Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 15


__ADS_3

Hampir dua minggu setelah kepulangannya dari Jogja, Bian lebih terlihat murung, padahal masalah The Moge sudah selesai. Anggota The Moge cukup puas dengan markas baru mereka yang kebih aman, nyaman, dan strategis. Dan Fahri pun sudah mengembalikan dana yang gunakannya, meski ia belum ke Jakarta untuk meminta maaf dan mengundurkan diri dari keanggotaan secara langsung.


Dari informasi yang di sampaikan pengacaranya, Fahri terpaksa menjual rumah pakdenya, lantaran pakde Giman tak kunjung membayarkan uang tanah waris ayahnya. Sang pengacara pun menginformasikan jika ibunda fahri telah di lerbolehkan pulang dari rumah sakit.


Beresnya semua permasalahan yang terjadi, tak lantas membuat hati Bian lega, ia menyimpan sebuah ganjalan dalam benaknya mengenai Annisa. Ia tak pernah bisa berhenti memikirkan gadis cantik itu, tapi ia merasa tak cukup pantas untuk mengejarnya.


"Pak... Pak Bian..." panggilan dari Widya, membuyarkan lamunan Bian.


"Eh... Widya," Bian yang baru tersadar dari lamunannya, menggeleng-gelengkan kepalanya, raut wajanya seketika berubah menjadi kesal. "Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?"


"Sudah sepuluh menit aku mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Aku pikir bapak tidur atau pingsan, makanya aku menerobos masuk. Eh taunya bapak malah asik melamun," jawab Widya tak kalah kesalnya dengan Bian.


Bian sama sekali tak menunjukan rasa bersalahnya pada Widya, karena telah membuat gadis itu menunggunya. "Ada apa?"


"Dokumen yang tadi pagi aku kasih, apa sudah bapak tanda tangani?" Widya meminta dokumen itu sebab ia harus segera memfollow up nya.


"Nih," Bian langsung mengulurkannya kepada Widya.


Widya menerima dokumen itu, dengan tatapan matanya tertuju pada buku tuntunan shalat yang berada di meja Bian. "Apa kamu lihat-lihat?" tanya Bian sembari menutup buku itu dengan dokumen kerjanya, ia tahu Widya tengah memperhatikan buku yang sedang di bacanya.

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Widya. "Kalau begitu saya permisi dulu, pak." Widya membungkukkan badannya kemudian ia berbalik ke arah pintu ruang kerja Bian. Baru dua langkah Widya melangkah, Bian sudah memanggilnya kembali. "Ya, ada apa pak?" tanyanya sembari berbalik.


"Kau pernah shalat?"


Widya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan atasannya. "Ya shalat-lah pak, sayakan orang muslim. Sebinal-binalnya saya, saya masih ingat shalat lima waktu. Memangnya ada pak? Kok tiba-tiba bapak nanyain shalat?" ia merasa ada yang ganjil dengan atasannya selama beberapa hari ini, selain terlihat murung, Widya pun kerap berpapasan dengannya di mushola kantor, hal yang tak pernah temui selam bekerha dengan Bian. Tak hanya melihat Bian di mushola, Widya pun pernah melihat atasannya itu membuang minuman beralkoholnya yang ia simpan di bawah lemari dokumennya.


"Kalau begitu kamu pasti hafal kan bacaan shalat?" tanya Bian kembali.


"Tentu saja, kalau saya tidak hafal bagaimana saya bisa shalat?"


Bian meminta Widya kembali mendekat dan duduk di hadapnnya. "Kalau begitu, koreksi bacaan shalat saya!!"


"Dengarkan baik-baik!!" ucap Bian sebelum ia mulai melafalkan niat-niat shalat, ia melafalkan niat shalat subuh hingga isya. "Apa ada yang salah?"


Widya menggeleng. "Tidak ada. Hanya tinggal di tambah Imaman atau makmuman saja kalau bapak shalat berjamaah. Imaman ketika bapak jadi imam, makmuman kalau bapak jadi makmum."


"Iya, aku sudah tau," ucapnya ketus, ia kemudian melanjutkan lagi bacaan doa iftitah, hingga tahiyat akhir. Hanya ada dua kali kekeliruan ketika Bian mencoba melafalkannya, namun itu kemajuan yang cukup besar, seiring dengan banyak berlatih maka Bian akan lebih fasih lagi.


"Sudah, hanya itu tadi saja bapak sedikit terbalik pada tahiyat akhir, selebihnya dudah benar semua," ucap Widya. "Tapi ngomong-ngomong mengapa pak Bian tiba-tiba menghafal bacaan shalat? Apa selama ini bapak tidak hafal?" tanya Widya menyelidik, ia menaruh tangannya di dagu.

__ADS_1


"Ya begitulah," Bian menghela napas beratnya, ia menerawang jauh saat kebersamaan dengan Annisa. "Ada seorang gadis yang mengingatkan aku tentang keridhaan Allah, gadis itu dalam kondisi yang terbatas saja masih taat beribadah. Bahkan dia kuliah di jurusan Ilmu Qur'an dan tafsir untuk memperdalam ilmu agamanya agar dia bisa mempersembahkan doa terbaik untuk almarhum bapaknya," mata Bian berbinar-binar ketika ia menceritakan tentang sosok Annisa. "Ya sementara aku..." Bian melihat ke dirinya sendiri. "Allah sudah memberikan aku hidup yang berkecukupan tapi aku tidak pernah mensyukurinya, aku juga bahkan tidak pernah mendoakan almarhum kakek dan nenekku, padahal merekalah yang telah merawatku. Aku ingin bisa mendoakan beliau, seperti Nissa mendoakan almarhum ayahnya."


"Ooohhh jadi karena kepentok cinta ukhti-ukhti, makanya bapak mendadak tobat," ledek Widya.


"Kamu ini bisa nyimak arah pembicaraanku tidak sih?" protes Bian. "Tadi kan aku bilang agar aku bisa mendoakan almarhum kakek dan nenekku makanya aku belajar shalat, kok jadi malah bahas cinta ukhti-ukhti?"


"Sudah-lah pak, akui saja kalau bapak memang sedang jatuh cinta dengan ukhti-ukhti. Aku ini sudah kenal pak Bian sejak lama, jadi aku tahu kalau bapak sedang jatuh cinta. Mata bapak itu enggak bisa bohong." Desaknya.


"Kalau aku cinta sama dia, memangnya dia mau sama orang sepertiku? Seleranya pasti akhi-akhi yang punya banyak hafalan al-qur'an." Bian menghempaskan punggunya ke sandaran kursinya.


Widya mencondongkan tubuhnya ke arah Bian, ia berbisik. "Ali bin Abi Thalib said, cinta itu tak dapat dinanti, ambil dia dengan penuh keberanian atau lepaskan dia dengan penuh keridhoan." Widya tersenyum sembari beranjak dari tempat duduknya, ia yakin Bian pasti akan memikirkan kalimat yang baru saja ia lontarkan.


Dan benar saja, baru saja ia membalik tubuhnya dan berjalan menuju puntu keluar. Bian sudah berkata. "Akan aku ambil dengan lenuh keberanian," ucap Bian.


Widya mengangkat kedua tangannya. "Alhamdulillah Bos gue taubat....." teriak Widya.


"Widya...."


Widya berlari keluar ruang kerja Bian dengan secepat kilat, menghindari amukan dari Bian karena telah meledeknya, tapi ia lega karena akhirnya atasannya itu bisa mendapatkan tambatan hati yang jauh lebih baik dari sebelumnya, karena sebenaranya Widya pun sudah jengah melihat tingkah laku Caroline yang sok berkuasa saat mengunjungi Bian di kantor.

__ADS_1


__ADS_2