Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 19


__ADS_3

Untuk menghilangkan rasa amarahnya terhadap ayahnya, Bian memutuskan untuk mengunjungi markas The Moge, setidaknya di sana ada anggota yang sedang berkumpul. Satu minggu terakhir ini markas selalu ramai, selain karena tempatnya yang memang nyaman, para anggotaThe Moge tengah sibuk menyiapkan touring mereka ke Bali.


Bian sendiri belum bisa memastikan apakah dirinya akan ikut atau tidak, terlebih kini ayahnya sedang sakit. Meski masih menyimpan kekecewaan pada ayah kandungnya, namun Bian berjanji pada dirinya sendiri, untuk rutin menjenguk ayahnya.


Sesampainya di markas, Bian di kejutkan dengan keberadaan Fahri di markas. Rupanya Fahri sudah datang tiga puluh menit yang lalu sebelum Bian tiba, ia cukup terkesan dengan markas baru The Moge, karena selain tempatnya yang strategis, nyaman untuk nongkrong, cafe tersebut menyediakan mushola yang cukup luas.


Fahri baru mengetahui ternyata Bian-lah yang membuat mushola tersebut, awalnya ia menduga jika Bian hanya ingin menarik simpatik dirinya agar memberikan restunya untuk menikahi Annisa, namun ternyata Bian membuat mushola tersebut sudah sejak di tetapkan cafe itu sebagai markas The Moge.


Salah seorang dari angbota The moge, ada yang bercerita tentang perubahan besar yang terjadi di diri Bian pasca kepulangannya dari Jogja. Bian terlihat lebih calm, lebih religius, hal ini terlihat setiap memasuki waktu shalat Bian selalu mengajak anggotanya yang beragama islam untuk shalat berjamaah bersamanya, dan perubahan besar lainnya adalah, kini Bian sudah tidak lagi minum minuman beralkohol, bahkan ia melarang adanya minuman beralkohol dalam markas, serta melarang adanya taruhan dalam bentuk apa pun.

__ADS_1


"Guys, kebetulan sekali ketua kita sudah datang. Gue minta perhatian kalian semua sebentar," ucap Fahri kepada seluruh anggota The Moge yang datang ke markas itu.


Semua mata tertuju pada Fahri, termasuk Bian yang baru saja tiba di sana. Mereka semua mendengarkan permintaan maaf Fahri secara langsung mengenai ia menggunakan uang kas The Moge tanpa izin, ia juga menjelaskan mengapa ia sampai melakukan hal tersebut. "Sebagai konsekuensi atas apa yang telah gue perbuat, gue bersedia mengundurkan diri dari jabatan sebagai bendahara sekaligus ke anggotaan The Moge. Lagi pula sekarang gue udah enggak punya motor gede lagi, jadi gue udah enggak pantas bergabung di sini," ucap Fahri.


Ya, sekarang Fahri hanya menggunakan motor bebek biasa. Uang hasil penjualan rumah pakdenya, hanya cukup untuk membayar uang kas The Moge yang di pakainya, sebagian ia berikan kepada pakdenya untuk modal menyewa rumah, dan sisanya ia berikan kepada ibundanya untuk pegangan sehari-hari.


Kini Fahri kembali merantau ke Jakarta, memulai kehiduapnnya dari 0 lagi. Tinggal di kostan sempit dan kemana-mana menggunakan motor bebek butut. Hidup bagaikan roda yang berputar, ia sama sekali tak menyesali kondisinya yang sekarang, yang terpenting baginya adalah ibundanya kembali sehat.


"Enggak ada yang boleh keluar dari The Moge, termasuk loe." Kata-kata Bian membuat langkah Fahri terhenti. "Apa lagi hanya karena loe sekarang enggak punya motor gede. Genk ini didirikan untuk saling membantu sesama anggota, kalo toh kemaren loe salah karena telah membawa uang kas The Moge tanpa izin, itu harusnya gue yang patut di salahkan. Gue yang bikin peraturan bahwa uang kas hanya di gunakan untuk kepantingan genk, harusnya uang kas itu juga bisa di gunakan untuk membantu semua anggota yang mengalami kesulitan."

__ADS_1


Bian berjalan mendekat ke arah Fahri, kemudian ia menepuk bahu Fahri dan berkata. "Welcome to The Moge," ia memeluk Fahri dengan hangat, bergantian dengan teman-teman lainnya, yang juga tidak memperbolehkan Fahri keluar dari keanggotaan The Moge.


Suasana semakin akrab ketika mereka kembali mengobrol dengan santai sembari menikmati sekaleng minuman soda. "Bagaimana pekerjaan baru loe?" tanya Bian, kemudian ia menyesap minuman sodanya.


"Masih adaptasi gue, tapi yang jelas tidak mudah karena ternyata perusahaan itu memiliki segudang masalah, gue rasa pekerja-pekerja lama yang bekerja di perusahaan itu membodohi pemiliknya, mereka semua bagai lintah yang merugikan perusahaan. Gue enggak tahu bagaimana nanti nasib perusahaan itu ke depannya, karena setahu gue sekarang pemiliknya sedang sakit," ucap Fahri.


Bian mengangkat bahunya. "Ya begitulah hidup, kadang orang terdekat yang justru menusuk kita. Kalau perusahaan itu bangkrut, loe kerja di kantor gue aja, gue lagi butuh product manager."


Fahri mencondongkan tubuhnya ke arah Bian, lalu berbisik. "Semua yang loe lakuin ke gue, bukan karena Annisa kan?" bisiknya.

__ADS_1


Bian tertawa sinis. "Business is business, gue bukan orang yang sepicik itu untuk mencampurkan urusan hati dengan masalah pekerjaan. Kalo toh anggota lain yang ada di posisi loe sekarang, gue pasti akan melakukan hal yang sama. Pertemanan kita tidak ada sangkut pautnya dengan Annisa." Bian beranjak dari tempat duduknya, ia memilih untuk pulang lebih dahulu dari teman-temannya yang masih ingin nongkrong, selain karena besok ada meeting penting bersama clientnya, ia juga enggan terus-menerus di kaitkan dengan Annisa, seolah dirinya seorang penyuap.


__ADS_2