
Suksed dengan pembukaan warung makan D'Soto yang di buka di Mall Taman Anggrek dan Bandara Soekarno Hatta. Minggu ini Bian dan Annisa melangsungkan resepsi pernikahan di hotel berbintang lima di kawasan Jakarta Selatan.
Di antara kebahagiaan yang kini di rasakan oleh Bian, masih terselip rasa kesedihan. Bagaimana tidak, tempat acara resepsi pernikahan yang ia gelar sudah sangat dekat dengan keiaman Claire Florencia, ibunda Bian. Ibundanya masih menolak untuk datang.
"Habis ngejahilin istrinya, kok malah bengong di sini?" Sekar berjalan ke arah balkon, ia melihat menantunya mendadak diam dan melamun padahal sedari tadi Bian nampak gembira mengganggu istrinya yang tengah di make up.
Sekar mengelus punggung Bian dengan lembut. "Ada apa, nak?"
Bian menunjuk ke salah satu gendung tinggi milik stasiun tv swasta. "Ibu lihat gedung itu?" tanya Bian. "Di balik gedung itu adalah rumah mama. Minggu lalu aku dan Annisa ke sana untuk bertemu mama sekaligus memberikan undangan, tapi kata security, mama tidak mau bertemu. Jadi aku titipkan saja undangan kami pada security itu," ia tertunduk sedih dan kecewa.
Sekar mengerti mengapa Bian terlihat sangat jahil kepada istrinya, hal itu semata-mata untuk menutupi kesedihannya dan ingin selalu meminta perhatian lebih dari Annisa. Untungnya Annisa tidak pernah marah, ia terkadang justru meladeni tingkah kekanak-kanakan Bian, sehingga tidak menimbulkan masalah dalam rumah tangga mereka. "Nak, Allah maha membolak-balikan hati manusia. Terus doakan mamamu, dan jangan sekalipun membencinya. Ibu yakin suatu hari nanti, akan ada kesempatan di mana kamu dan mamamu bisa bertemu."
Ya itu pula yang selalu istrinya katakan, di setiap selesai shalat. Annisa selalu mengajak dia untuk mendoakan mamanya. "Iya bu, aku dan Nissa selalu mendoakan mama."
Di tengah obrolan hangatnya bersama menantunya, tiba-tiba saja salah seorang tim WO mengatakan jika ada keluarga yang ingin menemui Sekar. "Ajak masuk ke ruang tamu saja, bu," ucap Bian.
(Fyi: Presidential suite room merupakan jenis kamar yang mempunyai fasilitas lengkap, mulai dari ruang tamu, dapur, ruang makan, teras atau balkon.)
"Iya, nak." Sekar berlalu meninggalkan Bian dan menemui keluarga yang mencarinya.
__ADS_1
Fahri yang baru saja dari ruang makan menghampiri Bian. "Siapa yang cari ibu?"
Bian mengangkat bahunya. "Entahlah, kita lihat saja dari sini."
Dari kejauhan Bian dan Fahri melihat, rupanya keluarga pakde Giman yang mencari Sekar. Sepasang suami istri itu nampak serius mengobrol dengan Sekar.
"Sewa rumah kami akan berakhir akhir tahun ini, jadi tolonglah berikan rumahmu pada kami," ucap pakde Giman.
"Kalau bukan karena Fahri yang menjual rumah kami, tentu kami tidak akan sesulit ini, ini semua karena ulah anakmu," sahut istrinya.
"Astagfirullahaladzim," ucap Sekar, ia terkejut keluarga dari almarhum suaminya justru malah menyalahkan tidakan Fahri, padahal putranya hanya ingin mengambil hak warisan yang berikan oleh almarhum bapak mertuanya. "Putraku hanya mengambil haknya, kalau mas Giman tidak mengambil hak waris almarhum suamiku tentu hal ini tidak akan terjadi."
"Rumah itu memiliki banyak kenangan, aku tidak bisa memberikannya."
"Kau benar-benar manusia kikir," hardik wanita itu. "Apa jangan-jangan kau malah senang melihat kami susah?"
"Kalian sendiri yang membuat hidup kalian sulit, mengapa menyalahkan kami?" Fahri dan Bian datang, namun Bian memilih untuk tidak banyak bicara sebab ia hanya orang luar. "Kami tidak akan memberikan rumah itu kepada pakde, jadi silahkan tinggalkan ruangan ini," dengan tegas Fahri mengusir pakde dan budenya.
"Sombong sekali," gumam istri Giman, ia dan suaminya keluar dari ruangan.
__ADS_1
Bian duduk di samping ibu mertuanya, ia mencoba memberikan gagasan mengenai rumah peninggalan almarhum bapak mertuanya. " Bagaimana, jika rumah itu kita jadikan, rumah Tahfidz? Sebagai amal jariah bapak!" Selain sebagai amal jariah, agar rumah itu tidak di ributkan oleh pakde Giman dan keluarga.
Fahri langsung menyetujui gagasan Bian. "Bukan aku tidak mau membantu saudara, hanya saja, jatah warisan bapak yang kemarin aku tidak mengambil sepenuhnya. Aku memberikan sebagian uang hasil penjualan rumah pada pakde, seharusnya itu cukup untuk memberli rumah sederhana, bukan malah mengontrak rumah besar."
"Nissa setuju dengan gagasan mas Imam," Nissa yang telah selesai make up dan berganti pakaian, datang menghampiri mereka.
Bian nampak semakin terpukau dengan penampilan istrinya yang semakin cantik dengan gaun syar'i berwarna biru muda. Gaun tersebut memiliki beberapa lapis rok, dengan hiasan lampu yang menyala dalam gelap saat dikenakan. "Senyumnya untuk aku saja ya," Bian memasangkan niqab (cadar) di wajah istrinya, dalam acara tersebut akan ada banyak tamu yang mereka undang terutama rekan bisnis Bian, ia tak rela wajah cantik istrinya di lihat oleh banyak orang.
Annisa sama sekali tak menolak permintaan suaminya, ia justru senang dengan cara Bian menjaganya. "Yuk kita turun, acaranya sebentar lagi di mulai," Bian mengulurkan lengannya, sembari tersenyum Annisa pun langsung menggandengnya.
Keduanya berjalan menuju venue, di ikuti oleh Fahri yang menggandeng ibunya. Lampu di redupkan ketika memasuki venue, cahaya yang bersinar hanya-lah dari gaun pengantin Annisa yang berjalan menuju pelaminan di iringi musik romantis.
Malam itu Bian memberikan banyak kejutan untuk Annisa, salah satu kejutan yang membuat Annisa menangis haru adalah ketika Bian mempersembahkan bacaan surat Ar-Rahman. Dari hari ke hari Bian terus memperbaiki dirinya, ia tak merasa malu untuk bertanya dan belajar pada istrinya.
Tak hanya Annisa saja yang merasakan rasa haru bahagianya, hampir semua yang berada dalam ruangan itu pun merasakannya, termasuk Fahri. Ia bangga pada Bian, dan hampir menitikan air matanya, namun dengan cepat ia menoleh ke samping dan menghapus air mata yang menggenang di sudut mata.
Saat ia menoleh, ia melihat kehadiran Widya dalam acara resepsi adiknya. Mata Fahri tertuju pada tangan Widya yang melingkar di lengan Eric yang berada di sampingnya.
__ADS_1