Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 57


__ADS_3

Bian hampir terkekeh, tapi kemudian ia memasang wajah seriusnya. "Ayah sudah meninggal dunia, lima bulan yang lalu," ucap Bian, ia sengaja tak langsung mengatakannya kepada Claire sejak awal sebab ia ingin tahu apa mamanya masih mengingat tanggal pertemuan mereka.


"Tak sepeserpun ayah mewariskan hartanya kepadku, karena semua harta yang ayah miliki adalah milik mama."


"Meninggal?" Claire sangat terkejut mengetahui mantan suaminya telah meninggal dunia.


Bian mengulurkan tangannya, mengajak Claire duduk di sofa. Kemudian ia bercerita soal kematian dan penyakit yang di deritanya.


"Bagaimana bisa ayahmu terkena HIV?" tanya Claire seolah tak percaya. "Bukankah dia akan menikahi Anggel?" Anngel merupakan teman kencan Wijaya ketika Claire masih menjadi istri sah Wijaya.


Bian menggeleng. "Ayah tak pernah tertarik menikah dengan wanita mana pun termasuk Anggel. Dia memacari Anggel hanya untuk membalas rasa sakit hatinya karena mama masih menyimpan barang mantan suami mama. Setelah mama pergi, ayah mengencani banyak wanita sebagai pengisi hatinya yang kosong, namun tak ada satu pun wanita yang berhasil meluluhkan hatinya, baginya wanita-wanita itu hanya sebagai pemuas na*sunya saja."


Claire beranjak dari sofa, ia berjalan ke arah jendela dan memandangi ke arah taman yang berada di balik jendela tersebut. Taman itu pun tampaknya tak ada ada yang berubah sejak ia meninggalkan rumah ini. Ia berbalik menghadap Bian dan menyandarkan tubuhnya di pinggiran jendela. "Sebetulnya, di awal pernikahan kami. Rumah tangga kami yang sangat harmonis, ayahmu begitu mencintai mama. Dan meski mama belum bisa mencintainya dengan sepenuh hati, namun mama berusaha menjadi istri terbaik untuknya, mama melayaninya dan menuruti semua perintahnya, apa pun yang membuatnya senang, mama akan lakukan karena dengan begitu ayahmu semakin mencintai mama dan kamu," tuturnya, Claire menghela napas beratnya untuk sesaat.


"Hingga suatu hari, mama secara tak sengaja mendengar obrolan ayahmu di telepon yang membahas soal kematian mantan suami mama. Mama mendengar bahwa ayahmu-lah yang membunuhnya, di situ hati mama benar-benar hancur, mama tidak tahu harus berbuat apa? Mama tidak bisa melaporkan perbuatan ayahmu karena mama tidak memiliki bukti yang kuat, di tambah mama tak ingin kamu di cap sebagai anak seorang pembunuh. Mama benar-benar bingung dan kalut, hari-hari mama hanya di isi dengan menangisi kepergian mantan suami mama, mama tidak bisa lagi bersikap manis terhadap ayahmu, semua hal yang tidak dia sukai mama lalukan, sebagai bentuk protes mama atas perbuatannya. Bagaimana mama bisa menikah dan tidur dengan pria yang telah membunuh pria yang mama cintai? Sejak saat itu kami bertengkar hebat setiap harinya, ayahmu mulai memukuli mama ketika melihat mama masih menyimpan barang mantan suami mama, dan ayahmu mulai berkencan dengan Anggel... Hiks..." Claire menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Bian berjalan mendekat ke arah mamanya dan memeluknya dengan hangat. "Aku sudah tahu semuanya mah, aku pun tidak menyalahkan mama pergi dari rumah ini," ucapnya. Ia merangkum wajah cantik Claire dan menghapus air matanya. "Bisakah semua hal yang meyakitkan itu di kubur dalam-dalam? Karena aku ingin sekali mengukir kebahagiaan bersama mama, aku sangat menyayangimu mah."


Claire mendongak, menatap dalam-dalam wajah putra sulungnya yang begitu mirip dengan mendiang almarhum mantan suaminya, bukan hanya wajahnya yang mirip, namun sikap manisnya terhadap orang-orang yang di sayangi pun begitu mirip.


"Ini adalah rumah mama, tinggal-lah di sini bersama adik-adik," ucap Bian, mengelus lengan Claire dengan lembut. "Aku dan Nissa tak bermaksud mengusir mama, kami justru sangat senang mama dan adik-adik tinggal bersama kami, hanya saja aku merasa mama dan adik-adik akan jauh aman jika tinggal di sini selama proses hukum berjalan, karena kita tidak pernah tahu apa yang di lakukan oleh om Rudi ketika nanti mendapat panggilan dari kepolisian." Di rumah tersebut memiliki beberapa lapis sistem keamanan yang tidak sembarang orang bisa masuk ke wilayah komplek perumahan dan rumah ayahnya.


"Ya, itu pula yang mama pikirkan. Mama tak ingin kamu dan Annisa terkena imbasnya." Claire setuju untuk menempati rumah mendiang almarhum mantan suaminya, meski Claire tak tahu apa akan selamanya tinggal di rumah itu atau tidak yang jelas untuk saat ini, ini adalah tempat teraman baginya.


"Annisa sudah mendaftarkan home schooling untuk Kylie dan Farel, jadi mama tidak perlu khawatir mereka tertinggal pelajaran. Dan sebentar lagi Maria akan datang kemari mengantar barang-barang mama dan juga adik-adik."


Bian pamit ketika Maria datang membawa Kylie dan Farel. "Aku pulang dulu ya mah, besok aku dan Nissa akan datang lagi," ia memeluk dan mencium pipi ibundanya.


"Hati-hati ya, sampaikan terima kasih dan pekuk hangat mama pada menantu cantik mama."


"Pasti mah, nanti akan aku sampaikan."


Bian masuk ke mobilnya setelah ia juga pamit dengan kedua adik tirinya. "Ayo Mar, kita pulang," Bian menyuruh Maria masuk ke mobilnya.

__ADS_1


"Baik pak," ia pun langsung membuka pintu belakang, hal ini membuat Bian marah padanya. "Hei, Maria kau pikir aku supirmu? Ayo duduk di depan." Perintah Bian.


"Maaf pak," ia pun duduk di samping Bian. "Aku takut bu Annisa marah."


Bian melajukan kendaraannya keluar dari kediaman ayahnya. "Tidak, aku sudah izin dengan istriku," ucap Bian.


Rasa rindu pada ibu mertuanya, membuat Bian menepikan kendaraannya di kostan Fahri.


"Mau ngapain pak Bian kemari?" tanya Widya sewot ketik ia membuka pintu kostannya.


"Mau jemput ibu. Minggir!!" Widya berdiri di depan pintu menghalanginya masuk.


Seketika Widya langsung menutup pintu. "Pak Bian, enggak boleh jemput ibu!?" teriak Widya. Aksi dorong-mendorong pintu tak terhindarkan lagi, hingga membuat Sekar turun tangan. "Widya, Imam ada apa ini? nanti yang sebelah keganggu dengan keributan kalian," tegur Sekar.


"Enggak tahu nih, Widya. Aku cuma mau nengok ibu enggak boleh," melihat Widya lengah Bian langsung menerobos masuk.


"Bohong bu, pak Bian bilang mau jemput ibu," protesnya. Ia langsung menghampiri Sekar dan memeluknya. "Ibu nginep di sini lagi kan?" tanyanya penuh harap.


Belum sempat Sekar menjawab, ia mendengar suara salam dari pintu depan. "Assalamualaikum," ucap Annisa memasuki kostan kakaknya dengan membawakan banyak makanan sehat untuk kakak iparnya, siang tadi Annisa sudah janjian dengan suaminya untuk menjenguk Widya.


"Apa kalian benar-benar tak membolehkan ibu menginap di sisi semalam lagi sampai mas Fahri pulang?" Wajah Widya terlihat sedih melihat kedatangan Annisa.


Annisa mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Widya. "Tentu saja boleh, kami memang rindu dengan ibu makanya kami datang kemari sekalian mau menjenguk mba Wid."


"Tadi pak Bian bilang mau jemput ibu."


Seketika Annisa menoleh ke arah Bian, dengan mata melotot sebab ia tahu Bian pasti habis menjahili kakak iparnya. "Hehe, tadi aku bercanda. Maaf ya Wid."


"Sudah-sudah jangan ribut lagi, malu di dengar sebelah!!" Sekar menengahi anak dan dua menantunya.


Annisa tersenyum sembari mendekat ke arah Widya. "Selamat ya mba Wid atas kehamilannya, aku bahagia sekali mendengarnya," ia memeluk Widya dengan hangat. "Aku sudah mendaftarkan kelas yoga untuk mba Wid, nanti kita yoga sama-sama ya."


"Terima kasih Niss, kau memang adik ipar yang paling baik tak seperti suamimu yang menyebalkan itu." Widya melirik sinis ke arah Bian.

__ADS_1


Bian hanya mengerutkan keningnya, ia tak memberikan komentar atas ucapan Widya. Ia mendekat ke arah Widya dan ikut memberikan ucapan selamat atas kehamilannya.


"Apa kalian mau makan? Kebetulan tadi aku masak cumi bakar."


"Apa ibu yang membuatnya?" tanya Bian. Annisa langsung memegang tangan Bian dan menoleh ke arahnya sambil metotot. "Mas imam," bisiknya.


"Tidak, aku yang membuatnya sendiri, meski resepnya memang dari ibu."


"Aku mau, kebetulan aku belum makan dari siang tadi." Annisa menggandeng tangan Widya mengajaknya menuju dapur.


Sementara Sekar mendekat ke arah Bian. "Apa kamu pikir, Widya mememinta ibu tinggal di sini untuk masak atau memberesi rumahnya? Tidak, nak. Dia betul-betul hanya minta di temani, bahkan dia tidak membolehkan ibu memegang sapu."


"Tidak bu, tadi aku hanya ingin meledeknya saja, karena setahuku dia tidak bisa memasak. Aku percaya dia pasti memperlalukan ibu dengan baik." Bian merangkul ibu mertuanya dan mereka berjalan menuju dapur. "Ayo Maria kita makan bersama," ajak Sekar.


Mereka semua makan malam dengan hangat, dan tanpa batasan status sosial. Maria berbaur dengan akrab layaknya anggota keluarga mereka, dan Bian terlihat sangat enjoy makan lesehan dengan masakan sederhana di tempat yang mungkin tak sebesar kamar tidurnya. "Wid, aku minta maaf jika tadi ada kata-kataku yang menyinggung atau membuatmu kesal. Aku hanya bercanda," ucap Bian.


"Iya pak," Widya memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Sekar, dan Sekar mengelus wajah Widya dengan lembut.


"Panggil nama saja, aku adik iparmu bukan atasanmu lagi," protes Bian, ia tak nyaman mendengarnya.


Sementara Widya menyandar pada Sekar, Annisa yang kekenyangan menyandar pada dada suaminya. "Aku ngantuk sekali," ucapnya sembari mengelus perutnya yang semakin membesar. Kostan Widya terasa sangat nyaman hingga membuatnya matanya ingin terpejam.


"Jangan tidur, kamu belum membayar hutangmu!!" protes Bian. "Ayo kita pulang dan bayar hutangmu" ia mendorong tubuh istrinya agar duduk dengan tegak, kemudian ia berdiri.


Aanisa mendongak ke atas menatap suaminya. "Hutang? Memangnya surat perizinannya sudah jadi?"


"Sudah. Barusan Rey mengirimnya ke rumah. Ayo bayar!!" ucap Bian dengan penuh semangat, ia mengulurkan tangannya, membatu istrinya berdiri. "Kita pamit dulu ya bu, Wid," ucap Bian pada Sekar dan Widya kemudian beralih ke Maria. "Malam ini kau menginap lagi di sini, aku dan Nissa ada misi rahasia."


"Misi apa lagi? Bukannya udah jadi?" mata Widya tertuju pada perut Annisa.


"Misi berburu pahala di malam hari," ucap Bian sembari tertawa, ia dan Annisa kemudian pamit meninggalkan kostan Widya.


Setelah pintu ditutup oleh Bian, Widya menoleh ke arah ibu mertuanya. "Maaf ya bu, jika aku memaksa ibu menginap di kostan sempit ini lagi." ada perasaan bersalah pada diri Widya membiarkan ibu mertuanya meninggalkan rumah mewah Bian, demi menemaninya di kostan sempit.

__ADS_1


"Ibu yang minta maaf karena Fahri belum bisa memberikan rumah yang layak untukmu," Sekar mengelus kepala Widya dengan lembut. "Sejak lulus SMA, Fahri merantau ke Jakarta untuk bekerja dan kuliah. Sejak bapak meninggal, dia lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Keuangan keluarga kami semakin memburuk saat ibu sakit, dia menjual kendaraannya dan rumah yang baru saja ia beli untuk pengobatan dan biaya kuliah adiknya." Sekar menatap Widya dalam. "Terima kasih telah menerima semua kekurang Fahri, dan mau menemaninya berproses."


Widya tersenyum ke arah ibu mertuanya. "Memutuskan menerima pinangannya, karena aku ingin hidup bersama pria yang aku cintai, soal financial adalah perjuangan bersama. Aku sangat menikmati semua proses yang kami lalui."


__ADS_2