
Jelas tak segampang itu bagi Bian untuk mempercayai kata-kata ibundanya. Ia terus mendesak ibundanya untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Baiklah," Claire menyerah, ia tahu Bian tidak akan melepaskannya sebelum ia mendapatkan jawaban yang memuaskan. "Ini karena ayah tirimu, untuk itulah mama mengajak kedua adikmu tinggal di Belanda. Jadi biarkan kami pergi, Bian."
"Tidak!! Mama tidak boleh pergi, sebelum kita menyelesaikan masalah ini sekarang juga!" ucap Bian dengan tegas, ia beralih ke istrinya. "Sayang, tolong bawa Kylie dan Farel pulang, aku ingin menemani mama membuat laporan ke kepolisian."
"Tidak Bian, mama tidak ingin membawa masalah ini ke jalur hukum, mama ingin pulang saja ke Belanda," tolak Claire.
Rasanya tak ada anak di dunia ini yang ingin melihat ibunya terus-menerus di sakiti oleh seorang pria yang berstatus suaminya, untuk itu Bian tak menghiraukan penolakan ibundanya, ia tak peduli Claire memberontak dan menolak permintaannya, ia tetap menarik Claire keluar dari bandara.
"Hana, tolong kamu bawa koper-koper mama ya," perintah Annisa, kemudian ia merangkul Kylie dan Farel di sisi kiri dan kanannya. "Ikut kakak pulangnya," ucap Annisa kepada keduanya.
Kylie dan Farel menurut, tanpa bertanya mereka ikut Annisa ke kediamannya.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu di sepanjang jalan menuju kantor polisi, Bian dan ibundanya terus berdebat. Claire bersikeras tak ingin membawa masalah rumah tangganya ke jalur hukum. "Bian, mama tidak mungkin melaporkan ayah dari adik-adikmu. Kylie dan Farel pasti akan kecewa pada mama, mama mohon biarkan mama dan adik-adikmu pergi ke Belanda." Claire terus memohon pada purta sulungnya.
Bian menepikan kendaraannya di pinggir jalan, kemudian ia menatap Claire dalam-dalam. "Aku pikir selama ini mama hidup bahagia bersama keluarga baru mama, sehingga mama ingin membuang masa lalu mama yang menyakitkan bersama ayah dan juga melupakanku."
Claire menggelengkan kepalanya, ia menatap Bian dengan penuh kerinduan dan kesedihan, ia membelai lembut wajah putra sulungnya yang telah menjadi dewasa tanpa kehadirannya. "Tidak nak, tidak ada sehari pun mama tidak memikirkan kamu." buliran-buliran bening mengalir deras dari mata Claire.
"Lalu mengapa mama meninggalkanku? Mama seolah tak menginginkanku lagi, berulang kali aku datang ke rumah mama, mama tidak mau menemuiku, mama juga tidak mau membalas DM Instagram-ku."
"Mama terpaksa melakukannya karena saat itu mama tidak punya uang untuk memberikan kehidupan yang layak untukmu, hidupmu akan terjamin jika kau tinggal bersama ayahmu, ayahmu bisa memberikan apa pun yang kau inginkan." tangan Claire turun, menggenggam tangan Bian.
Ia mulai menceritakan pertemuannya dengan Rudy, ayah dari Kylie dan Farel. "Dialah yang memberi mama tempat tinggal dan membantu mama mengurus visa, agar mama bisa tetap tinggal di Indonesia, agar mama bisa tetap memantaumu meski kita tidak serumah lagi. Dia berjanji akan membantu mama mendapatkan hak asuh dirimu jika mama mau menikah dengannya, tapi setelah menikah janji itu hanyalah tinggal janji, dia bahkan mengurung mama, menutup semua akses komunikasi mama dengan siapa pun. Mama tidak pernah tahu kau datang ke rumah, dan soal DM itu, bagaimana mama bisa membalasnya, mama saja tidak pernah pegang handphone, kemungkinan dia yang membuat akun instagram atas nama mama."
"Mama yang seharusnya minta maaf karena tadi mama membentak istrimu, sungguh mama tak bermaksud seperti itu. Mama tak mau kamu melihat mama dalam kondisi seperti ini, mama tak ingin membuatmu susah nak. Biarkan mama menyelesaikan masalah ini dengan pergi ke Amsterdam."
Bian menggelengkan kepalanya. "Tidak, mama tidak boleh pergi ke Amsterdam sebelum mama melaporkan pria brengsek itu ke polisi."
__ADS_1
Claire melepaskan pelukan putra sulungnya. "Kamu tahu, mengapa dulu mama juga tidak melaporkan ayahmu? Karena mama tidak ingin anak mama memiliki ayah seorang narapida yang di laporkan oleh ibunya sendiri. Dan itu juga yang sekarang mama rasakan, mama tidak ingin Kylie dan Farel memiliki ayah seorang napi."
"Aku pernah ada di posisi mereka mah, seandainya dulu aku punya kekuatan untuk melaporkan ayah sudah pasti akan aku lakukan. Tidak ada anak yang ingin melihat ibunya di sakiti, jadi aku yakin Kylie dan Farel akan mengerti." ia terus membujuk ibundanya agar mau melaporkan tidak KDRT yang di lakukan oleh suaminya.
"Nak, kau tidak kenal dengan Rudi. Kalau sampai dia tahu, dia akan mengambil Kylie dan Farel. Rudi akan menyakiti mereka berdua."
"Tinggal-lah bersamaku," pinta Bian. "Aku akan melindungi mama dan juga Kylie dan Farel."
Claire menggelengkan kepalanya. "Mama tidak ingin merepotkanmu, nak. Terlebih Kylie dan Farel bukan adik kandungmu, kamu tidak ada kewajiban terhadap mereka. Biarkan mama pergi dan menyelesaikan masalah ini sendiri, kau fokuslah pada keluarga kecilmu."
Bian menghembuskan napas beratnya. "Pada trimester awal kehamilan Annisa, tubuh Annisa begitu ringkih, ia sering kali mengalami mual dan pusing hingga tak bisa beraktivitas. Dan setiap kali itu terjadi, aku selalu memikirkan mama, apa saat mama mengandungku, aku merepotkanmu? Membuatmu mual dan tidak enak badan?" ia menatap Claire dalam. "Izinkan aku berbakti padamu mah, izinkan aku membalas semua yang pernah mama berikan padaku, walaupun aku tahu sampai mati pun aku tidak akan pernah mampu membalasnya. Aku mohon tinggal-lah bersamaku, aku yakin Annisa pasti senang jika mama tinggal bersama kami," pinta Bian dengan penuh harap.
Melihat mata Bian penuh harap, akhirnya Claire pun luluh. Ia mengabulkan permintaan putranya untuk tingga dengannya sementara waktu, namun ia belum meng-iya-kan mengenai pelaporannya terhadap Rudi atas tidak pidana KDRT yang di lakuka Rudi padanya.
Meski belum 100% puas sebab mamanya belum mau melaporkan Rudi namun Bian senang akhirnya mamanya mau tinggal bersamanya. Bian kembali melajukan kendaraannya menuju kediamannya.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju kediamannya, Bian sedikit penasaran mengapa suami ibunya tega menyakiti istrinya sendiri.
Claire mengangkat bahunya, ia juga tak mengerti mengapa Rudi melakukan hal itu. "Tapi yang jelas setiap kami ribut atau dia sedang mabuk, dia pasti memukul mama," jawab Claire.