
Fahri lebih memilih untuk mengobati lukanya di taman rumah sakit ketimbang di IGD atau kamar rawat inap ibundanya, ia tak ingin membuat sang ibunda khawatir.
"Pelan-pelan dong, Dek. Sakit tau!!" protesnya ketika Annisa membersihkan lukanya.
"Ini sudah pelan-pelan mas, tahan sedikit," dengan telaten Annisa membersihkan dan mengobati luka di bibir kakaknya. "Lagian mas ini ngapain pake berantem segala sih? Di suruh jagain Ibu malah berantem di depan."
"Mereka bertiga adalah orang suruhan Pakde. Tadi malam saat mas mengutarakan niatan untuk menjual sawah bagian bapak, pakde berkelit dan tidak mau memberikan sertifikat tanah itu kepada mas, dan hari ini pakde malah menyuruh orang untuk menghabisi mas agar tidak lagi meminta bagian tanah bapak," terang Fahri, ia menatap Annisa lekat-lekat. "Mas minta, untuk sementara ini jangan beri tahu ibu tentang masalah ini, mas tidak ingin membuat ibu cemas karena nantinya akan mempengaruhi kondisi ibu."
Annisa mengangguk setuju. "Iya mas, aku mengerti."
"Paling tanahnya sudah di jual sama dia," celetuk Bian. Seketika Fahri dan Annisa menoleh ke arah Bian. "Maaf bukan bermaksud ikut campur, tapi logikanya kalau tidak ada apa-apa tentu dia tidak akan menyuruh orang untuk menghabisimu? Perbutan harta antar saudara sendiri udah jadi hal yang tak asing, apa lagi jika anggota keluarga tersebut sudah tidak ada. Menangani masalah ini harus pakai strategi, aku punya kenalan pengacara, kalian bisa memakai jasanya kalau kalian mau," Bian mencoba mengungkapkan gagasannya.
Fahri nampak berpikir sejenak, kemudian ia meminta adiknya untuk ke kamar rawat ibundanya, selain karena ibundanya sendirian, ada hal yang ingin Fahri bicarakan berdua dengan Bian.
"Ada masalah apa dengan genk kita?" tanya Fahri ketika Annisa sudah pergi.
"Markas kita di serang oleh kawanan genk motor lain, dalam kehadian itu Raka menjadi korban luka tembak. Untuk itulah kami berencana membeli senjata api, dengan menggunakan uang kas untuk membalas perbuatan mereka."
Fahri tertunduk, ia menyesal telah menggunakan uang kas The Moge untuk membayar pengobatan ibundanya. "Sorry Bi, gue baru bisa nyicil uang itu bulan depan, setelah gue kerja. Tadinya kalau tanah ini bisa gue jual, gue akan lunasin minggu-minggu ini."
__ADS_1
Bian menepuk bahu Fahri. "Santai aja, Fah. Setelah gue pikir-pikir enggak bagus juga kalau kekerasan di balas dengan kekerasan apa lagi kalau sampai beli senjata api ilegal, yang ada malah nambah masalah. Gue lagi pikirin jalan terbaik untuk genk kita. Bagaimana dengan tawaran gue tadi? Loe tertarik buat pake jasa temen gue?"
Fahri mengangguk setuju, ia pikir jika tidak pakai jasa pengacara maka pakdenya tidak akan memberikan hak ibundanya.
"Besok siang setelah meeting kita ketemuan buat bahas masalah ini, kalau perlu kita langsung samperin pakde loe di Solo, bagaimana?"
"Loe kabarin aja tempat ketemuannya."
Selesai ngobrop bersama Fahri, Bian menyusul Annisa ke ruang rawat inap untuk berpamitan. Ketika Bian mendekat ke arah tempat tidur Sekar, ia melihat Sekar tengah memegang rado kecil yang terlihat antik, namun nampaknya radio itu mengalami masalah. "Kenapa bu radionya?" tanya Bian.
"Entahlah, sudah tidak bunyi lagi, mungkin juga mesinnya sudah mati karena sudah tua," jawab Sekar. "Kamu baru datang? Kok enggak sama Nissa? Tadi pagi berangkat sama Nissa?"
"Tadi aku ngobrol dulu di depan sama Fahri," jawab Bian, ia kemudian mengurkan tangannya. "Boleh aku lihat radionya, bu? Barangkali aku bisa memperbaikinya."
Bian memeriksa radio tersebut dengan teliti. "Seharusnya bisa, jika aku bawa obengnya. Obengnya ada di hotel, bolehkah aku bawa ke hotel untuk memperbaikinya? Besok pagi akan bawa lagi kemari."
"Apa kamu mau kembali mengajak Nissa keluar? Jika itu alasannya, lebih baik radio itu tidak perlu di perbaiki," ucap Sekar dengan tegas.
Bian tersenyum menggelengkan kepalanya, ia sangat mengerti bahwa Annisa memang begitu berharga di keluarganya sehingga orangtua dan kakaknya tak mengizinkan sembarang orang jalan dengan Annisa. "Tidak bu, besok aku ada meeting jadi tidak bisa mengajak Nissa keluar. Lagi pula motor Nissa juga sudah beres, dia bisa bawa motor sendiri," Bian melirik ke arah Annisa.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu boleh membawa radio itu."
Bian mengulurkan tangannya dan mencium tangan Sekar. "Aku pamit dulu ya bu, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," ucap Annisa dan Sekar bersamaan, Bian tersenyum ketika ia melewati Annisa.
Diluar ruang rawat inap, secara tak sengaja Bian mendengar percakapan antara Fahri dan seorang dokter yang menanyakan mengenai obat yang belum juga di tebus oleh Fahri. "Obat itu sangat penting untuk ibu anda, saya harap bapak segera menebusnya," ucap sang dokter kepada Fahri.
Bian yang tak ingin terlibat dalam percakapan itu pun terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit, namun ketika ia melewati ruang administrasi, hatinya tergerak untuk mengetahui berapa tunggakan biaya rumah sakit yang belum Fahri bayar. Apakah sebesar itu? padahal Fahri sendiri sudah menjual motor nijanya.
Bian yang jarang berobat ke rumah sakit terkejut, ternyata biaya hampir berada di angka 1 miliar rupiah untuk tiga ring jantung serta perawatannya. Bian mengeluarkan kartu kreditnya dan membayar semua tunggakan yang belum Fahri bayarkan, ia juga memberikan deposit sebesar dua ratus juta untuk biaya pengobatan Sekar untuk beberapa hari ke depan.
Selesai urusan administrasi, Bian pun kembali ke hotel. Sebelum memperbaiki radio milik ibunda Annisa, Bian merogoh handphonenya yang sedari tadi bergetar di dalam sakunya. Caroline dan pengurus The Moge sudah sejak kemarin terus menghubungi Bian, namun Bian masih enggan untuk mengangkatnya.
"Apa loe sekongkol dengan Fahri? Sehingga kalian sama-sama melarikan diri dengan membawa uang kas itu?" tuduh Rangga dari seberang telepon.
Bian tertawa geli mendengar tuduhan yang di alamatkan padanya. "Loe enggak salah nuduh gue bawa lari duit receh? Hahaha..."
"Kalau loe enggak ikut terlibat dalam persekongkolan Fahri, loe seharusnya enggak ngilang gitu aja! di sini suasana genting, kawanan genk motor yang kemaren menyerang markas kita lagi, untungnya tidak ada anggota yang ke markas."
__ADS_1
Bian berdeham. "Untuk sementara biarkan markas kosong. Besok malam gue balik, kita diskusiin masalah ini setelah gue tiba di Jakarta!" Bian mematikan sambungan teleponnya, ada rasa kesal saat Rangga menuduhnya ikut membawa kabur uang kas The Moge. "Memangnya siapa juga yang doyan dengan duit receh?" gerutunya.
Malam itu Bian sengaja mematikan teleponnya, ia enggan berbicara dengan caroline yang terus menerornya, ia berencana bicara dengan Caroline setelah ia pulang ke Jakarta.