
Setelah Bian pergi dari kediamannya, Annisa kembali menghampiri kakaknya yang baru saja masuk dan mengunci pintu depan. Anisa sendiri nampak heran mengapa kakaknya menguci pintu setelah Bian pergi. "Bukankah mas Fahri sudah mengganti uang kas yang mas pakai untuk biaya pengobatan ibu? Tumben sekali mas Imam kemari?" tanya Annisa menyelidik.
Fahri nampak gugup mendengar pernyataan Annisa. "Aku dan dia berteman baik cukup lama, jadi tentu saja banyak hal yang ingin kami bicara berdua secara langsung," elak Fahri, ia tak ingin Annisa sampai tahu maksud dan tujuan Bian datang ke kediamannya.
"Benarkah? Tapi kenapa ada ibu?" Annisa menoleh ke arah ibundanya yang masih duduk di ruang tamu, rasanya agak aneh jika membicarakan masalah club motor, ibunya juga ikut terlibat.
"Ibu juga ingin mengobrol dengan Bian, memangnya salah?" Fahri mengedipkan mata, memberi kode kepada ibundanya agar meng-iya-kan perkataannya.
"Ibu tadi hanya berterima kasih kepada Bian karena telah banyak membantu kita," ucap Sekar, ia memaklumi mengapa Fahri tak ingin Annisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sebenarnya Annisa masih belum puas dengan jawaban kakak dan ibunya, namun kemudian Fahri dengan cepat mengalihkan topik mengenai keberangkatannya ke Jakarta.
...****************...
Tak patah semangat, keesokan harinya Bian kembali datang kekediaman Fahri. Ia kembali meminta restu Fahri agar ia dapat menikahi Annisa. Fahri menoleh ke belakang, memastikan Annisa tidak mendengar percakapannya dengan Bian, sebab kebetulan hari ini Annisa tidak kemana-mana, ia seharian menjaga ibu yang kembali mengalami penurunan kesehatan dan membantu Fahri berkemas.
Fahri kembali menghadap Bian dan berkata. "Loe denger baik-baik!! Sampai kapan pun, gue tidak akan merestui bajingan macam loe menikahi adik gue!! Jadi lebih baik loe pergi dari rumah ini." Fahri buru-buru mengusir Bian agar Annisa tak mengetahui kedatangan Bian.
__ADS_1
"Gue enggak akan pergi sebelum gue berhasil dapetin Nissa," ucap Bian dengan tegas dan penuh keyakinan sembari menahan pintu yang akan di tutup oleh Fahri.
"Pergi kau bajingan, jangan pernah ganggu adikku!!" Fahri terus berusaha menutup pintu yang di tahan oleh Bian, namun seketika gerak tangannya terhenti saat suara Annisa menyusup di antara perdebatan dirinya dan Bian.
Fahri menoleh ke belakang, entah sejak kapan Annisa sudah ada di belakangnya. "Nissa.."
"Mas Fahri.... Apa yang mas Fahri lakukan pada mas Imam?" Annisa berjalan menghampiri kakanya.
"Masuk kau Annisa!!" Bentak Fahri. "Kau tidak perlu ikut campur dalam masalah ini!" ia menatap Annisa dengan tatapan yang tajam.
"Karena dia pria brengsek, yang hobby mabuk." teriak Fahri.
"Kalau mas Imam pria brengsek lantas mas Fahri apa? Bukankah mas satu genk dengan mas Imam? Bukankah mas Fahri juga seorang pemabuk? Aku tidak bodoh mas, aku pernah mencium bau alkohol di bajumu," ucap Annisa dengan suara yang bergetar marah.
"Tutup mulutmu Annisa!!" Emosi Fahri kian memuncak, hingga ia mengangkat tangannya dan hendak menampar Annisa, beruntung Bian langsung menangkap tangan Fahri sembari melirik ke arah pintu pembatas ruang tamu dan keluarga, di situ Bian melihat ibunda Annisa berjalan tertatih menuju ke arah mereka.
"Aku akan pergi, aku tidak akan mengganggu Annisa lagi, tapi tolong jangan sakiti dia!" Bian melepaskan tangan Fahri, kemudian ia pergi meninggalkan kediaman Fahri.
__ADS_1
"Mas Fahri jahat," Annisa berbalik, dan kemudian berlari masuk ke kamarnya, sesaat ia menghentikan langkahnya ketika ia berpapasan dengan ibundanya tanpa bicara sepatah kata pun ia kembali berlari menuju kamar dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Fahri mencoba mengejar adiknya. "Aku akan bicara dengannya baik-baik, ibu tak perlu khawatir," ucap Fahri ketika berhadapanndengan ibundanya, ia mengelus lengan ibundanya dengan lembut kemudian kembali mengejar Annisa.
Fahri mendekat ke arah tempat tidur Annisa. "Dek, maafin mas. Mas hampir saja kelepasan, karena kamu terus saja membatah perkataan mas. Mas janji tidak akan berbuat seperti itu lagi," perlahan Fahri duduk di pinggir tempat tidur Annisa. "Tapi percayalah dek, mas berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Mas tahu betul Bian hanya penasaran padamu, dia bukan pria baik-baik. Meski mas bukan pria yang baik, tapi mas pengen kamu dapat yang terbaik, mas punya janji ke almarhum bapak untuk menjagamu dan menikahkanmu dengan pria sholeh dan bertanggung jawab, dan itu tidak ada di Bian."
Fahri mengulurkan tangannya, ia mengelus kepala Annisa dengan lembut. "Tahun ini Azzam lulus dari Al-Azhar, Mesir. Mas sudah bicara dengan orang tuanya dan mereka setuju untuk menjodohkan putranya denganmu. Dia lahir dari keluarga yang jelas, berpendidikan, dan yang pasti sholeh. Kamu pasti akan bahagia dunia akhirat, jika menikah dengannya. Lupakan Bian, meski lahir dari keluarga kaya tapi keluarganya berantakan, selama berteman dengannya mas sama sekalintak pernah melihatnya shalat, kerjanya hanya mabuk dan main dengan wanita saja."
Dengan linangan air matanya, Annisa berbalik dan menatap Fahri. "Aku tidak mau menikah dengan pria yang pernah merendahkan dan menghina keluarga kita!!" ucap Annisa dengan tegas. "Apa mas lupa bagaimana mas Azzam dan keluarganya pernah menghina keluarga kita di depan umum saat arisan RT?"
"Dek, itu kejadian sudah lama sekali, aku bahkan masih sekolah. Sudahlah, semua orang punya khilafnya masing-masing, kini mereka baik kepada kita. Kemarin saja saat pulang ke Indonesia, dia menyempatkan dirinya menjenguk ibu," bela Fahri.
"Menjenguk? Menjenguk sambil bilang ibu tidak pantas terkena penyakit orang kaya?" Annisa tersenyum sinis. "Tidak mas, aku tidak akan pernah mau menikah dengannya. Aku lebih baik menikah dengan seorang brandalan yang berusaha memperbaiki dirinya dan tau bagaimana memuliakan orangtua."
Masih jelas dalam ingatan Annisa bagaimana prilaku Bian ketika bertemu dengan ibundanya ketika pamit dan mengantarnya kembali ke rumah sakit, dan ketika Bian menceritakan sedikit tentang ibunya, Annisa bisa merasakan Bian begitu menyayangi dan merindukan ibu kandungnya. Meski baru mengenalnya, dari sorot mata Bian terlihat ketulusan terpancar di sana, terlebih saat tadi Bian datang untuk meminta restu pada Fahri, Annisa hanya melihat adanya sorot mata keseriusan dan ketulusan, tak ada ragu dan main-main.
"Kau mengenalnya dua hari, tapi kau sudah banyak membantahku. Sampai kapanpu aku tidak akan memberikan restu kepadamu untuk menikah dengan bajingan itu," tak ingin berdebat lagi dengan adiknya, Fahri pun keluar dari kamar adiknya.
__ADS_1