Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 59 - SELESAI


__ADS_3

Karena dalam surat kepemilikan perusahaan ayahnya atas nama Claire, maka dengan senang hati Bian menyerahkan dan meminta Claire untuk memimpin perusahaan ayahnya.


Awalnya Claire sempat menolak sebab ia sama sekali tak memiliki pengalaman memimpin perusahaan sebesar itu. Namun Bian selalu meyakinkan Claire bahwa dirinya akan selalu siap sedia membatu, di tambah di perusahaan tersebut ada Fahri, orang yang selama ini ia percayakan mengelola perusahaan ayahnya, sekaligus kakak iparnya, tentu Fahri akan membantu Claire.


Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya, ketika Bian mengajak ibundanya meeting bersama seluruh jajaran direksi pada perusahaan ayahnya. Claire menerima tawaran Bian itu lantaran ia juga tak ingin membebani putra sulungnya, ia ingin bisa mandiri menghidupi dirinya sendiri dan kedua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar.


"Yuk," Bian menggandeng ibundanya, memasuki ruang meeting.


Fahri nampak sedikit terkejut, ternyata wanita yang jalan bersama Bian beberapa minggu lalu, benar-benar ibundanya. Meski saat ini wanita itu telah berhijab, namun dari gesturnya ia sama seperti wanita yang ia lihat sedang jalan bersama Bian.


"Selamat pagi semuanya," sapa Bian pada semua dewan direksi. "Terima kasih atas kehadirannya, pagi ini saya akan memperkenalkan komisaris perusahaan kita. Claire Florencia." Bian mempersilahkan ibundanya memberikan kata sambutannya.


Awalnya Claire memang terlihat canggung, tapi kemudian lama kelamaan ia mulai bisa mengatasinya. Hampir satu jam meeting, Bian mengantar ibundanya menuju ruang kerjanya, dimana dulu ruangan tersebut di tempati oleh Wijaya.


Claire melihat sekeliling, ruangan itu sama sekali tak ada yang berubah sejak terakhir kalinya ia datang ke kantor Wijaya untuk mengantarkan makan siang untuknya. Foto keluarga dan foto pernikahannya masih terpajang di dinding.


"Jadi selama ini, ayahmu...?" Claire hampir menangis melihat foto tersebut.


"Ayah begitu memuja mama, hanya saja caranya yang salah," ucap Bian. "Kalau mama tidak suka dengan foto tersebut, nanti aku akan suruh orang untuk menurunkannya. Sekarang ruangan ini, kantor ini milik mama, mama berhak melakukan apa pun yang mama suka."


"Tidak Bian, biarkan seperti itu saja." Claire merasa kantor ini tetap milik mantan suaminya, ia tak ingin merubah apa pun sebagai wujud terima kasih dan rasa hormatnya pada Wijaya.


Menjelang tengah hari, Bian pamit. Ia ingin menghampiri istrinya di toko kue, sudah lama sekali ia ingin menyambangi toko kue yang kini membuat istrinya semakin super sibuk, namun ia sendiri pun tak memiliki cukup waktu untuk ke sana. Sehingga hari ini Bian berniat ke sana sekaligus memberikan kejutan untuk istrinya tercinta.

__ADS_1


"Aku pergi dulu ya mah, aku ingin mengajak Nissa makan siang."


Claire mengangguk. "Ya pergi-lah, berikan perhatian lebih untuknya dan calon buah hati kalian. Akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk dengan mama, mama jadi tidak enak dengan istrimu."


Bian tersenyum."Annisa justru senang, aku sering meluangkan waktu untuk mama."


"Ya tapi istrimu juga penting Bian, dia adalah pasangan sekaligus ibu dari anakmu. Jadi kau wajib membahagiakannya, memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Sampaikan peluk hangat mama padanya, katakan weekend ini mama akan menemaninya belanja keperluan bayi."


"Iya mah, aku pergi dulu." Bian mencium tangan ibundanya kemudian ia keluar dari ruang kerja Claire. Sebelum ia pergi meninggalkan kantor, Bian sempat menitipkan ibundanya pada Fahri, dan memintanya menjelaskan mengenai kondisi perusahaannya saat ini.


"Alhamdulillah, bebas..." Bian menghembuskan napasnya ketika ia berada di mobilnya, tanggung jawabnya di perusahaan ayahnya sedikit berkurang sebab ia sudah berhasil mengembalikan perusahaan ayahnya pada ibundanya.


Bian menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraannya menuju toko kue Annisa, namun sebelumnya ia sempat mampir ke toko bunga untuk membeli bunga anggrek kesukaan istrinya.


"Nissa, pesanan lapis legit unt..." suara Margareth terhenti ketika ia melihat Bian memeluk Annisa. "Bi-bian??" ucapnya terkejut.


"Tante?" Bian pun tak kalah terkejutnya dengan keberadaan Margareth di toko kue istrinya. Selama ini Annisa tak pernah mengatakan jika Margareth bekerja padanya, sehingga Bian sama sekali tak mengetahuinya.


"Okay, okay," ucap Annisa mencoba mengurai keterkejutan yang terjadi di keduanya, ia menoleh ke arah Margareth. "Bu Margareth ini adalah suamiku, Biantara Wijaya."


Kemudian beralih ke suaminya. "Sayang, ini ibu Margareth. Beliau salah satu patissier di toko ini," ucap Annisa.


"Maaf sebelumnya jika aku tidak memberitahukan mas Imam mengenai hal ini, sebab, bisnis adalah bisnis. Aku menemukan potensi dan peluang pada ibu Margareth, dan aku sudah menganggap masalah yang kemarin terjadi sudah selesai dan tidak ada kaitannya dengan toko ini," ucap Annisa.

__ADS_1


Margareth mendekat ke arah Bian dan Annisa, ia bersipuh di hadapan keduanya. Ia meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia dan putrinya lakukan kepada Bian dan Annisa. Ia merasa malu pada Annisa sebab orang yang pernah ia hina dan sakiti justru orang yang menolong dirinya.


Annisa bukan hanya memberikan pekerjaan untuknya, namun juga tempat tinggal, lebih jauh Annisa selalu memperlakukannya seperti ibunya sendiri sehingga bagi Margareth itu bisa sebagai obat rasa rindunya terhadap putrinya.


"Jangan seperti ini bu Margareth," Annisa berjongkok dan meminta Margareth untuk kembali berdiri. "Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, aku sudah melupakan semuanya. Yang lalu biarlah berlalu, mari kita jalani hari ini dan hari esok dengan banyak kebaikan."


"Terima kasih Nissa," Margareth memeluk Annisa dengan erat, ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, ia juga minta maaf kepada Bian.


"Benar apa yang di katakan Annisa. Yang lalu biarlah berlalu, mari kita jalani hari ini dan hari esok dengan banyak kebaikan," Bian mengulang kalimat istrinya, ia kemudian meminta Margareth kembali bekerja sebab ia ingin mengajak istrinya jalan-jalan sambil mencari makan siang.


"Maafin aku ya mas, aku enggak cerita kalau mamanya Caroline kerja sama aku," ucap Annisa menyesal.


"Tidak apa-apa sayang, aku justru malah bangga padamu karena mau memaafkan dan menolong orang yang sudah jahat denganmu. Hatimu sungguh luar biasa, membuatku semakin mencintaimu." Bian meraih tangan istrinya kemudian menciumnya.


"Sayang, ke puncak yuk!" ajak Bian secara mendadak. "Aku rindu sekali denganmu." padatnya jadwal kerja Bian dan Annisa membuatnya hanya punya waktu bertemu saat sarapan dan malam hari saja, dan Bian merasa itu tidak cukup.


"Aku tidak bawa baju sayang."


"Kau tidak memerlukan baju saat bersamaku, karena aku akan menghangatkanmu," ucap Bian dengan tatapan menggoda.


"Tapi sekarang aku terlihat gendut sekali, aku malu telanjang bulat di depanmu." Annisa memegang perutnya yang semakin membesar.


"Untuk apa malu? Kan aku yang sudah membuat perutmu seperti ini." Bian mengelus perut istrinya dengan lembut. "Nissaku sayang, semakin hari kamu terlihat semakin cantik, dan kamu membuatku semakin mencintaimu," Bian kembali mencium tangan Annisa dan membawanya bersandar si bahunya selama perjalanan menuju puncak-Bogor.

__ADS_1


...-SELESAI-...


__ADS_2