
"HENTIKAN CAROLINE...!" Bian yang baru saja keluar melalui pintu samping langsung menghampiri Caroline yang memanpar istrinya.
Widya pun yang baru saja tiba, dan menyaksikan kejadian itu tak kalah terkejutnya karena Caroline berani menampar Annisa.
"KAU INI APA-APAN CAROLINE, DATANG-DATANG MEMBUAT KERIBUTAN!" bentak Bian, ia tak bisa menahan rasa amarahnya melihat Caroline berani menampar istrinya. Bian beralih ke Annisa, rasa cemas mulai menghampirinya. "Kamu enggak apa-apa sayang?" Bian mengangkat tangannya hendak menyentuh Annisa namun Annisa mundur menjauhi suaminya. "Ada apa ini mas? Siapa wanita itu?" tunjuk Annisa pada Caroline.
"Sudahku katakan aku calon istrinya, kami hampir menikah kalau kau tidak merebutnya," sahut Caroline.
Tatapan Bian beralaih ke arah Caroline. "Kita sudah putus sejak enam bulan yang lalu, apa kau lupa itu?" Bian mengingatkan pada kejadian ketika dirinya menemukan Caroline tidur bersama pria lain.
"KAU TIDAK BISA MEMUTUSKANKU BEGITU SAJA BIAN, SETELAH SEMUA YANG KUBERIKAN PADAMU SELAMA SEPULUH TAHUN. WAKTU, CINTA, PERHATIAN DAN TUBUHKU SEMUANYA UNTUKMU!!"
"Tubuh," ucap Annisa dengan suara gemetar, ia tak bisa membayangkan jika suaminya telah berhubungan intim dengan wanita lain bahkan selama sepuluh tahun.
"YA, AKU BAHKAN PERNAH MENGANDUNG ANAKNYA," Caroline mengarahkan jari telunjuknya ke arah Bian. "TAPI PRIA ITU MEMINTAKU UNTUK MENGGUGURKANNYA KARENA DIA TIDAK SIAP UNTUK BERTANGGUNG JAWAB."
Annisa membekap mulutnya dengan kedua tangannya, mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Caroline. Tubunya bergetar, air mata mengalir deras di mata. Baru saja semalam ia dan suaminya membahas mengenai program kehamilan, kini ia mendapati fakta jika suaminya bukan hanya pernah berzinah selama sepuluhn tahun, namun pernah juga menggugurkan darah dagingnya sendirinya.
"SEBAGAI GANTINYA PRIA ITU BERJANJI AKAN MENIKAHIKU SETELAH DIA MAPAN, TAPI APA NYATANYA? SETELAH DIA MAPAN, SETELAH DIA MEMILIKI SEGALANYA, DIA JUSTRU MENCAMPAKAN ORANG YANG SELAMA INI MENEMANINYA."Caroline meatap Annisa tajam. "SEKARANG KAU SUDAH MENGETAHUI FAKTANYA, AKU MINTA KEMBALIKAN DIA PADAKU!!"
__ADS_1
Bian menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang, kau harus percaya padaku. Aku sudah putus dengannya sejak enam bulan yang lalu, aku sama sekali tak memiliki hubungan apa-apa dengannya," ia terus menyakinkan istrinya agar percaya dengannya, Bian ingin menghapus air mata yang di membasahi pipi Annisa tetapi menolak untuk di sentuhnya, Annisa semakin menjauh darinya.
"BIAN, KAU INI SEPERTI KACANG YANG LUPA DENGAN KULITNYA, TIDAK KAH KAU INGAT. DI SAAT KAU TIDAK MEMILIKI SIAPA-SIAPA, AKU LAH YANG MENEMANIMU, MENSUPORTMU, BUKAN WANITA KAMPUNG INI. DIA ADA DI SAAT KAU SUDAH..."
Dengan wajah marahnya Bian berbalik mengahadap Caroline. "TAPI KAU JUGA YANG MENGHANCURKAN AKU, KAU KHIANATI AKU DENGAN TIDUR BERSAMA PRIA LAIN!!"
"SAAT ITU AKU MABUK BIAN, AKU TIDAK SADAR JIKA AKU TIDUR DENGAN PROA LAIN."
Mendengar pertengkaran yang terjadi antara Bian dengan mantannya membuat dada Annisa semakin sesak, ia sudah tidak tahan lagi mendengarnya. Annisa berbalik dan berlari masuk ke kediamannya.
"Annisa..." panggil Bian.
"BRENGSEK KAU CAROLINE!! PERGI KAU DARI RUMAHKU! PERGI!!!!" usir Bian, ia memerintahkan security untuk menyeretnya keluar.
Widya sendiri tak bisa berbuat banyak, sebab ia sudah berusaha mencegah Caroline datang namun sia-sia. Ia pun berbalik dan masuk ke mobilnya sebab sedari tadi mantannya sudah menghubunginya dan menayakan di mana ia membawa mobilnya.
Di dalam mobil, sebelum ia menyalakan mesin mobil Widya menghela napas berat. Ia berharap rumah tangga bosnya baik-baik saja, dan Annisa bisa menerima masa lalu bosnya, meski rasanya pasti sangat sakit, ia sendiri tak bisa membayangkan jika berada di posisi Annisa.
Widya menoleh ke bangku belakang, ia terkejut melihat alat kontrase*si berada di sana, namun di satu sisi ia senang karena terselamatkan dari pria brengsek. "Aku mau cari pasangan seperti ukhti Nisa, versi pria," gumam Widya, kemudian ia mengemudikan kendaraannya.
__ADS_1
Sementara itu Bian berlari menyusul Annisa, langkah ia pun terhenti ketika berpapasan dengan ibu mertuanyanya yang memasang wajah kecewanya. "Aku bisa jelasin semuanya bu," ucap Bian kemudian beralalu mengejar Annisa ke kamar.
Annisa telah mengunci pintu sebelum Bian masuk. "Nis... Aku tahu aku salah, tapi aku mohon padamu, dengarkan penjelasanku," pintanya lirih.
Bian sama sekali tak mendengar jawaban dari dalam, ia tahu kini pasti istrinya tengah terluka, ingin sekali ia memeluk Annisa. "Nis... Buka pintunya sayang..." pinta Bian.
Sudah tiga puluh menit Bian berada di depan pintu kamarnya, namun Annisa tak kunjung membukanya, hingga akhirnya ia mendapatkan satu panggilan masuk dari dari salah satu The Moge.
"Bi, Rangga terkena tembakan oleh kawanan yang waktu itu menyerang genk kita di markas lama. Pagi tadi mereka menyerang markas kita, dan bukan hanya itu markas genk vespa pun kena imbasnya."
"Bagaimana kondisi Rangga?" tanya Bian.
"Kritis, organ dalamnya terkena peluru. Dekarang dia sedang di operasi dan membutuhkan banyak darah. Darah loe AB negatif kan? Stok di PMI dan di rumah sakit ini habis, apa loe bisa ke sini?"
"Gue ke sana sekarang!" Bian mematikan teleponnya.
"Sayang, aku pamit keluar sebentar. Ada hal penting yang harus aku bereskan," ucap Bian dari balik pintu, ia kemudian berlari menuju garasi dan pergi menujunrumah sakit dengan menggunakan motor gedenya.
Dari jendela balkon kediamannya Annisa melihat kepergian suaminya.
__ADS_1