
LIMA TAHUN KEMUDIAN
"Shadaqallahul adzim," ucap Adam, seorang bocah berusia empat tahun yang baru saja mengakhiri setoran hafalan Al-qur'annya.
"Minggu depan, lanjut Al Lail ya, nak," ucap Bian pada putra sulungnya. Sejak Adam genap berusia dua tahun, Bian sudah menerapkan peraturan wajib hafalan Al-qur'an setiap hari minggu sore setelah Ashar.
"Baik Abi," jawab Adam. "Abi, kenapa sih kita harus hafal Al-qur'an?" tanya bocah itu penasaran.
Bian tersenyum, ia senang putra sulungnya memiliki rasa penasaran yang tinggi. "Al-qur'an merupakan pedoman hidup setiap muslim. Oleh karena itu Al Quran harus senantiasa dibaca, dipelajari, difahami maknanya dan dijadikan dasar dalam kehidupan sehari-hari," terang Bian. "Contohnya, misalnya mas Adam mau pergi ke suatu tempat tanpa petunjuk apa pun, apa mas Adam bisa sampai ke tujuan?"
Adam menggelengkan kepalanya.
"Untuk itulah Allah SWT, menurunkan Al-qur'an untuk petunjuk kehidupan kita sehari-hari agar kita tidak tersesat. Dan jika kita menghafalkannya kita akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam pandangan Allah SWT, serta lebih utama jadi imam salat, untuk itulah Abi mewajibkan kalian untuk menghafalkan Al-qur'an."
"Tapikan aku perempuan Abi, enggak bisa jadi imam shalat," sahut Hawa, putri ke duanya yang usianya kini menginjak dua tahun, ia duduk di belakang kakaknya.
"Perempuan bisa jadi imam juga, jika makmumnya perempuan juga. Tapi yang pasti suatu saat mba Hawa akan menjadi ibu, madrasah pertama bagi anak-anak mba Hawa, sepperti umi, jadi mba Hawa pun harus hafal."
"Tapi sekarang umi enggak ngajarin Hawa ngaji, umi juga enggak shalat."
Dari seberang mushola, tepatnya di ruang makan Sekar dan Annisa yang tengah menyusui anak ketiganya, tersenyum mendengarkan percakapan Bian dengan kedua anaknya. "Lihat tuh, anak-anakmu terus mencecar bapaknya. Dua anak itu mirip sekali denganmu dulu waktu masih kecil, rasa ingin tahunya tinggi."
"Alhamdulillah, Bu. Aku sangat bersyukur memiliki mereka, aku juga besyukur memiliki suami yang selalu bisa menjawab setiap pertanyaan anak-anak." Annisa memandang penuh kekaguman pada suaminya.
"Ada lima golongan yang tidak di wajibkan untuk shalat.1. Bukan beragama islam, 2. Tidak berakal sehat, 3. Belum memasuki usia dewasa (Baligh), 4. Haid atau nifas, dan yang ke 5. Belum menerima syiar islam. Sementara umi berada di golongan yang ke empat, yaitu nifas. Nifas adalah darah yang keluar dari rahim yang terjadi pada perempuan yang baru saja melahirkan. Jadi selama masa nifas, umi atau semua perempuan dilarang untuk salat dan puasa," terang Bian.
Adam dan Hawa mengangguk paham dengan penjelasan yang di sampaikan abinya. "Okay, kita lanjutkan lagi hapalannya." Bian meminta Hawa untuk dudk di hadapannya, dan Adam beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau ke adek Aisyah dulu ya, bi." Adam mencium tangan Bian lalu ia memberikan semangat kepada Hawa sebelum ia meninggalkan mushola.
Hawa hanya mendongak sesaat menatap kakaknya, tapi kemudian ia menunduk tak berani menatap abinya. "Loh kenapa diam saja? Ayo sini dekat abi, lafalkan surat Al-Lahabnya!" perintah Bian dengan lembut.
Perlahan Hawa mendekat ke arah Bian, wajahnya masih tertunduk. "Maaf abi, aku belum hafal," ucapnya dengan nada gemetar ketakutan.
Bian tersenyum mendengar kejujuran dari putrinya. "Padahal seminggu ini aku sudah menghapalkannya tapi dua ayat terakhir sulit sekali di ingat hikss..." buliran-buliran bening mukai jatuh di pipi bocah kecil berusia dua setengah tahun itu.
__ADS_1
"Duduk sini sama abi," pinta Bian sembari menepuk pahanya. Hawa beranjak dari tempat duduknya dan berhambur memeluk abinya. Bian tahu bagaimana usaha putri kecilnya dalam menghapal selama satu minggu ini, ia juga tahu betapa keistimewaan yang di miliki putrinya dalam berhitung di bandingkan dengan menghapal sehingga ia sama sekali tak marah pada Hawa.
Bian mengelus kepala Hawa dengan lembut. "Mba Hawa kenapa nangis? Kan abi tidak marah," ucap Bian.
"Kata abi, jika kita menghafalkannya kita akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam pandangan Allah SWT, Hawa enggak hafal, berarti Hawa tidak mendapatkan kedudukan yang tinggi di mata Allah," ucapnya sedih.
"Sayang, Allah tahu dan akan selalu menghargai usaha setiap hambanya yang bersungguh-sungguh. Jadi mba Hawa tidak perlu sedih, kita hapalin sama-sama ya, abi bantu." Bian mengapus air mata Hawa yang membasahi wajah mungilnya.
Hawa mulai tersenyum kembali, kemudian ia menganggukan kepalanya. "Ayo baca Ta'awuznya dulu," perintah Bian. Dengan di bimbing oleh Bian, akhirnya Hawa bisa menyelesaikan hapalan surat Al-Lahabnya. "Minggu depan masih di sempurnakan lagi, enggak apa-apa kan?"
"Enggak apa-apa abi, terima kasih." Hawa kemudian mengecup pipi abinya.
"Sama-sama sayang, kita nyusul mas Adam ke adek yuk." Bian menggendong Hawa, kembali masuk ke kediamannya.
Bian agak sedikit bingung mengapa mendadak kediamannya terlihat sepi. "Umi, mas Adam dan yang lainnya kemana ya? Kok sepi?" tanya Bian, ia terus masuk lebih dalam ke arah ruang makan dan ia melihat Adam memegang kue ulang tahun di ikuti oleh Annisa serta semua anggota keluarganya, termasuk Claire dan kedua adik tirinya, serta Fahri berserta keluarga kecilnya, dan nampak juga Eric bersama istrinya yang baru ia nikahi setahun lalu yang kini sedang berbadan dua.
"SELAMAT ULANG TAHUN, ABI IMAM," ucap mereka serempak.
"Selamat ulang tahun, abi," Hawa yang masih di gendongan Bian mengecup pipi abinya.
Bian kemudian mendapatkan kado dan ucapan selamat dari keluarganya. Annisa sengaja mengundang semua keluarganya untuk makan bersama di kediamannya sebab ia belum bisa berpegian, tak lupa Annisa juga mengundang chef restoran bintang lima untuk masak menu special di hari ulang tahun suaminya.
"Minta perhatiannya sebentar," ucap Fahri ketika mereka tengah asik berbincang sembari menikmati hidangan yang mulai di sajikan oleh chef dan timnya. Semua mata tertuju pada Fahri. "Insyaallah, minggu depan aku dan Widya akan mengadakan pengajian sekaligus syukuran di rumah baru kami. Aku harap semuanya bisa hadir."
Setelah lima tahun ia dan istrinya berkerja keras, akhirnya rumah impian mereka rampung juga. "Congraz ya Fah," ucap Bian memberikan selamat, di susul dengan ucapan selamat dari keluarga yang lainnya.
Selesai acara makan-makan, para ibu-ibu membahas bisnis yang baru saja mereka luncurkan. Claire, Annisa, Widya, Sekar Kylie, dan Karin, istri Eric. Bekerja sama membuka Clothing line, pakaian muslimah.
Claire dan juga Sekar yang ternyata memiliki bakat mendesign pakaiannya menuangkan ide kreatif mereka. Mereka berdua berkolaborasi membuat produk dengan nuansa Jawa dan tradisional Belanda, sehingga menciptakan produk yang sangat unik dan sangat menarik.
Sementara Widya, Annisa dan Karin berperan mengurus segala sesuatunya mulai dari produksi hingga pemasaran. Dan untuk Kylie sendiri, gadis yang kini menginjak remaja yang memiliki paras cantik, di dapuk sebagai BA dari produk busana muslim tersebut.
Sementara itu para bapak-bapak mengobrol santai di taman sembari mengamati anak-anak mereka bermain, di temani oleh Farel yang menjadi idola anak-anak sebab memiliki suara yang sangat indah sehingga tak jarang anak-anak minta di bacakan dongeng atau mengajak Farel bernyanyi.
__ADS_1
"Bian, thanks ya meja makan yang kemaren loe kirim. Sesuai dengan yang Widya mau," ucap Fahri. Bian menghadiahi satu set meja makan untuk rumah baru Fahri dan Widya.
Bian mengangguk. "Sebenernya, beberapa hari sebelum gue beli, gue sempet mampir ke rumah loe buat nyocokin meja makan apa yang cocok untuk ruang makan loe. Rumah loe keren banget Fah," puji Bian kagum.
"Perjuangan sama Widya selama lima tahun, strugle di kostan sempit demi mewujudkan rumah impian kita," ucap Fahri, pandangannya tertuju pada pintu kaca kediaman Bian, dimana ia bisa melihat istrinya yang berdiri di belakang ibundanya. Widaya ngobrol sembari mengalungkan tangannya di leher Sekar, terlihat sekali bagaimana kedelatan antara menantu dan mertua itu.
"Setelah lima tahun melewati roller coaster kehidupan bersamanya, gue semakin sayang sama Widya," ucap Fahri.
Bian dan Eric mengangguk setuju, mereka berdua pun merasakan hal yang sama terhadap istri mereka. "Karena istri selalu mengembalikan lebih, dari apa yang kita beri," ucap Bian.
"Sebetulnya kesempatan mendua dan wanita yang datang menawarkan kenikmatan itu banyak sekali, tapi gue enggak mau mengorbankan kebahagiaan yang udah gue dapetin bersama Karin demi kenikmatan sesaat," Eric berkomentar.
Bian menepuk bahu Eric. "Loe, kalau sampe ngeduain Karin. Loe bukan hanya kehilangan bini loe tapi juga anak loe dan keluarga. Loe tahu kan gimana sayangnya Widya sama Karin? Loe bakal kehilangan kakak loe juga."
"Enggak cuma itu," sambung Fahri. "Tapi juga rezeki, karena apa yang kita dapat, itu ada doa dari istri. Jadi enggak usah macem-macem lah, kalau bosan ganti suasana bukan ganti istri. Tuh kaya si Bian, ngumpulin semua keluarga di rumahnya tau-tau dia sama Nissa ke Bali, babymoon."
Bian tertawa mengingat hal itu, ia meminta mama dan adik-adiknya menginap di rumahnya, untuk menemani Adam dan Hawa sementara dirinya seharian di Bali bersama Annisa untuk babymoon anak ke tiganya. "Sekali-kali quality time juga penting buat menambah keharmonisan," ucapnya sembari tertawa.
Pukul 20.30 mereka kembali ke kediaman masing-masing. Ketiga anak-anak Bian pun sudah tertidur di kamar mereka masing-masing, hanya Aisyah yang masih tidur dengannya dan Annisa.
Annisa mendekat ke arah Bian yang tengah memberikan kecupan selamat tidur pada Aisyah, Annisa mengukurkan paper bag berisi jam tangan sebagai hadiah untuk suaminya. "Maaf haanya ini yang bisa aku berikan," ucap Annisa pada suaminya.
"Terima kasih sayang," Bian tersenyum menerimanya, ia menarik pinggang Annisa merapat ke tubuhnya. "Aku sudah mendapatkan hadiah teridah dalam hidupku, Allah sudah menitipkan istri yang luar biasa yang telah memberiku banyak kebahagiaan selama lima tahun pernikahan kita. Terima kasih sayangku, aku begitu mencintaimu," Bian memeluk Annisa dengan erat.
...****************...
Terima kasih telah membaca Road To Jogja sampai selesai, jangan lupa tinggalkan komentar kesan yang di dapat membaca 60 BAB Road To Jogja. 😊
Insyaallah besok akan ada novel baru yang berjudul The Sincerity Of Love, yang aku jamin lebih seru dari ini, jadi jangan lupa follow ya😚
Salam sayang
Irma
__ADS_1