ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit, mereka berdua melihat keramaian. Orang-orang berkumpul menyaksikan sebuah perkelahian antara satu orang pemuda yang di keroyok oleh tiga orang pria berubuh besar dan seram, hingga tak ada satu pun orang yang berani menolong pemuda itu.


Seketika Annisa berteriak histeris karena ternyata pemuda tersebut adalah kakaknya. Tak buang waktu, Bian memarkirkan kendaraannya kemudian ia menolong Fahri.

__ADS_1


Meski melawan tiga orang sekaligus, Bian yang pernah menjadi pelatih bela diri Karate, tak begitu mengalami kesulitan melawan tiga orang bertubuh besar itu. Ia mengeluarkan semua teknik yang ia kuasai untuk melumpuhkan lawannya, sehingga kurang dari lima belas menit, tiga orang bertubuh besar itu sudah terkapar dan tidak berdaya. "Bawa dia pergi dari sini!" perintah Bian kepada sang secutity sembari ia mengibaskan jaketnya, ia mengulurkan tangannya ke arah Fahri untuk membatunya berdiri. "Loe enggak apa-apa?"


__ADS_2