
Butuh waktu dua hari, bagi Bian untuk memikirkan solusi dari permasalahan yang menimpa genk motornya. Akhirnya di malam minggu, Bian mengundang teman-teman genknya nongkrong di kediamannya.
Champagne yang bisanya menjadi minuman wajib ada di kala nongkrong, kini Bian mengantinya dengan wedang jahe hangat. "Enggak salah nih, Bi?" tanya Rangga sembari melirik ke arah teko alumunium besar yang berisi wedang jahe, lengkap dengan makanan pendampingnya seperti pisang rebus, ubi rebus, dan kacang rebus.
"Di Jogja, loe enggak kepentok apa-apa kan?" sahut Indra, bukan hanya Rangga dan Indrayang merasa heran dengan perubahan sikap Bian, namun seluruh anggota The Moge pun ikut heran.
'Kepentok cinta yang tak terbalaskan dan tak di restui,' batin Bian. "Ya enggak lah," jawab Bian sembari meraut segenggam kacang rebus, kemudian ia membuka dan memakannya. "Ini itu lebih sehat, dan yang pasti halal."
Seluruh anggota The Moge tertawa mendengar ucapan Bian. "Loe yang ngajarin kita mabok, sekarang loe nyuruh kita tobat," ujar Rangga, ia menggelengkan kepalanya hampir tak percaya dengan perubahan yang terjadi pada diri ketua genknya.
"Buku catatan dosa gue udah enggak muat, mending sekarang kita shalat Isya dulu, dah adzan tuh," ajak Bian, kebetulan sekali Adzan Isya baru berkumandang, ia meminta Indra untuk menjadi Imam. "Loe hafal bacaan shalat kan?" tanya Bian memastikan.
"Ya bisa-lah. Sebejat-bejatnya gue, tiap hari gue shalat walaupun masih bolong-bolong," ucap Indra, sembari mengikuti Bian dari belakang menuju tempat mushola kecil yang berada di sudut kediaman Bian.
Mushola itu nampak sangat asri karena di lengkapi air terjun buatan, dan di hiasi banyak tanaman hias yang merambat di sekitaran air terjun, namun sayangnya sejak rumah itu di bangun Bian tak pernah menggunakannya, hanya pekerja yang bekerja di rumahnya saja yang sesekali menggunakan mushola itu.
Bukan tanpa alasan Bian membangun mushola kecil di kediamannya, ia pernah memiliki mimpi suatu saat bisa shalat berjamaah bersama keluarga kecilnya. Mimpi yang Bian sendiri tak yakin bisa terwujud.
__ADS_1
Selesai shalat berjamaah, Bian mengajak teman-temannya barbeque di pinggir kolam renang kediamannya. Ia cukup senang, karena rumah yang biasanya sunyi kini berubah menjadi ramai. Beberapa orang sibuk memanggang daging, sebagian lagi ada bermain gitar, mengobrol hingga bermain poker, tanpa di sertai uang taruhan. Bian bukan hanya tidak menyediakan minuman beralkohol, namun ia juga melarang keras teman-temannya bermain judi.
"Attention, please!!" Bian meminta teman-temannya berkumpul sejenak di saung pinggir kolam renang.
Seketika teman-temannya menghentikan aktivitasnya. Daging yang sudah matang langsung di tempatkan di piring saji, kemudian salah seoraang anggota The Moge membawannya ke saung. Orang-orang yang tengah bermain gitar langsung berbalik ke arah Bian dan menaruh gitarnya, begitu pula orang-orang yang tengah mengibrol dan bermain poker. Semua perhatian tertuju pada Bian.
"Gue ngumpulin kalian kemari, karena ada hal penting yang mau gue omongin, terkait uang kas kita yang ada di Fahri, serta markas kita."
Sebetulnya tak mudah bagi Bian untuk mengatakan jika uang kas yang mereka kumpulkan di gunakan oleh Fahri, namun sebagai ketua ia tuntut harus adil kepada semua anggotanya. "Fahri telah menggunakan uang kas kita untuk biaya pengobatan ibundanya yang baru saja menjalani operasi pemasangan ring jantung," ucap Bian, sebelum mendapat protes dari teman-temannya ia kembali melanjutkan kalimatnya. "Gue tahu Fahri salah,dan dia pun sudah mengakui dan berjanji akan menggantikan uang kas kita."
"Yakin di ganti enggak tuh?" sahut salah seorang anggota The Moge.
Bian sangat mengerti kekecewaan yang mereka rasakan, ia pun awalnya kecewa tapi melihat kondisi bu Sekar, rasa kecewa itu sirna. Bian mengeluarkan cek dari dalam dompetnya. "Jika dia tidak mengembalikan uangnya, aku menggentinya. Utuh," ia mengakat cek itu memperlihatkannya kepada seluruh anggota The Moge.
"Wah kalau begitu, enak sekali jadi Fahri," ucap anggota dengan sinis, suara menjadi riuh, namun Bian masih bisa menggendalikannya. "Kita akan kenakan sanksi pada Fahri," ucap Bian.
"Jika dalam minggu ini dia menepati janjinya, mengembalikan uang kas kita. Dia akan aku keluarkan sebagai pengurus, menjadi anggota baru. Tapi jika dia tidak juga mengembalikan uang kita, aku akan bawa masalah ini ke jalur hukum, dan dia akan di keluarkan dari The Moge," ucap Bian dengan tegas.
__ADS_1
Sebagian dari anggota ada yang setuju dengan keputusan Bian, namun sebagian lagi ada yang merasa kurang puas. Namun sejak awal ia memikirkan masalah ini, ia sadar bahwa dirinya tidak akan bisa memuaskan hati semua orang.
"Lalu bagaimana dengan markas kita?" tanya Rangga menanyakan kelanjutan masalah genknya dengan kawanan dari genk lain yang sampai sekarang masih mengganggu genknya.
"Aku sudah menemukan markas baru yang lebih asik," jawab Bian. "Tempatnya di sebuah cafe di daerah Kemang. Nanti gue share alamatnya di group chat. Pokoknya asik deh tempatnya, ada komunitas vespa juga, dan yang pasti lebih aman dari tempat kita yang kemarin."
"Kok loe enggak discus dulu dengan kita-kita kalau loe mau pindahin markas The Moge?" protes Indra.
"Iya, Bi. Nanti yang ada kawanan itu merasa menang karena kita ngelepasin markas kita, mereka akan semakin gede kepala dan seenaknya," sahut yang lainnya.
Dari dulu Bian paling tidak suka di bantah, maka dari itu ia tak mengajak satu pun dari anggota The Moge untuk berdiskusi, bahkan dalam hal pemilihan tempat, ia pun mencarinya sendiri.
"Begini," Bian mencoba menjelaskan alasannya mengapa ia memindahkan makas The Moge. "Kita tidak punya surat kepemilikan resmi, tempat yang menjadi markas kita yang lama, jadi untuk apa kita mempertahankan tempat yang kita sendiri tidak punya surat-suratnya, mau menuntut ke jalur hukum pun kita tidak bisa. Lagi pula mau sampai kapan ribut terus seperti ini? Sampai semuanya menjadi korban? Membeli senjata api ilegal pun banyak resikonya. Sudahlah lebih baik kita fokus membesarkan genk kita agar lebih solid lagi, menjadi tempat berkumpulnya para pencinta motor gede dan semoga bisa bermanfaat untuk sesama anggota maupun di luar anggota."
Para anggota The Moge memberikan tepuk tangannya mendengar penuturan Bian, mereka tidak sabar untuk melihat markas baru mereka. "Kita makan dulu, setelah itu kita sama-sama ke sana." ia mempersilahkan para anggotanya menikmati barbeque dan makanan lainnya yang sudah Bian siapkan untuk anggota The Moge.
Baru beberapa hari ia di Jakarta, Bian sudah merindukan soto buatan Annisa. 'Apa aku bisa menikmati soto buatannya lagi?' batin Bian, sembari menyesapi wedang jahe. Rasa wedang jahe yang ia nikmati malam itu, sangat jauh berbeda dengan wedang jahe yang Bian nikmati ketika di pasar bersama Annisa, tapi bukan wedang jahenya yang beda, melainkan suasananya.
__ADS_1
Sekelebat Bian mendengar bisik-bisik anggotanya. "Ternyata nyalinya Biantara ciut juga ya, cemen, malah menghindari musuh."
Bian mengabaikan bisikan itu, ia tahu bahwa perubahan besar tidak bisa terjadi hanya dalam satu malam saja.