Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 22


__ADS_3

Seharian di temani oleh Bian, Annisa terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Wajahnya yang pucat di gantikan dengan senyum sungringah. Meskipu Bian di rumah sakit lebih banyak mengobrol soal pekerjaan bersama kakaknya.


"Fah, apa betul-betul tidak ada kesempatan untuk gue menikahi Annisa?" tanya Bian dengan serius, ia kembali menyinggung soal lamarannya. Karena jika memang kesempatan itu tak pernah, ia akan berhenti berharap dan menjauhi Annisa karena jika terus seperti ini bukan hanya menyakitinya namun juga menyakiti Annisa.


Fahri terdiam beberap saat, beberapa hari lalu ia sempat mengobrol dengan ibundanya mengenai hal ini. Pasca penolakan dirinya terhadap lamaran Bian membuat Annisa lebih banyak diam dan mengurung diri, dan lama-kelamaan Annisa jatuh sakit, tentu saja hal ini membuat Fahri dan ibunya cemas.


Tak bisa ia pungkiri bahwa kehadiran Bian memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Annisa, kebahagiaan yang belum pernah Fahri lihat sebelumnya, namun di satu sisi ia masih sangat ragu dengan Bian, meski Bian kini telah banyak berubah, akankah perubahan itu selamanya atau hanya sementara. Fahri takut Bian kembali seperti dulu, jika itu terjadi ketika setelah menikah dengan Annisa tentu bukan hanya menyakiti Annisa, namun ia gagal memilihkan pendamping terbaik untuk adiknya.


Jantung Annisa berdegup kencang menanti jawaban kakaknya, saking guvupnya, tanpa sadar ia merem*s jemarinya sendiri.


Fahri menatap Bian lekat-lekat, akhirnya ia membuka mulutnya. "Apa loe tahu, betapa berharganya Annisa dalam keluarga ini? Hingga bapak kami, betul-betul minta gue untuk mencarikan imam yang terbaik untuknya."


Bian mengangguk setuju. "Ya, Nissa memang wanita yang sangat istimewa, untuk itulah gue mau meminangnya."


"Gue perlu bukti, Bi," ucap Fahri. "Kalau loe mampu menghafal Al-Qur'an Juz 30, mulai dari An Naba’ hingga An Nas, loe boleh meminangnya. Gue kasih waktu satu minggu."


"Mas Fahri, itu ada 37 surat, mas. Mas Fahri tidak bisa hanya memberikan waktu satu minggu," protes Annisa.

__ADS_1


"Itu hanya surat pendek, Nis," jawab Fahri, ia beralih ke Bian. "Bukankah kau ingin menjadi imamnya? Pemimpin yang baik dalam rumah tangga itu tak sekedar hanya memberikan nafkah materi saja, tapi juga bisa menjadi imam shalat untuk istri dan anak-anaknya. Jika surat-surat pendek saja kau tak mampu menghafalnya, bagaimana kau bisa membimbing istri dan anak-anakmu kelak?"


Entah dari mana datangnya keberanian itu, padahal Bian sama sekali tak pandai mengaji, namun tanpa ragu ia langsung menyanggupi syarat yang berikan Fahri padanya. " Ya, gue setuju," ia mengulurkan tangannya ke arah Fahri.


Fahri menerima jabatan tangan Bian. "Minggu depan kita berkumpul lagi, ibu yang akan menilainya secara langsung," ia melirik kearah ibundanya.


Sekar mengangguk setuju. "Semoga Nissa sudah sehat, jadi kita bisa berkumpul di rumah," ucapnya.


Setelah menyetuju persyaratan yang diajukan oleh Fahri, Bian pamit kembali ke Jakarta. Dalam perjalanannya menuju rooftop, ia sempat menghubungi Widya, memintanya untuk mencarikan guru ngaji untuknya. "Aku tidak mau tahu pokoknya besok pagi, guru ngajiku sudah ada di ruanganku!!" perintahnya, lewat sambungan telepon.


"Oke terima kasih, Wid." Bian mematikan sambungan teleponnya dan bergegas berjalan menuju helikopternya.


Sementara itu di ruang rawat inap, Annisa masih tidak tenang memikirkan apakah Bian sanggup memenuhi persyaratan dari kakaknya. Di awal perkenalannya, ketika ia menawarinya menjadi imam shalat, namun Bian menolaknya. Sebenarnya Annisa tahu jika Bian tak pandai sahalat, karena diam-diam ia mengingip ketika Bian hendak wudhu, Bian nampak kebingungan, tapi Annisa percaya jika Bian akan berubah.


Sekar menggenggam tangan putri bungsunya. "Jangan khawatir, jika dia memang serius denganmu, dia akan berjuang. Percayalah nak, ini semua untuk kebaikanmu. Seperti yang di bicarakan kakakmu, tugas kepala keluarga itu bukan hanya memberi nafkah saja, tapi juga harus bisa membimbing istri dan anak-anaknya."


"Iya bu," ucap Annisa semabari mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah, istirahatlah, agar kamu lekas pulih dan minggu depan kita bisa berkumpul di rumah," Sekar menyelimuti putrinya dengan selimut pemberian dari Bian.


Selimut yang hangat, serta aroma minyak wangi yang khas yang biasa Bian gunakan melekat pada selimut itu, sehingga membuat Annisa tidur dengan nyaman.


...****************...


Pagi harinya, Widya melaksanakan tuganya dengan baik. Ia berhasil mendapatkan dan menghadirkan guru ngaji pria ke ruang kerja atasannya.


"Selama satu minggu ke depan, alihkan jadwal meetingku, setelah jam makan siang. Karena aku ingin menggunakan waktu pagiku untuk belajar mengaji," ucap Bian kepada Widya. Bian merasa otaknya dalam keadaan fresh dan ready ketika pagi hari, sehingga hal itu memberikan keuntungan baginya agar bisa dengan cepat menghafal.


"Baik, pak. Apa ada lagi?"


"Tidak ada, kau boleh keluar dari ruanganku dan pergi ke ruang HRD, karena tadi aku melihat cowok idamanmu sedang menggoda karyawan baru," ucap Bian tanpa basa-basi.


"Aku tidak peduli dengannya, permisi." Widya membungkukkan badannya kemudian ia keluar dari ruangan Bian, ia memilih untuk bermain games selama Bian belajar mengaji ketimbang menghampiri pria itu.


Bian tersenyum senang melihat respon Widya, akhirnya wanita itu sadar jika pria yang di kejarnya tak pernah menghargainya. Ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian menghampiri guru ngajinya yang sudah menunggunya di sofa.

__ADS_1


__ADS_2