Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 12


__ADS_3

Pagi hari sebelum berangkat meeting Bian kembali datang ke rumah sakit, ia menyerahkan radio antik milik Sekar yang telah ia perbaiki.


"Alhamdulillah, bisa nyala kembali," wajah Sekar terlihat sangat berseri-seri mendengar radio kesayangan peninggalan almarhum suaminya bisa berfungsi kembali. "Apa kamu seorang teknisi?"


"Dulu aku dan almarhum kakek sering membongkar barang-barang elektronik, jadi sampai sekarang keterusan," jawab Bian.


"Nisaa juga dulu sering di ajak membongkar barang-barang elektronik sama almarhum bapaknya tapi sampe sekarang enggak bisa memasang kembali," ucap Sekar sambil tertawa.


"Ibu..." protes Annisa.


Bian hanya tersenyum lebar, kemudian ia menoleh ke arah Annisa. "Kamu tidak ke pasar?"


Annisa menggeleng. "Hari ini ibu menjalani pemeriksaan lanjutan, dan mas Fahri katanya mau keluar jadi untuk hari ini warung tutup," jawab Annisa.


Bian mengangguk mengerti, ia dan Fahri memang sudah ada janjian dengan pengacaranya untuk menyelesaikan masalah tanah waris almarhum ayahanda Annisa. "Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu ya." ia berpamitan kepada Sekar, barulah keluar dari ruang rawat inap dengan di antar Annisa sampai ke depan pintu.


"Mas, dasinya miring," ucap Annisa ragu-ragu. "Boleh aku benarkan sebentar?"


"Tentu," Bian membiarkan Annisa memperbaiki dasinya. "Tadi aku buru-buru jadi tidak begitu memperhatikan," ucap Bian mengurai ketegangan yang ia rasakan ketika tangan Annisa berada di lehernya, ja sungguh khawatir Annisa dapat mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Sudah." Annisa menurunkan tangannya dari leher Bian.

__ADS_1


"Terima kasih," Bian nampak salah tingkah dan wajahnya memerah. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, semoga sukses mas Imam." Aanisa terus memandangi Bian, sampai-sampai ia tak sadar jika sedari tadi Fahri memperhatikannya.


"Hmmm..." dehaman Fahri membuat Annisa terlonjak dari tempatnya berdiri. "M-mas Fahri, dari kapan di situ? Mengagetkan saja," ucap Annisa gugup.


"Harusnya aku yang tanya ngapain kamu pegang-pegang leher pria yang bukan mahrommu? Kau ini terlihat seperti wanita penggoda saja!!!" tanyanya dengan suara tinggi.


Tanpa berkata-kata, Annisa pergi meninggalkan Fahri. Sungguh kata-kata kakaknya yang menyamakan dirinya sebagai wanita penggoda membuat hatinya sangat sakit ia memang menaruh hati pada Bian dan sangat terpesona oleh ketampanan Bian yang menggunakan stelan jas yang di pilihkan olehnya kemarin, stelan jas itu sungguh pas di tubuhnya yang tegap. Namun tak pernah terlintas dalam benak Annisa jika ia ingin menggoda Bian.


Annisa menghapus air matanya, kemudian ia kembali ke ruang rawat inap ibundanya, ia beruntung karena ternyata kakaknya tidak ada di sana.


Pertemuan Fahri dengan dengan pengacara Bian berlangsung singkat dan lancar, sebab sebelumnya Bian sudah menceritakan secara garis besar duduk permasalahan yang ada, sehingga pihak pengacara hanya meminta bukti-bukti soal pembagian waris tersebut.


Selesai meeting Bian menemani Fahri dan pengacaranya, bertolak menuju kota Solo. Pakde Giman yang tengah memarahi tiga anak buahnya yang kemarin memukuli Fahri, terkejut melihat kedatangan Fahri. Tak hanya pakde Giman yang terkejut, ketiga pesuruh itu pun terkejut melihat Bian yang tengah berjalan sembari menggulung lengan kemejanya, dengan sengaja Bian memamerkan otot-otot tangannya.


"Jadi benar, pakde yang menyuruh mereka memukuliku kemarin? Aku bisa membawa masalah ini ke ranah hukum jika pakde tak memberikan sertifikat tanah milik bapakku," ucap Fahri, saat ia menaiki tangga teras kediaman pakde Giman.


"Ooh jadi kamu mau mengancam pakde?" Giman berkacak pinggang seolah ingin menantang Fahri.


Sang pengacara memperkenalkan diri sembari memperlihatkan Kartu Tanda Pengenal Advokat (KTPA). "Semua bukti yang di miliki oleh Fahri sudah cukup kuat untuk menyert anda ke ranah hukum dengan dua tuduhan. Yang pertama soal penggelapan tanah waris dan yang kedua soal pengkeroyokan kemarin, hanya saja client saya masih ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan, untuk itulah kami datang kemari."

__ADS_1


Sekelebat Bian mendengar bisik-bisik dari tiga orang pesuruh itu yang mengatakan bahwa Bian-lah yang kemarin memukuli mereka hingga babak belur. Hal ini membuat nyali Giman mendadak menciut. "Baiklah kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan." ia mempersilahkan Bian, Fahri dan sang pengacara duduk di bangku teras kediamannya.


Akhirnya Giman mengakui jika dirinya sudah menjual tanah itu beberapa tahun yang lalu atas desakan istrinya untuk liburan ke luar negeri, namun Giman berjanji akan mengembalikan uang hasil penjualan tanah tersebut.


"Kami beri waktu satu minggu dan sesuai dengan harga tanah saat ini, bukan harga yang kau jual!!" ucap Bian dengan tegas, kemudian sang pengacara menyodorkan surat perjanjian yang harus Giman tanda tangani.


"Sa-satu minggu?" ucap Giman tergagap, mendengar minimnya waktu yang di berikan oleh Bian kepadanya.


"Ya satu minggu atau kau kami laporkan ke polisi!!"


"Tidakkah pakde berpikir bagaimana kondisi ibuku sekarang?" Fahri tak menyangka jika saaudaranya sendiri tega menikamnya di saat keluarganya mengalami kesulitan.


"Maafkan pakde, pakde tidak tahu jika hal ini akan terjadi. Pakde lihat hidupmu sudah berkecukupan, dan keluargamu tidak pernah ada yang menayakan soal waris yang di berikan kakekmu pada bapakmu."


Fahri menggebrak meja yang ada di hadapnnya, seketika darahnya mendidih mendengar ucapan pakdenya. "Siapa bilang keluargaku tidak ada yang pernah menanyakan hal ini? Dua tahun yang lalu ibuku pernah menanyakan ini pada bude, tapi bude malah mencacinya dan mengatakan bahwa keluarga kami peminta-minta. Dari situlah Ibuku tidak pernah lagi membahas soal hak waris almarhum bapak. Tapi sekarang aku tidak bisa tinggal diam melihat kalian semena-mena dan aeenaknya menikmati warisan bapakku!!"


Setelah Giman menadatangani surat perjanjian pembayaran hak waris atas tanah keluarga Fahri, mereka kembali berdiskusi di sebuah cafe untuk menentukan langkah selanjutnya sebagai antisipasi jika Giman mangkir dari janjinya.


Namun Fahri tak begitu khawatir pakdenya mangkir dari janjinya, sebab ia telah mengkantongi sertifikat rumah Giman sebagai jaminan dari perjanjian yang di buatnya tadi, sehingga jika pakdenya mangkir, Fahri bisa langsung menjual rumah pakdenya.


Selesai berdiskusi, sang pengacara langsung bertolak menuju bandara untuk kembali ke Jakarta, sementara Bian dan Fahri kembali ke Jogja.

__ADS_1


__ADS_2