
DUA BULAN KEMUDIAN
Kini Bian bisa bernapas lega, setelah melewati persidangan yang rumit melawan Rudi, mantan suami ibundanya akhirnya hakim menjatuhi hukuman, kurungan penjara selama lima tahun.
Sidang di pengadilan agama pun sudah rampung, hakim mengabulkan permohonan cerai mamanya dan memberikan hak asuh anak, Kylie dan Farel pada Claire. Kedua adiknya kini bisa sekolah seperti biasa tanpa perlu home schooling lagi, Annisa memasukan ke sekolah Internasional yang tak jauh dari kediaman mereka.
Bian melirik ke arah jam dinding yang berada di ruang kerjanya, jam sudah menujukan pukul 11.00 siang. Sudah saatnya ia keluar dari kantor dan memenuhi janjinya, menemani mamanya berbelanja. Ia menjemput mamanya di kediaman mamanya.
Sebelum berbelanja, Bian mengantar Claire berziarah ke makam almarhum ayahnya. Di depan pusara ayahnya, Bian menggenggam tangan Claire, dan menatapnya dalam. "Mah, aku tahu ayah sudah menyakiti mama, tapi aku mohon mama maafkan semua kesalahan papa, agar papa tenang di sana," pinta Bian sungguh-sungguh.
Claire terdiam cukup lama, perlahan buliran-buliran bening jatuh dari mata birunya. Ia teringat semua kenangan bersama almarhum mantan suaminya, baik itu kenangan indah maupun kenangan yang begitu menyakitkan. "Dia memang menyakiti mama, tapi tak bisa mama pungkiri banyak juga kebaikan yang telah dia perbuat, terutama dia telah mendidikmu hingga kamu menjadi anak yang membanggakan seperti ini," Claire mencoba untuk memaafkan dan melupakan kenangan buruk itu. Ia berdoa dengan setulus hatinya, agar amal ibadah Wijaya di terima Allah dan di tempatkan di tempat yang terindah.
Selesai berziarah, barulah Bian mengantar mamanya ke mall. Sebetulnya Claire hanya ingin berjalan-jalan, sebab sudah lama sekali ia tidak keluar dengan bebas, setiap kali keluar harus bersama Rudi dan Rudi selalu mengaturnya, menjadikannya sebagai bahan pencitraan bahwa dia adalah sosok family man, namun pada kenyataannya tidak sama sekali.
"Apa kamu tidak ingin membelikan sesuatu untuk istrimu?" tanya Claire ketika mereka telah sampai di mall. "Mama akan senang sekali membantumu memilihkan barang untuk menantu cantik mama."
"Kurasa aku ingin membelikannya pakaian, dia jarang sekali berbelanja padahal aku sering menyuruhnya berbelanja," Bian merangkul pundak ibundanya menuju tempat pakaian muslim.
Di tempat itu Bian mengambil beberapa potong pakaian panjang, dan beberapa hijab dengan warna senada. "Bagaimana menurut mama?" tanya Bian meminta pendapat ibundanya.
"Bagus...modelnya cukup sederhana namun anggun, warna-warna yang kamu pilih warna-warna yang sangat lembut cocok untuk istrimu," Claire berkomentar. Bian kemudian membawanya ke kasir dan membayarnya, setelah itu ia kembali lagi ke mamanya dan mengajaknya ke tempat lain.
Claire meminta Bian mengantarnya ke toko tas, untuk melihat-lihat mode yang tengah trend saat ini. Dulu saat masih bersama Wijaya, dia selalu menghadiahi Claire tas-tas brand ternama dunia keluaran terbaru sehingga Claire selalu menjadi pusat perhatian teman-teman arisannya. Namun semenjak dengan Rudi, jangan kan tahu model yang sedang trend, punya satu saja Claire sudah bersyukur.
"Pilih-lah yang mana yang mama suka," ucap Bian.
"Mama beli dua ya, untuk istrimu juga."
Bian mengangguk. "Beli banyak juga boleh," ucapnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Puas berbelanja, Bian mengajak Claire menikmati ice cream terenak di mall itu, yang biasa ia nikmati bersama istrinya. "Apa mama mau coba rasa strawberry stracciatella? Ini rasa favorit Nissa," ucap Bian.
"Boleh," Claire mengangguk. Kemudian Bian menyuapi ibundanya dengan ice cream miliknya. "Bagaimana?" ia mengelap sisa ice cream di bibir Claire dengan jemarinya.
"Masih enak punya mama, mama tidak begitu suka strawberry. Kamu mau coba punya mama?"
"Mau," jawab Bian. Kemudian Claire menyuapi Bian dengan ice cream rasa green pistachio miliknya. "Lebih enak bukan?" tanya Claire.
Bian mengangguk. "Mau lagi," pintanya. Ini bukan perkara rasa mana yang paling enak, namun Bian merasa senang bisa bermanja-manja dengan ibundanya.
Hari itu Bian tak hanya mengajak ibundanya berbelanja, dan makan ice cream namun ia juga mengajak Claire nonton bioskop hingga bermain tempat permainan (Timezone). Rasanya sudah lama sekali Bian tak melihat, ibundanya tertawa lepas seperti ini, ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu berusaha membahagiakan ibundanya.
"Nak, sudah sore. Kita pulang yuk, Kylie dan Farel sebentar lagi pulang. Kamu juga harus jemput istrimu kan?" tanya Claire.
Bian menggeleng. "Hari ini Annisa sedang tidak keluar, ia mengajak teman-temannya ke rumah untuk belajar kelompok jadi aku sengaja pulang agak terlambat, agar teman-teman Annisa pulang dulu. Tapi ya kita lebih baik pulang, nanti Kylie dan Farel mencari mama." Bian mengantarkan Claire pulang.
"Ya, ajak juga ibu mertuamu, kakak ipar dan juga Maria, Maria asisten yang sangat menyenangkan," ucap Claire, ia mengambil belanjaannya di bangku belakang, dan bersiap untuk turun.
"Mah," Bian menahan Claire untuk turun dari mobilnya.
Claire berbalik menghadap Bian. "Iya nak, ada apa?"
Bian mengulurkan paper bag yang berisi pakaian yang tadi ia katakan untuk Annisa, namun sebetulnya ia membelikan untuk ibundanya. "Loh, bukankah ini untuk Nissa?"
Bian menggeleng. "Aku ingin mama memakainya, tapi aku tidak akan mmemaksa jika mama belum siap. Mama bisa pakai jika saat pengajian atau acara halal bihalal saja," ucap Bian.
Claire tersenyum kemudian menerimanya. "Terima kasih ya nak," sekilas Claire mengelus wajah putranya kemudian ia turun dari mobil putranya.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Annisa, Fahri terlihat sangat bingung. Berkali-kali ia bolak balik tak karuan di depan Annisa dan Widya. Untungnya saat Fahri datang, teman-teman Annisa sudah pulang, dan ia sedang berdiskusi dengan Widya.
"Mas Fahri kenapa sih, kaya setrikaan aja?" tanya Annisa kesal karena kakanya telah merusak moodnya menikmati ice cream.
"Jadi begini," Fahri duduk di sebelah kanan Annisa sementra Widya di sebelah kiri. Fahri menatap Annisa dalam-dalam. "Aku punya berita yang mungkin saja tidak enak untukmu, tapi kamu tidak perlu khawatir karena aku pasti akan memberikan pelajaran untuk suamimu."
Annisa mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti apa yang kakaknya bicarakan. "Apaan sih mas?" tanya Annisa penasaran. Tak hanya Annisa yang di buat penasaran, tapi juga Widya dan ibundanya yang mendengar ucapan Fahri.
"Iya ada apa sih?" tanya Widya.
"Tadi saat aku beli ice cream ini, aku melihat Bian sedang suap-suapan dengan seorang wanita, kayanya sih bule soalnya dari belakang keliatan rambutnya pirang dan kulitnya putih sekali seperti susu," ucap Fahri hati-hati, ia memperhatikan raut wajah Annisa terlihat datar saja, sehingga ia kembali melanjutkan ceritanya. "Tadinya aku mau samperin tapi aku sedang antri ice cream, begitu aku selesai antri. Mereka berjalan ke arah bioskop dan sepertinya mereka nonton."
"Jangan asal fitnah kamu, Far. Salah-salah kamu dosa loh!" ucap Sekar, ia sama sekali tak percaya menantunya berselingkuh.
"Aku punya buktinya bu," Fahri mengeluarkan handphonenya dari sakunya, kemudian ia memperlihatkan foto Bian masuk ke bioskop bersama wanita itu.
Annisa tertawa terbahak-bahak melihat foto tersebut. "Kok kamu malah ketawa sih Niss, liat suami kamu jalan sama wanita lain?" tanya Fahri heran.
"Itu mah mamanya mas Imam," Annisa juga mengambil handphonenya, ia memperlihatkan isi chat berisi foto yang di kirimkan oleh Claire ketika ia nonton bersama Bian. "Nih liat, baju sama rambutnya sama kan? Dengan yang ada di foto mas Fahri?"
"Iya juga ya?" Fahri memperhatikan foto pada handphone Annisa, ia nampak mengingat-ingat wajah Claire yang tak asing baginya.
"Kalau mas masih enggak percaya, tuh di ruang tamu ada foto keluarga mas Imam. Mas samain deh foto ini sama yang di ruang tamu, pasti sama. Mama mertuaku sama sekali tidak ada kerutannya, wajahnya mulus seperti barbie," ucap Annisa.
"Tuh kan, Fahri kamu sudah suudzon sama Imam," ucap Sekar.
"Ah iya aku ingat." Fahri baru menyadari jika di kantornya pun ada foto pak Wijaya bersama Istrinya. "Ia bu, aku minta maaf. Aku takut Bian menyakiti Annisa," ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Insyaallah enggak mas, aku selalu percaya Allah menjaga suamiku," ucap Annisa, ia memegang lengan kakaknya. "Terima kasih udah peduli sama adek."
__ADS_1