
Annisa tak jadi mengunjungi ruko barunya, sebab ia pikir besok saja ke sananya sekalian bersama Margareth sehingga ia langsung menuju kedai sotonya yang berada di bandara.
Nampaknya hari ini menjadi hari kerusuhan bagi Annisa, karena setelah tadi ia melihat demo di jalan, sekarang ia melihat sepasang suami istri tengah ribut di kedainya.
Annisa bergegas menghampirinya sembari menyuruh Hana memanggil security karena napaknya sang suami marah besar terhadap istrinya. Bahkan sang suami sudah mengangkat tangannya dan sang istri menyembunyikan kepalanya dengan tangannya, di bawah sang ibu ada dua anak kecil yang memeluk kakinya.
"HENTIKAN!" Beruntung Annisa telah terlebih dahulu menepis tangan pria itu sehingga tak mengenai sang wanita.
"Jangan ikut campur dalam masalah rumah tanggaku," sang pria menatap tajam ke Annisa, kobaran kemarahan terlihat jelas dari sorot matanya. Namun Annisa sama sekali tak takut. "Ini adalah rumah makanku, jadi anda jangan membuat keributan di sini!" ucap Annisa tegas.
Pria membuang wajahnya sekilas kemudian ia menarik tangan istrinya dengan paksa. "Ayo pergi dari sini!" ia menariknya dengan kasar, tapi sang istri menolak.
"Aku tidak mau, aku tidak mau lagi tinggal bersamamu," sang wanita menolak sembari mempertahankan anak-anaknya. Aksi tarik menarik pun tak terhindarkan lagi, namun untungnya hanya berlangsung singkat sebab securty dan orang-orang di sekitar banyak yang membantunya.
Pria tersebut merasa sangat di pojokan, hingga akhirnya dia pergi meninggalkan kedai soto milik Annisa.
Wanita itu terkulai lemas, duduk ditempat duduknya sembari memeluk kedua anak-anaknya. Annisa nampak memperhatiakan wanita yang tak asing baginya, begitu ia ingat ia langsung mengatakan. "Mama..." ucap Annisa tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Wanita yang selama ini selalu suaminya cari, kini ada di hadapannya. "Mama..." ulang Annisa, dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa haru, sedih dan bahagia bercampur menjadi satu melihat sosok wanita yang telah melahirkan pria yang sangat ia cintai.
"Mama?" Wanita itu mendongak menatap Annisa. "Maaf, anda siapa? Aku tidak memiliki anak perempuan," Claire menghapus air matanya dan mencoba tersenyum pada Annisa sebagai ucapan terima kasih karena telah menolongnya, namun di satu sisi ia pun bingung mengapa Annisa memanggilnya mama.
"Aku Annisa, istri dari mas Biantara Imam Wijaya, anak sulung mama," Annisa meraih tangan Claire. Ingin sekali Annisa memeluk waniya itu namun, wajah Claire berubah ketika mendengar Annisa menyebutkan nama putra sulungnya.
"Maaf anda salah orang," ucapnya. Claire bergegas menarik koper-kopernya dan mengistruksikan kepada anak-anaknya untuk segera keluar dari kedai.
__ADS_1
"Maaf saya harus pergi, pesawat saya sebentar lagi akan take off. Terima kasih atas bantuannya, saya tidak akan melupakan kebaikan anda." Claire membalik tubuhnya dan bersiap untuk pergi, namun Annisa menahannya.
"Tidak. Mama jangan pergi," cegahnya. "Aku akan menghubungi mas Imam untuk segera datang kemari."
"Sudah saya katakan anda salah orang," Claire meninggikan nada bicaranya. "Maaf, saya harus pergi." ia merasa bersalah karena hampir membentak Annisa, sehingga ia kembali menurunkan nada bicaranya.
"Tidak mah, mama tidak boleh pergi. Mas Imam selama ini mencari mama," cegah Annisa. "Mas Imam ingin sekali bertemu dengan mama, aku mohon jangan pergi, mah, mas Imam begitu merindukan mama." Annisa terus memohon agar Claire tidak pergi sebelum suaminya datang, ia sangat tahu betapa Bian merindukan ibu kandungnya, betapa Bian sering memimpikan bertemu dengan ibu kandungnya. "Aku mohon mah, tunggu sebentar saja."
"SUDAH KUKATAKAN ANDA SALAH ORANG!!" Bentak Claire sembari mengibaskan tangan Annisa yang menagan tangannya.
"Lepasin mama, Niss!" perintah Bian dengan lembut, ia berdiri di ambang pintu menatap ibundanya dengan penuh kerinduan. "Biarkan mama pergi, jika memang itu kemauannya." Bian berjalan perlahan mendekati mamanya.
Air mata Claire mengalir deras di wajahnya, ia hanya terdiam ketika Bian memeluknya dengan erat. Claire menagis sejadi-jadinya di pelukan putra sulungnya, begitu pun Bian ia pun tak bisa menahan rasa haru bahagia bercampur kesedihan dan kerinduan yang selama ini ia rasakan. "Mama," bisiknya lirih.
Annisa menyeka air matanya dan tersenyum melihat pemandangan yang begitu indah baginya, yang sudahnia tunggu sejak lama. Annisa menarik kedua bocah yang bersama ibu mertuanya. "Ikut kakak ke belakang yuk!" ajak Annisa.
"Coklat," jawab kedua bocah itu bersamaan.
"Oke, tunggu sebentar ya," ucap Annisa, dengan cekatan ia meracik ice cream coklat special untuk kedua bocah itu.
Ketiganya menikmati ice cream di dapur, sembari Annisa membantu pegawainya menyiapkan pesanan dan Annisa mengobrol ringan kedua bocah itu, tiba-tiba saja kedua bocah itu menghampiri Annisa dan membantunya menyiapkan pesanan pelanggan. Annisa sudah melarangnya namun kedua anak itu memaksa, hingga akhirnya Annisa mengizinkannya membantunya.
"Kylie, Farel, kok malah ganggu kakak? Yuk kita jalan!" Ajak Claire kepada kedua buah hatinya, keduanya langsung mendekat ke arah ibundanya. Dan Annisa menyusul mereka mendekat ke arah Claire setelah ia memberikan pesanan yang ia buat kepada pegawainya untuk di antar ke depan.
"Nis, yang tadi mama minta maaf ya. Sungguh mama tidak bermaksud untuk..."
__ADS_1
"Tidak apa-apa mah, Nissa mengerti," ia memaklumi apa yang di perbuat ibu mertuanya tadi, tapi sekarang ia yakin jika suami dan ibu mertuanya telah menyelesaikan masalah mereka. Annisa meraih tangan Claire kemudian menciumnya. "Senang rasanya bisa bertemu dengan mama." ia mencopot cadarnya agar mama mertuanya bisa melihat wajahnya.
Claire tersenyum melihat wajah Annisa yang meneduhkan. "Mama juga senang bertemu denganmu," kali ini Claire memeluk Annisa dengan hangat. "Terima kasih sudah menjadi pendamping hidup Bian, mama doakan kamu dan Bian bahagia selalu dan lancar lahirannya," ia mengelus perut Annisa dengan lembut.
Saat mengobrol dengan ibunda tadi, Bian sempat menceritakan kehamilan istrinya. "Terima kasih mah."
"Sayangnya mama tidak bisa lama-lama, mama harus pulang ke Belanda."
"Apa tidak bisa beberapa hari saja bersama kami mah?" pinta Annisa, ia berpikir jika ibu mertuanya bisa tinggal beberapa hari di rumahnya tentu suaminya akan sangat senang.
"Aku juga tadi sudah meminta mama untuk beberapa hari bersama kita, tapi mama..." Bian mengangkat bahunya, kecewa.
"Bukan tidak mau, tapi adik-adikmu harus sekolah, mama sudah mendaftarkannya di sana," Claire memberikan alasan mengapa ia tidak bisa tinggal dengan Bian.
"Tapi janji ya, jangan menghilang lagi," Bian menatap ibundanya dalam-dalam.
Claire mengangguk. "Kami pergi dulu ya, nak. Baik-baik dengan istrimu, jaga dan sayangi keluarga kecilmu."
Annisa kembali mengenakan cadarnya, ia menemani suaminya mengantra ibu mertua serta adik-adik tirinya sampai ke ruang check in. Skali lagi Bian memeluk ibundanya dengan erat. "Janji ya sering-sering kabarin Bian, kalau tidak aku akan mencari mama ke sana," bisiknya.
"Iya nak, mama janji." Claire sungguh merasa sangat beruntung, rasa sayangnya Bian kepadanya tak pernah berubah meski sudah bertahun tahun dirinya meninggalkan Bian.
Bian merangkum wajah cantik ibundanya, ketika ia hendak mencium pipinya, tangannya secara tak sengaja menggeser posisi kaca mata hitam yang di kenakan Claire. Meski hanya terlihat sekilas, namun Bian melihat dengan jelas lebam di mata ibundanya.
"Mama ini kenapa?" tanya Bian cemas.
__ADS_1
Claire langsung menarik tubuhnya menjauh dari Bian. "Tidak, ini hanya jatuh dari kamar mandi," jawabnya gugup. "Mama harus pergi," ia menarik koper dan mengajak kedua anaknya pergi.
"Jangan pergi!" Bian meraih tangan ibundanya dan mencengkramnya erat namun tidak sampai menyakiti tangan ibundanya.