Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 39


__ADS_3

"Mba Wid, memberi mobil pada wanita tadi?" tanya Annisa kepada Widya ketika ia dan suaminya keluar dari restoran, mereka berdua sempat melihat Widya menyerahkan kunci mobilnya kepada Tiara.


Widya mengangkat bahunya. "Dia mau, mau bagaimana lagi?"


"Kau kenal dengan Tiara?" Bian penasaran, mengapa Widya bisa membongkar kebohongan Caroline selama ini.


Widya menggelengkan kepalanya. "Tidak, sebelum kemarin aku menemuinya dan memintanya membokar kebohongan ulat keket."


"Lalu?" tanya Bian tidak puas dengan jawaban Widya, yang hanya sepotong-sepotong.


"Ibuku pernah menjadi guru pengganti kimia, dia sekolah Pak Bian. Kebetulan hari mana ulat keket merencankan kebohongannya, aku datang ke tempat ibu mengajar untuk mengerjakan tugas komputer karena di rumah kami tidak memiliki komputer. Sebelum aku mengerjakan tugas, ibuku menyuruhku ke lab untuk mengambil bukunya yang tertinggal, di situlah aku tak sengaja mendengar percakapan antara Tiara dan ulat keket. Ulat keket bertanya apakah ada bahan/cairan kimia yang bisa membuat test pack menjadi positif, lalu kemudian Tiara memberikan Reagen, tapi sepertinya tidak gratis, karena aku lihat ulat keket memberinya uang," terang Widya, ia memperhatikan raut wajah Bian yang nampak kesal, namun ia bisa dengan cepat mengetahui mengapa Bian kesal.


"Sudah lama aku mau membongkar masalah ini, tapi aku enggak punya bukti dan menemukan Tiara pun tidaklah mudah terlebih aku bukan siswa di sana."


Sekarang Bian sedikit memahami mengapa baru sekarang Widya membongkar masalah ini, karena memang tidak mudah mendapatkan data alumni di sekolahnya terlebih kebanyakan dari mereka tinggal di luar negeri. Tiara sendiri tinggal di Thailand, ia bersedia datang ke Jakarta karena Widya mau memberikan mobilnya untuknya.


"Lalu mba Widya pulang sama siapa? Apa mau bareng dengan kami?" Annisa menawarinya pulang bersama.


Entah mengapa Fahri yang berada di situ terlihat sangat sumringah, ia hendak membuka mulutnya, namun kemudian menutupnya kembali setelah Widya mengatakan "Enggak usah ukhti, aku di jemput. Sebentar lagi juga sampai."


Bian dan Annisa mengangguk, keduanya menunggu hingga Widya di jemput. "Jujur gue sangat terkejut, otak dari kawanan yang selama ini menyerang genk kita adalah Caroline," ucap Bian kepada Fahri, pagi ini ia sudah mendapatkan laporan dari lengacaranya bahwa polisi berhasil menangkap salah satu pelaku, namun belum mendalami otak di balik kejadian ini.

__ADS_1


Fahri tersenyum kecut. "Kalau gue sih enggak kaget, dari dulu dia memang enggak suka kalau loe nongkrong bareng kita-kita." Fahri beralih ke Widya. "Thanks ya atas kerja samanya," ucap Fahri pada Widya, ia menceritakan kepada Fahri soal kerjasamanya dengan Widya yang menjebak Caroline di restoran ini.


Di tengah obrolan mereka, seorang pria muda berbadan tegap datang dengan motor ninjanya, ia berhenti tepat di depan lobby restoran. "Wid, ayo!" ucapnya kepada Widya.


Widya pun pamit kepada semuanya, sebelum ia menghampiri pria itu. "Hati-hati ya mba Wid," ucap Annisa ramah, ia melirik ke arah kakaknya berada di sebelahnya, entah mengap Annisa melihat dari sorot mata kakaknya terdapat kobaran api, wajahnya merah padam saat melihat pria yang bersama Widya membantu Widya mengenakan helm di kepala Widya.


Bian mendekat ke arah pria yang menjemput Widya. "Thanks ya, udah menolong Rangga saat kejadian penembakan kemarin," ucap Bian pada pria yang menjemput Widya, sebetulnya saat di rumah sakit, Bian sempat melihat pria itu bergabung bersama teman-temannya, namun karena ia harus mendonorkan darahnya untuk Rangga, dan setelah donor darah pria itu sudah tidak ada sehingga Biantak sempat berterima kasih secara langsung.


"Bukan apa-apa, gue emang sebelum ke kantor pasti beli kopi di situ, jadi kebetulan aja," jawab pria tersebut, kemudian ia meminta Widya naik ke motor.


"Kalau malam minggu senggang, mainlah ke markas kami. Kami akan senang kalau loe mau bergabung," undang Bian, sebagai wujud rasa terima kasihnya.


...****************...


Bian merayap di tubuh istrinya yang tengah berbaring di atas tempat tidur. "Aku rindu sekali denganmu sayang, dua malam tak bersamamu, aku tidak bisa tidur," Bian merebahkan kepalanya di dada istrinya, tempat ternyaman baginya. Di sana ia bisa merasakan kehangatan dan detak jantung Annisa yang berdegup kencang saat ia memaikan puncak dada istrinya dengan jemarinya.


Annisa mengelus kepala Bian dengan lembut. "Maafkan aku ya mas, aku janji seberat apa pun masalah yang kita hadapi, aku tidak akan meninggalkan mas."


Bian mendongak, menatap wajah istrinya. "Kita hadapi semuanya besama," ia mengecup bibir istrinya sekilas kemudian ia kembali ke dadanya.


"Mas," Annisa menyusupkan jemarinya di rambut Bian. "Sepertinya ada yang berbeda dengan mas Fahri ketika Widya di jemput oleh pria tadi," ia mengungkapkan yang sedari tadi mengganjal di hatinya. "Apa mas Fahri menyukai Widya ya?"

__ADS_1


"Hmmm," Bian hanya berdeham membenarkan ucapan istrinya, sejak pertama Fahri bertemu Widya, saat Fahri ke kantornya untuk meminta tanda tangannya, Bian sudah bisa menebak jika Fahri tertarik pada sekretarisnya.


"Sayang sekali ya, Widya sudah punya pacar."


"Itu adiknya," ucap Bian singkat, ia ******* kedua puncak dada istrinya secara bergantian, membuat Annisa mengeluarkan erang*n kecil, dan menggeliat namun Annisa masih ingin membahas soal kakaknya sehingga ia menahan des*hannya.


"Apa mas Fahri tahu jika pria itu adiknya?"


Bian kembali mendongak, ia terlihat enggan membahas soal hubungan dan perasaan orang lain. "Biarkan saja dia cemburu, aku tidak akan mengatakan apa pun jika dia tidak bertanya."


Annisa menarik tubuhnya menjauh dari Bian. "Kok mas Imam jahat sih? Enggak mau bantuin mas Fahri?" protes Annisa.


Bian menopang tubuhnya dengan kedua sikunya, dan menatap Annisa dalam-dalam. "Memangnya dia meminta bantuanku? Dia sendiri tidak yakin dengan perasaanya, untuk apa aku membantunya? Jadi pria itu harus yakin dan berani mendatangi walinya jika menyukai seorang wanita. Sudahlah, kita tidak perlu ikut campur, lebih baik kita istrirahat." Bian berguling ke samping Annisa.


"Mas Imam tidak mau?" tanya Annisa dengan tatapan menggoda.


"Memangnya kamu sudah selesai? Bukannya baru tiga hari kamu dapet?" Sepengetahuannya, seorang wanita datang bulan hingga tujuh hari.


"Belum sih, tapi bisa pakai cara lain kok. Mas mau coba?"


Tanpa membuang waktu dan menjawab pertanyaan Annisa, Bian melepas pakaiannya dan membuangnya ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2