Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 37


__ADS_3

Bian kembali ke Jakarta dengan wajah lesunya, ia menutuskan untuk masuk kantor karena di rumah pun pasti sepi tanpa adanya Annisa dan ibunya dan masalah Rangga, sudah ia serahkan pada pengacara dan pihak kepolisian, mereka tengah mengejar pelaku penembakan Rangga.


Hari itu Bian terlihat bekerja dengan sangat keras, seolah ia ingin melupakan sejenak masalah rumah tangga yang baru saja ia bina beberapa hari yang lalu. Meeting bersama WO untuk acara resepsinya pun terpaksa ia tunda dalam jangka waktu yang tak bisa ia tentukan sebab ia tak tahu kapan Annisa akan pulang.


Menjelang petang barulah Bian berhenti bekerja, namun ia tak langsung pulang, ia memandangi senja dari rooftop kantornya sembari menikmati sekaleng soda dingin.


"Ternyata bapak di sini," Widya melangkah mendekat ke arah Bian.


"Ada apa? Dokumen yang kau berikan tadi sudah aku tanda tangani, kau ambil saja di meja kerjaku," ucap Bian kemudian ia menyesap sodanya.


"Sudah aku ambil dan aku berikan pada project manager," ia duduk di samping Bian dan mengambil minuman soda yang berada di sebelah Bian. "Aku hanya takut bapak lompat dari gedung karena masalah yang menimpa rumah tangga bapak. Aku masih ingin naik gaji bulan ini."


Bian mengerutkan keningnya, ia pikir Widya mengkhawatirkan dirinya atau rumah tangganya namun ia hanya mengkhawatirkan gajinya. "Gajimu bulan ini aku potong!!" ucap Bian ketus.


Lama mereka saling diam hingga akhirnya Bian buka suara. "Harusnya sejak awal aku menceritakan masa laluku, agar Annisa tidak merasa di bohongi. Dia penyesal telah menikah denganku, dia pasti menyesal karena aku bukan imam yang baik untuknya."


"Allah sudah menutup aib bapak, hanya saja di bongkar oleh ulat keket. Aku justru heran, mengapa ada wanita tidak tahu malu seperti dia, yang terang-terangan mengatakan pernah tidur dengan pria yang bukan mahromnya selama bertahun-tahun, bukankah itu aib?" Widya kembali menenggak minumannya. "Walau pun dengan alasan meminta tanggung jawab, tetap saja tidak ada kewajiban bagi si pria untuk bertanggung jawab terhadap wanita yang bukan menjadi istrinya. Apa lagi dia di celup sana sini bisa-bisanya mengaku pernah hamil dengan bapak, kita tidak pernah tahu dia hamil dengan pria mana?" Widya tersenyum sinis.


"Dia hamil waktu kita masih SMA, untuk itulah aku tidak bisa bertanggung jawab. Aku memintanya untuk menggugurkan kandungannya," ucap Bian tanpa melihat ke arah Widya.


"SMA? Apa bapak belum mengenal alat kontrase*si sampai-sampai ulat keket itu hamil?"

__ADS_1


"Aku selalu menggunakan cond*m, tapi menurut dia bisa saja bocor sehingga membuatnya hamil."


'Bocor?' batin Widya. "Apa bapak sekolah di SMA Pancasila, angkatan 2006?"


Bian mengangguk. "Apa kau punya teman di sana?"


"Aku permisi dulu pak, Assalamualaikum.." Widya beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Bian di rooftop.


"Dasar sekretaris aneh," gumam Bian, ia berpikir rasanya ia tak asing dengan wajah Widya sebelum dia bekerja dikantornya. Aku memang tidak pernah hapal dengan orang-orang yang tidak populer di sekolah.


...****************...


Tak terasa dua hari sudah Annisa berada di Jogja, ia pikir dengan jauh dari Bian ia bisa menenangkan diri dari kemelut rumah tangganya, namun nyatanya tidak. Meski ia di sibukan dengan kepengurusan perpindahan kuliahnya, nyatanya Bian selalu hinggap di pikirannya.


"Maaksud ibu berpisah dengannya?"


"Iya," jawab Sekar tegas. "Kalau kamu memang benar-benar tidak bisa menerima masa lalu suamimu, kamu lepaskan. Silahkan kamu cari pria sempurna tanpa doa sesuai dengan kemauanmu! Jangan terus menerus kamu mendiamkannya, dosa Nis!!"


Annisa jelas tak menggingakan perpisahan, ia masih begitu mencintai suaminya. Hanya saja... "Permasalahan ini bukan hanya sekedar masa lalu mas Imam, bu. Tapi aku merasa seperti merebut mas Imam dari wanita itu, wanita itu sudah pernah mengandung bayi mas Imam, dan dia juga yang menemani mas Imam, harusnya mas Imam tidak menyingkirkannya begitu saja."


Sekar tersenyum mendengar ucapan putri bungsunya. "Nak, bukankah kamu paham, dalam ajaran agama kita tidak ada yang namanya pacaran, jadi kamu tidak merebut Imam dari siapa pun. Suamimu menikahimu dengan status lajang, lagi pula kau dengar sendiri dari mulut suamimu, jika dia dan wanita itu sudah putus sebelum kau mengenal suamimu. Lantas di mana letak merebutnya?" Sekar bergeser, lebih mendekat ke putrinya, ia mengelus kepala putrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Kalau wanita itu mengatakan berkat dia, sekarang suamimu bisa berhasil. Dia salah besar, bapaknya-lah yang menyekolahkan Imam hingga sampai kuliah di luar negeri. Apa kamu tidak melihat foto suamimu bersama ayahnya saat suamimu wisuda, yang terpajang di kediaman almarhum ayahnya? Ayahnya-lah yang membekali Imam ilmu yang cukup untuk membangun bisnisnya," Sekar meraih tangan Annisa dan menggenggamnya. "Misi terbesar setan adalah menceraikan pasangan suami istri, apa kamu akan membiarkannya berhasil menyelesikan misinya dan membuat hatimu dan hati suamimu terluka?"


Annisa terdiam, air matanya tak bisa lagi ia bendung. "Saat ini suamimu membutuhkanmu, Nis. Bantu dia keluar dari jerat bayang-bayang masa lalunya. Ibu tahu ini tidak mudah, tapi ibu percaya kamu bisa."


Annisa memeluk ibundanya dengan erat. "Aku mau pulang, bu.. Hiks... Aku mau kembali ke Jakarta."


"Kembali-lah sayang," Sekar mengelus punggung Annisa dengan lembut. "Ibu masih mau di sini, kamu tidak perlu khawatir, ada mbok Darmi yang akan menemani ibu."


Aanisa melepaskan pelukannya dan menatap ibundanya. "Nanti Nissa jemput ke Jakarta lagi ya."


Sekar mengangguk. "Iya sayang, ibu akan tinggal bersamamu di sana, tapi seminggu ini di sini dulu ya."


Annisa setuju, kemudian ia merapihkan barang-barangnya sembari mencari tiket pesawat. "Kamu tidak minta jemput suamimu?"


Annisa menggeleng. "Aku mau buat kejutan, bu."


"Ya sudah, kamu baik-baik ya di sana." Sekar menemani putrinya berkemas lalu mengantarnya hingga teras.


Baru saja Annisa hendak membuka pintu pagar rumahnya, Widya turun dari mobil dan langsung menghampirinya. "Ukhti, ayo ikut aku sekarang!" ia menarik tangan Annisa masuk ke mobilnya.


"Hei mau kemana ini?" tanya Annisa bingung.

__ADS_1


"Sudahlah, pokoknya ukhti ikut saja denganku!!"


__ADS_2