
Setibanya di rumah, Annisa di sabut dengan wajah penasaran sekaligus tidak sabar oleh ibundanya, Maria dan juga Widya yang baru saja datang ke rumah Annisa. Widya sendiri datang ke rumah Annisa untuk meminta tanda tangan cek untuk gaji karyawan bulan ini, namun begitu Widya datang, Sekar menyambutnya dengan sangat hangat, ia mengucapkan selamat telah menerima ta'aruf putranya, dalam waktu dekat ini Sekar berserta keluarga akan datang ke kediaman Widya untuk melamar Widya secara resmi, tak lupa Sekar juga bercerita jika kini Annisa tengah mengandung.
"Jadi bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Sekar tidak sabar.
Annisa mengajak ibundanya, Widya, dan Maria ke ruang keluarga untuk menceritakan hasil pemeriksaan kandungannya, sementara Bian langsung ke dapur membuatkan puding susu untuk istrinya. "Aku ke dapur ya," Bian mengecup kepala Annisa, kemudian ia berjalan ke dapur sembari menggulung lengan kemejanya.
"Terima kasih ya mas," ucap Annisa, kemudian ia duduk di antara ibundanya, dan juga Widya, sedangkan Maria duduk tepat di bawah Annisa. Padahal Annisa sudah meminta Maria duduk di sofa bersamanya, namun Maria menolak.
"Baru dua minggu, masih kecil sekali." Annisa mengeluarkan hasil USG dari dalam tasnya, ia menjelaskan bahwa bayi dalam kandungannya sangat sehat dan tidak ada masalah apa pun.
"Wahh... Ini di buat di mana Nis? Belanda atau Paris?" tanya Widya. "Belum ada saja sudah menjadi bayi mahal," ucapnya sembari tertawa.
"Apaan sih mba Widya," Annisa tersipu malu, dalam benaknya Annisa berpikir jika bayinya di buat di Swis saat badai salju menerpa negara itu, sehingga ia dan Bian seharian terjebak di kamar hotel, tak bisa kemana-mana. Di tengah suasana dingin itu, mereka menghabiskan waktu seharian untuk membuat kamar terasa hangat.
"Hayooo pasti lagi bayangin yang kemari bulan madu," goda Widya, ketika melihat Annisa senyum-senyum malu.
"Iih mba Widya," Annisa semakin malu di buatnya, kemudian ia mengalihkan topik agar wajahnya tak memerah lagi karena mengingat kejadian panas saat itu. "Selamat juga ya untuk mba Widya dan mas Fahri. Aku senang sekali karena sebentar lagi kita akan menjadi saudara sesungguhnya." Annisa memeluk Widya dengan hangat. "Ayo ceritakan bagaimana mas Fahri melamar mba Widya?"
__ADS_1
Widya tersipu malu, ia menggelengkan kepalanya. "Maaf, sepertinya lain kali saja aku berceritanya, sebab aku ingin melaporkan hasil penjualan kemarin dan meminta tanda tangan untuk gaji karyawan besok," ucap Widya.
"Kalau begitu kita bahas di ruang kerjaku saja ya," Annisa pamit kepada inundanya dan juga kepada Maria untuk ke ruang kerja, membahas pekerjaan.
Sekar mempersilahkannya, ia juga sebetulnya masih ingin merawat bunga-bunganya di taman belakang bersama Maria. "Ayo Maria," ajak Sekar, ia dan Annisa sangat dekat dengan Maria, hingga menggap Maria bagian dari keluarga, meski mereka berbeda keyakinan dengan Maria.
Dari dapur, Bian melihat istrinya dan Widya berjalan menuju ruang kerja. Sesampainya di ruang kerja Annisa justruntak ingin membahas masalah pekerjaan, ia langsung menandatangani cek untuk gaji karyawan, kemudian mengembalikannya kepada Widya. "Ayo ceritakan bagaimana kakaku melamarmu?" tanyanya dengan tidak sabar. "Aku sungguh penasaran sebab dia tak pernah jatuh cinta dengan seorang wanita."
"Benarkah?" tanya Widya terkejut.
Annisa mengangguk. "Lulus SMA, mas Fahri merantau ke Jakarta untuk kuliah dan mencari nafkah. Selama bertahun-tahun ia bekerja keras untuk membiayai kuliahnya dan membiayai kehidupanku dan ibu di kampung. Setelah lulus kuliah, barulah mas Fahri mulai bisa sedikit demi sedikit menyisihkan sebagian penghasilannya untuk di tabung, namun kemudian cobaan kembali datang menghampiri keluarga kami. Ibu terkena serangan jantung, mas Fahri menggunakan semua uang tabungannya untuk biaya oengobatan ibu, dan ia juga sempat mengambil uang kas The Moge." Annisa menceritakan bagaimana kakaknya terpaksa menggunakan uang kas tersebut, hingga Bian datang ke Jogja untuk mencarinya.
Widya mengangguk setuju. "Iya, aku percaya itu, maka dari itu aku menerimanya." secara singkat Widya menceritakan soal kedatangan Fahri ke kostannya untuk menemui dirinya dan Eric.
"Awalnya aku sempat terkejut, tapi aku juga senang karena sudah lama aku menyukainya," ucap Widya.
Mata Annisa langsung berbinar-binar, ia tak menyangka jika ternyata selama ini Widya pun menaruh hati pada kakanya. "Kenapa mba Widya tidak cerita kepadku?"
__ADS_1
Widya menggeleng. "Bukankah kamu pernah bilang, jika seorang wanita menyukai seorang pria bukan dengan mendekati pria itu, melaikan mendekati penciptanya? Seperti Zulaikha yang mengejar cintanya Allah, maka Allah datangkan Yusuf padanya. Lagi pula aku tidak ingin mengganggu pertemanan kita, jika ternyata kakakmu tidak menyukaiku."
Aanisa semakin terharu dan kagum pada Widya, sejak Widya mengantarnya ke kampus untuk daftar kuliah. Widya tidak melepas hijabnya, ia langsung mantap mengenakan hijab dan kini Annisa melihat jika Widya semakin memperdalam ilmu agamanya.
"Kedatangan mas Fahri yang pertama untuk mengajakku ta'aruf, dia hanya mengobrol panjang dengan Eric, namun kedatangannya yang kedua barulah Eric mempersilahkanku untuk memberikan jawaban, dan aku menjawab iya setelah aku mengajukan beberapa syarat untuknya."
Annisa mengangguk mengerti, ia pun dulu mengajukan beberapa syarat kepada Bian sebelum menerima lamaran Bian. "Tidak apa-apa, itu adalah hak kita sebagai wanita," ucap Annisa, lebih jauh ia mengatakan bahwa keluarganya akan datang untuk melamarnya secara resmi. "Nanti sore mas Fahri akan kemari, untuk membicarakan ini."
"Iya Nis, mas Fahrimjuga bicara seperti itu." Widya melihat jam di tangannya sudah hampir lewat tengah hari. "Maaf ya Niss, aku tidak bisa lama-lama. Aku harus segera mencairkan ini agar besok gaji mereka tidak terlambat."
"Iya mba, sekali lagi selamat ya." Annisa memeluk Widya dengan hangat. "Maaf aku tidak bisa mengantar ke depan, dokter bilang aku harus banyak istirahat."
Widya menggeleng. "Tidak apa-apa Nis, yang terpenting kamu dan bayimu." ia mengelus perut Annisa dengan lembut. "Aku sudah tidak sabar melihat keponakanku lahir."
"Aku juga tidak sabar melihatmu menikah dengan kakakku." keduanya tertawa dan akhirnya Widya pergi meninggalkan ruang kerja Annisa.
Annisa memang tidak mengantar Widya sampai ke teras, namun ia memperhatikan Widya dari balkon kamarnya. Annisa terkejut saat suaminya tiba-tiba saja datang menghampiri Widya dan langsung menutup pintu mobil yang hendak di buka oleh Widya.
__ADS_1
Bian terlihat memberik kode kepada Widya ke arah taman yang ada di depan kediamannya, entah apa yang di bicarakan mereka berdua, yang jelas wajah Bian terlihat serius, dan Annisa cemburu melihat itu.