Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 38


__ADS_3

Widya membawa Annisa kembali ke Jakarta, namun ia tak membawa Annisa kembali ke kediaman bosnya, melainkan ke sebuah restauran. "Mau apa kita ke sini?" tanya Annisa bingung.


"Sudah, ukhti diam saja. Tunggu sebentar!!" Widya malah sibuk dengan tabnya, ia bahkan sama sekali tak mengajak Annisa turun dari mobinya.


"Widya, sebenarnya ada apa? Mengapa kita hanya di parkiran?" Annisa semakin bingung di buatnya, sudah hampir tiga puluh menit ia di dalam mobil bersama Widya. "Lebih baik aku pulang, suamiku pasti menungguku di rumah." Annisa tak peduli ia tak tahu jalan, yang jelas ia tak mau hanya berdiam diri di dalam mobil Widya.


"Suamimu ada di sini," ia menunjukan tabnya yang baru saja terhubung pada kamera CCTV restoran. Dalam layar tab itu, nampak Bian berada di private room bersama seorang wanita. "Widya kau gila ya, membiarkan suamiku bersama wanita itu!!" Annisa sangat marah melihat suaminya bersama Caroline, ia hampir membuka pintu mobil, namun Widya dengan cepat mencegahnya.


"TENANG DULU!!! COBA DENGARKAN INI!!" Widya mengunci pintu mobilnya, kemudian mengencangkan volume suara tabnya.


"Caroline, kita sudah putus sejak enam bulan yang lalu, mengapa kau menggangguku?" Bian menatap tajam ke arah Caroline yang berada di hadapannya.


Tangan Caroline merayap memegang tangan Bian. "Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu sayang," matanya tertuju pada tangannya yang di tepis oleh Bian.


Hati Annisa semakin panas melihat Caroline menggoda suaminya. "Widya, please bukain pintunya, aku tidak bisa membiarkan suamiku di goda oleh wanita itu. Aku mohon Widya... Hiks..." Annisa menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Ukhti percayalah padaku, kita tunggu sebentar lagi ya," Widya mengelus lengan Annisa kemudian membawanya ke dalam pelukannya, ia mengerti sekali jika saat ini Annisa begitu cemburu dan marah melihat suaminya berduaan dengan mantan kekasihnya.


"Aku pernah mengandung anakmu sayang, bagaimana bisa kau mencampakan wanita yang pernah mengandung dan bersedia menggunggurkan kandungannya demi kamu. Aku sudah kehilangan bayiku karena permintaanmu, aku tidak ingin kehilanganmu sayang. Mari kita ulangi masa-masa indah kita, kita lupakan permasalah yang ada termasuk istrimu."


Bian beranjak dari tempat duduknya. "Kau gila, Caroline. Gila..!" umpat Bian. "Aku tidak bisa meninggalkan istriku, aku begitu mencintainya."

__ADS_1


Cklek..


Di tenagh obrolan mereka tiba-tiba saja ada seorang wanita, masuk ke ruangan mereka. Wanita itu menyipitkan matanya ke arah Caroline sembari mengerutkan keningnya. "Maaf sepertinya aku salah ruangan," ucap wanita itu, ia hampir menutup kembali pintu itu namun tak jadi, ia malah membukanya lebih lebar dan masuk menghampiri Caroline.


"Kalau tidak salah ini Kak Caroline ya, kakak kelasku dulu yang pernah meminta Reagen padaku di lab sekolah." Wanita tersenyum sembari mengulurkan tangannya. "Aku Tiara adik kelasmu, masih ingatkan??"


Wajah Caroline menjadi pucat pasi, ia gemetar kenjabat tangan Tiara. "I-iya aku ingat, tapi sepertinya kau salah ruangan," ucap Caroline gugup. "Lebih baik kau cepat pergi dari sini."


Tiara tertawa. "Kak Caroline kenapa begitu padaku sekarang? Padahal dulu kakak baik padaku. Bagaimana dengan reagen yang aku berikan? Berhasil membuat test pack kakak postif?"


"TUTUP MULUTMU!" Bentak Caroline, ia beranjak darinyempat duduknya dan menyeret Tiara keluar, namun Bian langsung mencegahnya, ia menahan Tiara pergi dengan meraih tangan kirinya.


"Tadi kau bilang reagen untuk membuat hasil positif pada test pack? Apa maksudmu?" tanya Bian penasaran sembari menahan tangan Tiara.


"Reagen atau reagent adalah sebuah substansi yang ditambahkan pada sebuah campuran untuk memunculkan rantai reaksi kimia dari campuran tersebut, dan jika di campurkan ke air atau urin bisa banget untuk membuat hasil positif pada test pack. Kak Caroline pernah meminta itu padaku sewaktu aku sedang di lab." terang Tiara.


"Jangan sembarangan bicara kau Tiara, kau tidak punya buktinya!!"


"Ada kok, di CCTV yang terbasang di lab. Yang memperlihatkan kak Caroline mengambil reagen," Tiara mengibaskan tangannya dan merogoh tasnya untuk mengambil handphonenya. "Kalau tidak percaya, lihat saja ini," Tiara memberikannya kepada Bian.


Caroline yang ketakutan kebohongannya terbongkar langsung merebut handphone Tiara dari tangan Bian dan membantingnya hingga hancur, namun beruntung Bian masih sempat melihat Caroline berada di lab sekolahnya. "Jangan percaya dengannya sayang."

__ADS_1


Caroline beralih menghadap Tiara ia menarik Tiara keluar. "Brengsek kau, bukankah aku sudah pernah membayarmu satu juta untuk tutup mulut? Dasar siluman kera!!" bisik Caroline.


Tiara sama sekali tidak takut dengan amukan Caroline. "Uang yang kakak berikat sangat sedikit, sekarang aku dapat tawaran lebih besar," Tiara tertawa bahagia.


"Brengsek!!" Caroline kembali menghampiri Bian. "Apa yang di katakan siluman kera itu semuanya bohong, sayang. Percayalah padaku!" Caroline terus memohon sementara Tiara justru tertawa semakin kencang.


"Diam kau siluman kera!!"


Perdebatan pun tak terhindari lagi, hingga akhirnya Fahri dan anggota dari kepolisian datang untuk menangkap Caroline. Caroline di duga menjadi otak dari penyerangan markas The Moge. Hal ini di dpat dari keterangan dari salah satu kawanan yang berhasil tertangkap, orang itu menceritakan bahwa dirinya hanya suruhan. Sementara Motor bodong dan senjata tajam itu milik Caroline.


Caroline bisa di jerat pasal berlapis, selain percobaan pembunuhan terhadap Rangga, ia juga terjerat pasal kepemilikan senjata tajam ilegal, dan penadah motor curian. "TIDAK, JANGAN TANGKAP AKU!!" Caroline terus meronta ketika polisi membawanya.


Caroline mengganggu The Moge, lantaran ia kesal pada Bian yang selalu mengacuhkannya setelah Bian tergabung pada genk motor, sehingga Caroline berniat menghancurkan The Moge.


Melihat polisi menarik paksa Caroline kuar dari restoran, Widya membuka kunci pintu mobilnya. Ia dan Annisa keluar dari mobil, Annisa berlari menghampiri Bian yang masih di private room, ia langsung memeluknya erat.


"Aku merindukanmu, sayang," bisik Bian, ia membalas pelukan Annisa lebih erat.


"Maafkan aku mas," Annisa menangis di pelukan suaminya, benar apa yang di katakan ibundanya, seharusnya ia menggenggam erat suaminya keluar dari kesalahan masa lalunya, bukan malah pergi meninggalkannya. "Aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu lagi mas, aku janji. Maafkan aku..."


Bian melepaskan pelukannya dan merangkum wajah istrinya sembari menghapus air matanya. "Kamu enggak salah sayangku, aku yang enggak terbuka soal masa laluku sama kamu dari awal. Seharusnya aku jujur dan terbuka padamu sebelum kita menikah."

__ADS_1


Widya tersenyum lega melihat sepasang suami istri itu berbaikan, kemudian ia menghampiri Tiara yang sudah sedari tadi menunggunya di luar restoran. "Thanks, ini bayaran loe." Widya memberikan kunci mobilnya pada Tiara.


__ADS_2