
TIGA BULAN KEMUDIAN
Ketika Annisa tengah mengeprint tugas-tugas kuliahnya, matanya tertuju pada bangku kecil yang berada di sudut meja kerjanya. Bangku tersebut biasanya tempat Annisa meletakan surat-surat kaleng yang berisi foto-foto kenangan Caroline dan suaminya. Annisa mengumpukannya di situ sebelum akhirnya ia memberikannya kepada Maria untuk di bakar.
Namun sudah beberapa minggu, bangku itu terlihat kosong. Annisa sudah tak menerima surat kaleng dari Margareth lagi. Pandagan Annisa kembali bergeser ke arah handphonenya yang bergetar di meja, ia pun meraih dan mengangkatnya. "Assalamualaikum, Mba Wid," ucap Annisa.
"Walikumsalam, Niss," jawab Widya, suara Widya terdengar lemah hingga membuat Annisa cemas. "Mba Widya, sakit?"
"Entahlah Nis, yang jelas kepalaku pusing sekali, perutku terasa mual," jawabnya sembari menahan muntah. "Aku hanya ingin bilang, maaf. Karena aku tidak bisa ke D'Soto yang di bandara, aku benar-benar...."
Suara Widya tiba-tiba menjauh dari telepon, namun Annisa masih bisa mendengar jika Widya tengah muntah-muntah. Annisa langung mematika sambungan teleponnya, ia bergegas merapihkan tugas-tugas kuliahnya dan keluar dari ruang kejanya.
Annisa menghampiri ibundanya di taman belakang, ia pamit sekaligus mengatakan jika Widya sedang sakit. "Setahuku, mas Fahri sedang meeting bersama mas Imam dari pagi tadi," ucap Annisa. Chat terakhir yang Bian kirimkan situasi di dalam ruang meetingnya, di foto yang di kirmkan Bian terdapat kakaknya yang tengah presentasi.
"Berarti Widya sendirian di kostan?"
"Sepertinya," Annisa mengangkat bahunya.
"Kamu berangkat-lah, ibu mau membuat bubur untuk Widya," Sekar melepas sarung tangan berkebunnya. "Ibu akan jenguk kakak iparmu."
Annisa mengangguk setuju. "Jangan lupa bawakan test pack sekalian bu, karena aku curiga mba Wid hamil," ia meraih tangan Sekar dan menciumnya. "Assalamualaikum."
__ADS_1
"Walaiakumsalam," Sekar menjadi semakin bertambah semangat untuk datang ke kostan menantunya, ia berharap apa yang di katakan Annisa benar.
...****************...
Sementara itu, setelah mengumpulkan tugas kuliah. Annisa berniat mengunjungi ruko yang akan ia gunakan untuk membuka cabang D'Sotonya yang baru, namun agaknya untuk sampai ke sana Annisa harus bersabar sebab jalanan begitu macet.
"Ada apa ya Hana kok tumben macet parah begini?" tanya Annisa pada supirnya. Ya, sejak Annisa mengandung, Bian tak membolehkan istrinya nyetir sehingga ia mencarikan supir wanita untuk mengantar istrinya beraktivitas.
Sembari menunggu macet, Annisa menghubungi suaminya untuk memita izin mendatangi D'Soto cabang bandara, sebab pagi tadi sebelum berangkat, ia hanya izin ke kampus dan ruko baru yang akan di jadikan cabang baru D'Soto.
"Aku ingin melihat seberapa kerusakan microwave, kalau masih bisa di perbaiki aku akan menservisnya saja tak perlu di ganti. Sekalian training karyawan baru, mba Widya tak bisa datang karena sakit," terang Annisa via telepon.
"Boleh, tapi kamu jangan capek-capek ya. Nanti setelah meeting aku akan menjemputmu," jawab Bian. Bian sama sekali tak pernah membatasi kegiatan istrinya, ia selalu support apa pun yang Annisa kerjakan. Ia ingin Annisa berkembang dan mencoba banyak hal selagi masih muda.
Annisa mencoba menikmati kemacetan yang belum juga terurai dengan melihat pinggir jalan di sebelahnya sembari mendengarkan murottal dari mobilnya, untuk menstimulasi perkembangan janinnya, selain itu untuk menambah hafalan Al-Qur'annya.
Mobilnya perlahan bergerak, dari kejauhan ia melihat seorang ibu-ibu yang tengah duduk di pinggir jalan tanpa alas kaki dan berpakaian lusuh, ibu-ibu itu menangis meraung-raung di pinggir jalan. Annisa menyipitkan matanya untuk mmempertajam penglihatannya, sebab ia merasa tak asing dengan wanita tersebut. "Tak mungkin," gumamnya. Rasanya agak mustahil jika wanita tersebut merupakan ibunda Caroline, sebab dari yang ia lihat dulu saat Margareth ke rumahnya, wanita itu nampak mengenakan pakaian dan tas mewah. "Tidak mungkin, tapi....."
Annisa meminta supirnya untuk menepikan kendaraannya di depan wanita yang menangis itu, Hana sangat panik ketika melihat majikannya turun dari mobil. "Bu Nissa jangan, di depan masih ada demo!"
Tanpa menghiaukan larangan dari supirnya Annisa tetap turun dan menghampiri wanita itu, Annisa terdiam beberapa saat melihat wanita itu. Wanita itu benar-benar Margareth, ibunda Caroline tapi mengapa dia menangis meraung-raung di tepi jalan, dengan rasa penasaran Annisa pun menghampiri dan jongkok di depannya. "Ada apa bu?"tanyanya.
__ADS_1
"Warung kue saya di jarah oleh pendemo tadi," ia menunjuk kearah warung kecil yang berada di sebelahnya. "Saya tidak punya modal lagi untuk berjualan besok huhu..."
Annisa melihat warung itu nampak mengalami banyak kerusakan, di pintu maupun di dinding yang terbuat dari kayu, kemudian pandangannya beralih ke orang-orang di sekitar yang hanya menontonnya. Mungkin mereka takut pendemo akan datang lagi dan merusuh di tempat tadi atau memang enggan menolong pemilik warung yang membuka warungnya di pinggir jalan hingga kerap menimbulkan kemacetan.
"Boleh saya lihat ke dalam?" tanya Annisa, ia mengulurkan tangannya, membatu Margareth bangkit dari tanah.
Hana mendekat dan mencondongkan tubuhnya. "Ibu ayo masuk lagi ke mobil, ini bahaya kalau sampai pendemo itu balik lagi. Kita pergi saja dari sini, aku tahu jalan alternatifnya," bisik Hana, ketakutan.
"Sebentar ya," Annisa menggandeng Margareth masuk ke tokonya, di dalam kerusakan terlihat semakin parah. Etalase penyimpanan kue pun sudah pecah, jika di perbaiki sama artinya dengan membeli baru.
Annisa melihat di sudut etalase masih ada sepotong lapis legit yang tak terjam*h para pemdemo, kue itu begitu menggodanya, seolah kue itu memanggil dirinya. "Boleh saya cicipi kue itu?" pinta Annisa sembari mengelus perutnya.
Margareth melihat Annisa mengelus perutnya, meski Annisa memngenakan gamis longgar, namun Margaret tetap bisa melihat perut buncit Annisa. "Ambil-lah, percuma hanya tinggal sepotong," ucapnya pasrah.
Annisa tersenyum sumringah mendekati kue kapis legit yang memanggilnya, dengan hati-hati dan menghindari pecahan kaca etalase, Annisa berhasil mengambil kue itu. Dan... Annisa merasakan kue itu adalah kue lapis terenak yang pernah masuk ke mulutnya.
"Jika aku menawarkan kerja sama, apa ibu bersedia?"
Seketika Margareth mendongak menatap Annisa. "Kerja sama apa?"
"Ibu buatlah kue seperti biasanya ibu berjualan, nanti pagi aku akan jemput ibu di sini. Kita akan sama-sama ke ruko baru untuk menjual kue-kue ini." Annisa memberikan dua puluh lembar uang seratus ribuan kepada Margareth. "Warung ini mengganggu jalan, dari pada memperbaikinya lebih baik pindah di tempat yang lebih aman, insyaallah akan pembeli akan tetap ada, karena kita bisa berjualan secara online."
__ADS_1
Margareth menatap Annisa dalam-dalam. "Kau percaya padaku?"
Annisa mengangguk penuh keyakinan. "Aku tunggu besok jam 07.00 pagi di sini, permisi." Annisa pamit sebab dari tadi Hana sudah ribut memintanya kembali ke mobil.