Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 6


__ADS_3

Bian mengikuti arah jalan yang di tunjukan oleh Annisa, meski baru pertama menginjakkan kakinya di desa Sidorejo, namun Bian tak memiliki kesulitan untuk menemukan kediaman Fahri.


Rumah bercat dinding hijau itu terlihat sangat sejuk, dengan bunga-bunga cantik yang tertata rapih di halaman depannya, namun rumah itu terlihat sangat sepi. "Apa dia dan keluarganya sudah melarikan diri," gumamnya. "Cih hanya uang dua ratus lima puluh juta saja sampai melarikan diri," ia melangkah masuk ke halaman kediaman Fahri. Meski terlihat sepi, Bian tetap mencoba mengetuk pintu, takut kalau-kalau ada orang di dalam.


Beberapa kali mengetuk puntu, tak ada juga tanda-tanda keberadaan seseorang di dalam, Bian duduk sejenak di teras, menselonjorkan kakinya, ia baru merasakan lelah bergelayut di tubuhnya.


Angin sepoy-sepoy, membuat Bian tanpa sengaja memejamkan matanya. Lama ia tertidur di depan teras kediaman Fahri, hingga akhirnya seorang ibu-ibu paruh baya membangunkannya. "Nak, sedang apa kamu tidur di sini?" ibu-ibu itu menepuk-nepuk lengan Bian dengan lembut.


Perlahan Bian membuka matanya, ia langsung terkejut melihat ibu-ibu paruh baya di depan matanya. Bian melihat sekeliling sembari mengingat-ingat, sesaat sebelum dirinya tertidur di depan kediaman Fahri.


"Nak, kamu sedang apa tidur di sini?" ulang ibu-ibu itu.


Bian beranjak dari lantai sembari merapihkan pakaiannya. "Apa benar ini rumah Fahri?" tanya Bian memastikan alamat yang di berikan oleh temannya benar.


Ibu-ibu itu mengangguk. "Iya, ini rumahnya mas Fahri. Tapi kalau pagi sampai siang hari, mas Fahri biasanya ada di rumah sakit jaga ibunya, gantian dengan adiknya," terang ibu-ibu itu yang rupanya merupakan tentangga sebelah rumah Fahri, ia yang kebetulan lewat dari rumah Fahri rupanya penasaran dengan Bian yang tertidur di teras kediaman Fahri, sehingga ia menghampiri Bian.

__ADS_1


"Rumah sakit?" Bian tergelitik untuk mengetahui penyakit yang di derita oleh ibunda Fahri, ia menduga jika Fahri menggunakan uang tersebut untuk membiayai pengobatan ibundanya. 'Jika memang benar untuk biaya rumah sakit, untuk apa dia sampai melarikan diri? bikin repot saja.' batin Bian. "Boleh saya tahu di rumah sakit mana ibunya Fahri di rawat?"


Begitu ibu-ibu tadi memberikan alamat tempat ibunda Fahri di rawat, Bian langsung pamit dan meninggalkan kediaman Fahri. Bian tak hanya mendapatkan informasi alamat rumah sakit, melainkan sekaligus dengan rungan tempat ibunda Fahri di rawat, hal itu tentu memudahkan Bian untuk langsung menemui Fahri.


Sasampainya di depan ruang rawat inap ibunda Fahri, dengan sopan Bian mengetuk pintu. Dari balik pintu Bian mendengar suara yang tak asing baginya menyahuti ketukan pintunya. Ya, suara itu merupakan suara dan derap langkah Fahri yang mendekat untuk membuka pintu.


Bian membalik tubuhnya ke arah pintu, begitu Fahri membuka pintu. Dengan wajah panik dan ketakutan, Fahri langsung menutup kembali pintu ruang rawat inap ibundanya.


Dengan cepat Bian langsung menahan pintu agar pitu itu tidak tertutup. "Mau lari kemana kau bajingan?!!" ia manatap Fahri dengan tatapan tajam. Aksi dorong mendorong serta tarik menarik pintu pun tak terhindarkan lagi. Fahri sekuat tenaga berusaha menutup pintu, sementara Bian sembari melontarkan umpatan kasar mencoba menahan pintu tetap terbuka dan berusaha menarik Fahri keluar. "Keluar kau dasar pecundang!!"


Seketika Bian melepaskan tangannya dari, ia mendongak, menatap suara wanita yang tak asing baginya meski ia baru mendengar suara itu hari ini. "Nissa..." ucap Bian dengan penuh keterkejutan, ia tak menyangka jika bisa kembali bertemu dengan Annisa, gadis cantik berkerudung putih yang ia tolong di pasar pagi tadi.


"Mas Imam," binar mata Annisa pun menujukan keterkejutannya melihat Bian, ia kemudian beralih ke Fahri. "Mas Fahri kenal mas Imam?"


"Harusnya aku yang tanya, dari mana kamu kenal brandalan satu ini? Mau saja kau di tipu olehnya, namanya Bian bukan Imam." dari nada bicara Fahri jelas terdengar jika ia amat memprotect adik perempuannya.

__ADS_1


Bian mengibaskan rambutnya, sembari menatap sinis ke arah Fahri. "Biantara Imam Wijaya!!" ia meperjelas nama panjangnya agar Fahri tak mengira ia membohongi adiknya. "Kau yang penipu, kau yang sudah membawa kabur uang...."


Fahri langsung mebekap mulut Bian dan menariknya ke luar. "Mas selesaikan urusan mas dulundengan Bian, kau jaga ibu baik-baik," Fahri menoleh ke arah adiknya, sembari menutup pintu ruang rawat inap.


Fahri menarik Bian ke taman yang tak jauh dari ruang rawat inap ibundanya, begitu sampai di taman, Fahri menghempaskan tubuh Bian. "Gue peringatin sama loe, jangan coba-coba loe deketin adek gue," ia menatap Bian dengan tatapan membunuh.


"Gue tahu gue salah karena telah memakai uang kas anggota genk untuk biaya pengobatan ibu gue, tapi gue janji bulan depan setelah gue kerja di tempat yang baru, gue bakalan ganti. Gue enggak akan lari dari tanggung jawab, gue bakal ganti semuanya sekalian gue mengundurkan diri. Jadi, jauhin adek gue!! Gue enggak mau adek gue deket-deket sama cowok brengsek kaya loe."


Bian merapihkan pakaiannya, ia pun menatap Fahri dengan tatapan yang sama tajamnya. "Oke, gue pengang kata-kata loe. Bulan depan loe enggak balikin duit itu loe bakal gue habisin," tunjuk Bian, ia sama sekali tak menyinggung soal Annisa sebab perkenalannya dengan Annisa tidak ada sangkut pautnya dengan Fahri.


Bian pergi meninggalkan rumah sakit, ia berpikir mungkin setelah ini ia akan beristirahat di hotel sebelum ia kembali ke Jakarta, dan berencana untuk menalangi uang yang di pakai Fahri sampai Fahri bisa mengembalikan uang kas genknya, tak bisa ia pungkiri bahwa Bian merasa iba atas kondisi ibunda Fahri dan Annisa, gadis cantik yang baru saja ia kenal, Bian pun sebenarnya percaya jika Fahri akan mengembalikan uangnya meski tidak dalam waktu dekat ini.


Sesampainya di parkiran, Bian kembali menunggangi motornya, dan ketika ia hendak mengenakan helmnya ia mendengar suara Annisa yang memanggil namanya. "Mas Imam, tunggu..." gadis itu berlari menghampiri Bian.


Sesaat Annisa mengatur napasnya ketika berada di depan Fahri. " Mas Imam, apakah seseorang yang mas Imam cari hingga ke Jogja dan yang membawa kabur uang kas komunitas motor mas Imam adalah kakakku?"

__ADS_1


Bian terdiam cukup lama, di satu sisi ia tak ingin berbohong dengan Annisa, tapi di sisi lain ia pun tak ingin Annisa kecewa dengan kakaknya. Dari sorot mata Fahri sangat jelas terlihat dia merupakan sosok kakak yang selalu ingin menjadi superhero adiknya. "Iya," jawab Bian.


__ADS_2