
Dari informasi yang di sampaikan oleh orang suruhanya yang malacak siapa yang selama ini meneror istrinya, ternyata Margareth-lah yang selama ini mengirimi surat kaleng itu kepada Annisa, dengan motif agar cemburu dan melepaskan Bian.
Alih-alih melaporkan Margareth ke polisi atas teror yang di lakukan wanita itu, Annisa nampak santai menanggapinya, ia justru melarang Bian untuk membuat laporan ke polisi. "Kamu betul-betul yakin tidak mau melaporkan ibunya Caroline?"
Annisa menggeleng, kemudian ia menatap Bian dengan serius. "Tugas kuliahku banyak mas, belum lagi aku sedang mempersiapkan cabang baru D'soto di ruko dekat kampus, di tambah mas Fahri meminta bantuanku menyiapakan seserahan untuk Widya. Aku enggak punya waktu untuk bolak-balik ke kantor polisi, meskipun di tangani oleh pengacaramu, tetap saja aku harus ke sana memberikan kesaksian. Jadi biar-lah, selama tidak menyerangku secara fisik, diamkan saja. Nanti juga diam sendiri." Kesibukan Annisa yang begitu padat, membuatnya tak peduli akan teror yang di buat oleh Margareth.
Bian merengkuh Annisa dalam pelukannya, betapa beruntungnya ia memiliki istri yang memiliki pemikiran dewasa seperti Annisa. "Tadinya akuntakut kamunakan marah padaku," bisik Bian. "Aku tidak mau melihatmu sakit hati, apa lagi sampai marah padaku."
Annisa mendongak mentapa wajah suaminya. "Untuk apa aku merajuk pada sesuatu yang tak bisa mas ubah? Lebih baik aku merajuk karena mas lupa membuatkanku rujak mangga."
"Aduh maaf sayang aku kelupaan," ucap Bian sembari menepuk keningnya. Kebiasaan baru yang Bian rutin lakukan semenjak Annisa hamil adalah membuatkan rujak mangga setelah makan malam, namun malam ini Bian kelupaan sebab orang suruhannya menghubunginya soal teror yang di alamatkan kepada istrinya.
Bian mengecup kepala istrinya kemudian melepaskan pelukannya. "Kamu akan segeran mendapatkan rujak mangga paling enak di dunia, tunggu!" ia bergegas berlari ke dapur membuatkan rujak mangga special untuk istrinya tercinta.
Annisa tersenyum melihat tingkah suaminya, kemudian ia menyusul Bian ke dapur. "Kok kesini? Tunggu saja di kamar, nanti aku bawakan ke sana, sekalian sama susu hangatnya," ucap Bian ketika melihat istrinya mendekat ke arahnya.
"Aku mau menemani mas Imam," Annisa melingkarkan tangannya di pinggang Bian, rasa lelah seharian beraktivitas seketika ketika ia memeluk suaminya.
Bian tersenyum melihat tangan Annisa melingkar di pinggangnya, sekilas ia mengelus telapak tangan Annisa kemudian ia kembali mengulek bumbu rujak buatannya, ia selalu bersemangat menuruti ngidam istrinya.
__ADS_1
...****************...
Hari pernikahan Widya dan Fahri, tiba. Annisa di tugaskan menjadi pengiring pengantin yang akan menemani Widya ke venue setelah Fahri mengucapkan ijab kabul.
Bukan hanya Widya yang merasakan jantungnya berdegup kencang, Annisa pun merasakan hal yang sama, keringat dingin mulai membasahi tangannya. "Mba Wid, sepertiny jantungku hampir copot," Annisa meraih tangan Widya dan menaruhnya di dadanya.
"Kenapa jadi kamu yang lebih deg-gedan, Nis?" tanya Widya heran.
"Aku tak menyangka kau akan menikah dengan kakakku, kita akan menjadi saudara sungguhan," Annisa memeluk Widya dengan tulus.
Widya merasakan hal yang sama, ia tak menyangka jika bossnya, sebentar lagi akan menjadi adik iparnya. Tapi Annisa tak pernah bertingkah seperi bos kebanyakan, Annisa selalu memperlakukan semua pegawainya terlebih Widya sebagai temannya, Annisa terjun langsung dalam bisnisnya termasuk masuk ke dapur untuk memasak dan melayani pelanggan, karena itulah D'Soto kini kian maju.
"Hmm.." Sekar berdeham menghampiri anak dan calon menantunya. "Bagaimana perasaanmu, nak? Pasti deg-degan," ucapnya sembari duduk di samping Widya.
Sekar mengeluarkan sebuah gelang emas dari kotak perhiasan yang ada dalam tas yang ia kenakan. "Ini adalah gelang yang almarhum bapak berikan ketika meminang ibu. Sebetulnya ada satu set, cincin dan anting ibu kenakan, sedangkan kalung ibu berikan pada Nissa saat kemarin dia menikah, dan gelang ini... Ibu mau kau memakainya."
Annis melepaskan genggamannya dan memberikan tangan Widya pada ibundanya. "Terima kasih, telah bersedia menemani sisa usia putra sulung ibu." Sekar memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Widya. "Jangan ragu, untuk bercerita pada ibu jika rumah tanggamu ada masalah, terutama jika Fahri sampai berani menyakitimu karena jika sampai dia berani menyakitimu, sama artinya dia menyakiti ibu dan ibu merasa menjadi orangtua yang gagal dalam mendidik putranya."
Mendengar ucapan calon ibu mertuanya, membuat air mata Widya lolos begitu saja dari pelupuk matanya, ia langsung memeluk Sekar dengan erat. Selama ini ia mengira bahwa ibu mertua hanya akan sayang pada menantu pria terlebih jika sang menantu kaya raya, jadi Widya sama sekali tak kaget ketika Sekar memperlakukan Bian seperti anak kandungnya, karena tidak sekali dua kali Widya melihat keakraban antara Bian dan calon ibu mertuanya.
__ADS_1
Namun hari ini, anggapan itu sirna. Sekar tidak hanya menyayangi Bian yang memiliki harta berlimpah. Tapi juga dirinya, yang hanya bekerja pada putrinya dan ia tak memiliki apa-apa. Widya menangis sesegukan dalam pelukan Sekar, ia seperti merasakan kehangatan ibu kandungnya yang telah tiada.
"Nak, kenapa menangis? Nanti make-upmu luntur loh, sebentar lagi akad akan segera di mulai." Sekar mengelus punggung Widya dengan lembut, agar ia tenang setelah itu melepaskan pelukan Widya dan menghapus air matanya. "Ini hari specialmu, kamu harus cantik dan bahagia," Sekar tersenyum pada Widya.
"Bu, penghulunya sudah datang. Kita ke depan yuk!" ajak Bian, ia mengulurkan tangannya kepada ibu mertunya, Sekar pun beranjak dari tempat duduknya dan melingkarkan tangannya di lengan Bian. "Ibu ke depan dulu ya," ucap Sekar.
Bian mengedipkan mata genitnya kepada Annisa ketika ia melewati istrinya. "Nanti malam ya," ucapnya.
Annisa mengerutkan keningnya. "Mba Widya dan Mas Fahri yang menikah, kenapa mas Imam yang ngebet ngulang malam pertama? Padahal tiap malem juga berbuat," gumam Annisa, ia pura-pura tak mendengar dan memilih membantu Widya memperbaiki make-upnya.
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq," ucap Fahri dalam satu tarikan napasnya, saat ia menjabat tangan Eric dengan erat. Selanjutnya kata SAH berkumandang dari para saksi yang menghadiri acara akad nikah tersebut.
Annisa dan Widya saling berpelukan tak dapat menahan rasa haru dan bahagia mereka ketika mereka menyaksikan prosesi ijab kabul pada layar TV, yang terhubung dengan venue.
"Alhamdulillah," ucap Widya dan Annisa di barengi oleh Maria yang juga mengucapkan "ALHAMDULILLAH," dengan teriakan yang kencang.
Seketika Widya dan Annisa menoleh. "Maria, kamu sudah log in?" tanya Annisa heran.
"Astagfirullah, maksud saya puji tuhan bu," Maria buru-buru menutup mulutnya.
__ADS_1
Annisa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku asistennya. Setelah MC memanggil Widya keluar, Annisa pun menggandeng Widya keluar dari ruangan menuju venue.
Widya tak hentinya menebar senyum manisnya ke arah Fahri, sementara Annisa di balik cadarnya, ia pun tersenyum dan matanya tertuju pada Bian.