
Bian larut dalam hangatnya pelukan Annisa, ia membenamkan wajahnya di dada istrinya, sementara Annisa menyusupkan jari jemarinya di helaian rambut suaminya. "Sayang, kamu enggak marah kan sama mas Fahri, karena selama ini dia terkesan tak merestui hubungan kita?" tanya Annisa, jauh di dalam lubuk hati Annisa masih menyimpan perasaan tak enak hati pada suaminya karena sikap yang selama ini di tunjukan pada Bian.
Bian menggelengkan kepalanya, membuat Annisa melengkungkan tubuhnya karena geli. "Tidak sayang," Bian mendongak menatap istrinya. "Mungkin aku akan lebih galak, pada pria yang akan melamar purti kita!"
"Putri kita? Apa mas Imam mau punya anak perempuan?"
Bian langsung mengangguk. "Apa kau mau mengandungnya?"
"Tentu saja sayang," Annisa menelisuri wajah Bian dengan jari jemari lentiknya. "Mas Imam mau berapa?"
"Tiga atau empat. Aku tidak ingin anak-anakku kesepian karena tidak memiliki saudara sepertiku, apa kamu keberatan mengandung sebanyak itu? Aku tidak akan memaksamu sayang, karena aku sadar mengandung dan melahirkan bukanlah perkara yang mudah."
Annisa menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak keberatan, asalkan mas selalu selalu ada di sampingku."
"Insyaallah, aku akan berusaha jadi suami dan bapak yang siaga untuk anak-anak kita. Aku bukan hanya akan mendampingimu saja, tapi aku juga akan membantumu mengganti popok, menggendongnya, membacakan buku cerita, mengajarinya membaca Iqro, memeluknya setiap hari. Pokoknya aku akan memenuhi memory otaknya dengan kenangan-kenangan indah masa kecil bersama orangtuanya," ucap Bian dengan penuh semangat dan mata yang berbinar-binar. "Aku janji," ia mengulurkan jari kelingkingnya.
Annisa bisa melihat pancaran ketulusan dari mata suaminya. "Aku percaya padamu sayang," ia melingkarkan jari kelingkingnya di jari suaminya.
Bian menunduk, ia mendaratkan kecupan manisnya di perut Annisa. "Terima kasih kau mau mengandung buah hati kita," Bian menciumnya berulang kali.
Annisa tertawa geli. "Aku belum hamil sayang, kita baru buat satu kali."
Bian kembali mendongak menatap Annisa dengan penuh harap "Kalau begitu kita buat lagi, kamu tidak capek kan?"
__ADS_1
"Tidak, tapi aku di atas," Annisa menggulingkan tubuh Bian menjadi berada di bawahnya, kemudian mendaratkan bibirnya di bibir suaminya sembari membuat penyatuan.
Pukul 00.12 setelah selesai shalat malam, Annisa mendengar er*ngan kecil dari mulut suaminya. Bian mengigau, tangannya terangkat seolah hendak meraih sesuatu. "Mah, jangan pergi..." ucapnya dengan mata yang tertutup rapat. "Jangan tinggalin Bian, mah. Bian enggak mau sendiri," ia terus menggapai-gapai udara.
Annisa membuka pakaiannya sembari naik ke tempat tidur dan memeluk suaminya, ia mengelus tubuh Bian dengan lembut. 'Apa mas Imam sering mengigau seperti ini?' batin Annisa. Perlahan Bian mulai tenang dan kembali tertidur pulas, ia terlihat sangat nyaman berada di pelukan Annisa. "Sekarang mas sudah tidak sendiri lagi, ada aku yang akan menemani dan menyangangimu dengan sepenuh hatiku," gumam Annisa, ia teringat ketika Bian menceritakan tentang ibu, saat mereka sedang di supermarket. Annisa bisa merasakan bahwa pria yang kini berada dalam pelukannya benar-benar kesepian, di tambah Bian tak memiliki saudara.
"Kita akan membuat keluarga kecil impian kita, mas akan mendapat banyak limpahan cinta dariku dan juga anak-anak kita," bisik Annisa, ia mengecup kepala Bian. Betapa besarnya rasa sayang yang ingin ia berikan kepada Bian sepenuhnya. "Aku mencintaimu."
Lama ia mengelus kepala suaminya, perlahan Annisa pun tertidur.
...****************...
"Morning. Cup..." Bian membangunkan Annisa dengan menghujani Annisa dengan kecupan di kening dan pipinya. "Sudah jam setengah lima sayang, bangun yuk!" ajak Bian.
"Kamu tahu? Tadi malam aku nyenyak sekali, aku tak pernah merasakan ini sebelumnya," ucap Bian sembari tersenyum. "Kamu mau kan tiap malam memelukku?"
"Setiap saat," Annisa melingkarkan tangannya di leher Bian. Dengan satu gerakan tangkas, Bian meraih pinggang Annisa dan mengangkat tubuh mungil istrinya. Annisa melingkarkan kakinya di pinggang Bian, ketika Bian membawanya ke kamar mandi.
Bian dan Annisa tak bisa berlama-lama di kamar mandi, setelah bersiap mereka harus segera kembali ke kediaman Annisa, sebab pukul 05.00 Fahri sudah terbang ke Jakarta, dan bu Sekar di rumah tinggal seorang diri.
"Kita sarapan di rumah saja ya, kita beli sambil jalan. Kamu mau makan apa sayang?" tanya Bian sembari membantu Annisa mengenakan jaketnya.
"Pecel yang di deket pasar bagaimana? Mas suka?" ia mencoba memberi gagasan, sekaligus mencari tahu makanan apa saja yang menjadi kesukaan suaminya.
__ADS_1
"Sekalian beli kue jajanan pasar ya," pinta Bian.
Annisa tertawa, ia teringat bagaimana lahapnya Bian ketika menyantap jajanan pasar yang pernah ia belikan. "Iya sayang, kali ini mas harus coba kipo, pasti mas Imam suka."
"Apa saja yang kau berikan pasti akan aku makan, termasuk..." Bian melirik ke tubuh Annisa, dengan lirikan nakalnya. "Tapi sayangnya hari ini kita sangat sibuk," ia menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar hotel.
Ya hari itu mereka sangat sibuk, mengemasi barang-barang Annisa dan ibundanya yang akan Bian boyong ke Jakarta.
"Enggak perlu di bawa semua sekarang sayang, kan kamu masih bolak balik ke Jogja untuk mengurus surat perpindahan kuliahmu,"ucap Bian ketika membantu istrinya berkemas, sebetulnya Bian ingin Annisa mengganti semua pakaiannya dengan pakaian yang lebih trendy dan branded namun tetap syar'i dan sesuai dengan kepribadian Annisa.
Annisa menurut, setelah selesai mengemasi barang-barang pribadinya, ia dan Bian pun membantu ibundanya mengemasi barang-barangnya. Tak jauh berbeda dengan yang di lakukannya terhadap Annisa, Bian pun meminta ibu mertuanya tidak membawa banyak barang.
Sekar terlihat sedih ketika hendak meninggalkan kediamannya. "Ibu di sini saja ya nak, kamu ikut dengan suamimu." Selain khawatir akan menjadi beban anak dan menantunya, ia pun berat meninggalkan rumah yang memiliki sejuta kenangan bersama suaminya.
"Bu, Nissa enggak bisa ninggalin ibu sendirian. Kalau jantung ibu kambuh gimana?"
"Aku pun tidak bisa meninggalkan ibu sendirian," sambung Bian "Begini saja, ibu coba ikut kami ke Jakarta, kalau ibu tidak kerasan, nantinkita diskusiin bagaimana baiknya." Bian meraih tangan Sekar dan menggenggamnya. "Aku ingin nyaman."
Sekar mengangguk setuju, kemudian mereka masuk ke mobil yang mengantarkan mereka menuju lapangan helipad. Annisa sudah pernah mendengar dari kakaknya jika Bian mampu menerbangkan helikopter, namun ia tak sepenuhnya percaya sampai hari ini baru ia melihatnya secara langsung.
"Apa kau takut sayang?" tanya Bian.
Annisa menggeleng. "Tidak sama sekali, asalakan bersama mas Imam."
__ADS_1
Bian tersenyum akhirnya ia menginformasikan pada petugas Air Traffic Controlle, bahwa helikopternya siap take off, keemudian Bian membawa Annisa dan ibundanya terbang.