
Meski belum tengah hari, namun soto sudah habis terjual, Annisa hanya menyisakan satu porsi saja untuk Bian. Bian yang tak ingin makan sendirian pun mengajak Annisa makan bersamanya. "Mas Imam saja, aku tidak lapar," tolak Annisa dengan halus.
"Tidak lapar? Dari subuh tadi kamu belum makan loh, bahkan kue jajanan pasar yang kamu beli pun kau tidak memakannya." Seolah tak menerima penolakan Annisa, Bian menarik kursi di sebelahnya, kemudian ia mengambil piring untuk Annisa dan membagi nasinya. "Kalau kau sakit siapa yang akan menjaga ibu?" Bian menaruh beberapa potong mendoan ke piring Annisa. "Setidaknya kau cicipi mendoan buatanku."
Dengan patuh Annisa makan di sebelah Bian yang masih saja terus mengoceh bak burung beo. "Warung sotomu ini cukup ramai, kenapa kamu hanya buat sedikit?" tanya Bian, kemudian ia memasukan suapan pertamanya ke mulutnya.
"Banyak yang berubah setelah bapak tidak ada. Dulu, warung soto ini sangat ramai dan buka sampai malam, tapi kemudian setelah bapak tidak ada dan mas Fahri merantau ke Jakarta, Ibu menjual soto hanya sampai sore hari karena pernah ada suatu malam di mana kami di datangi oleh segerombolan anak-anak genk motor yang kemudian mereka mengacak-acak warung ini. Dari situ, ibu sudah tidak berani buka sampai malam. Genk motor mas Imam dan mas Fahri tidak suka bikin huru-hara kan?"
Pertanyaan yang tiba-tiba saja di lontarkan oleh Annisa, membuat Bian tersedak. "Uhhuk... Uhhuk..."
Annisa langsung memberikan Bian segelas air putih. "Minum dulu mas..."
"Terima kasih," Bian mulai mengatur napasnya.
"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku? Sebab mas Fahri tidak pernah cerita tentang kehidupannya di Jakarta, setiap kali Ibu menasehati agar tidak berkumpul untuk hal yang tidak penting, apa lagi kalau sampai mabuk-mabukan. Ibu sangat khawatir."
Wajah Bian berubah menjadi pucat pasi, ia tak bisa membayangkan jika wanita itu tahu, pria yang di hadapannya itu lah yang sering membawa minuman beralkohol ke markas The Moge, bahkan dirinya lah yang paling sering memaksa Fahri dan anggota lainnya minum.
"Mas Imam kenapa diam saja dari tadi?"
__ADS_1
Getar handphone di saku Bian, menyelamatkannya dari pertanyaan Annisa yang tak bisa ia jawab. "Sebentar ya Nis," Bian beranjak dari tempat duduknya, ia sedikit menepi untuk mengangkat panggilan masuk dari Widya, sekretarisnya.
"Ada apa, Wid?" tanya Bian, dengan suara tegasnya.
"Begini pak Bian, saya mau minta tolong kepada bapak," ucap Widya hati-hati.
"Beraninya kau ini," sela Bian. "Minta tolong apa?"
"Mengenai perpanjangan project kerja sama dengan pak Budiono, kebetulan pak Budi sedang berada di Jogja. Pak Bian ada waktu untuk bertemu dengannya tidak? Untuk tanda tangan kontrak," terangnya.
"Kenapa harus aku? Arnold kemana? Bukankah ini tugas dia?" Bian melirik sekilas ke arah Annisa, ia tak ingin Annisa terkejut mendengar dirinya berhicara dengan nada tinggi.
Bian tersenyum, ia menamakan ini adalah sebuah anugerah, karena ia jadi memiliki alasan untuk tinggal di Jogja lebih lama. "Kau kirimkan saja berkasnya ke emailku, nanti pagi aku akan menemui pak Budiono," Bian pun memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menghampiri Annisa.
"Sepertinya aku tak jadi pulang hari ini, tasanku memintaku untuk menemui clientnya, besok pagi," ucap Bian sembari menarik kursinya dan duduk dengan tenang di hadapan Annisa. "Apa kamu tahu tempat print di dekat sini?"
Sepintas Bian melihat Annisa tersenyum ketika dirinya mengatakan tak jadi pulang ke Jakarta. "Ada di dekat Masjid. Setelah menutup warung aku akan antar mas Imam ke sana, sekalian aku mau mengajar ngaji."
"Kau mengajar ngaji? Wow hebat sekali," puji Bian dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
"Hanya anak-anak TK dan SD," Annisa merendah. "Sebetulnya jadwalnya sore setelah Ashar, namun karena aku harus menjaga Ibu di rumah sakit maka jadwalnya aku majukan setelah Dzuhur, maka dari itu aku menutup warung lebih awal, aku tidak ingin mengecewakan semangat anak-anak yang ingin belajar mengaji."
Setelah selesai makan Bian membantu Annisa merapihkan meja serta kursi warung, tak luap ia menyapunya hingga bersih, sementara itu Annisa di belakang mencuci piring.
Beberapa menit sebelum adzan Dzuhur berkumandang, Annisa dan Bian bergegas manuju Masjid. Di depan Masjid Annisa berhenti sejenak dan menunjuk ke arah timur. "Di ujung jalan sana ada tempat fotocopy yang bisa mencetak dokumen, setelah shalat mas Imam ke sana saja, aku tidak bisa mengantar karena aku harus langsung mengajar ngaji agar tidak ke sorean."
Bian mengangguk. "Iya nanti aku akan ke sana." Bian dan Annisa kembali melajukan kendaraannya menuju parkiran masjid dan mereka bersiap untuk menunaikan ibadah shalat Dzuhur berjamaah.
Bian kembali lagi ke mesjid setelah ia mencetak dokumen kontrak kerja sama perusahannya, ia kembali dengan membawa alat tulis yang ia borong dari tempat fotocopy. Ia sengaja membeli banyak alat tulis sebagai hadiah untuk anak-anak yang semangat belajar mengaji.
Entah untuk yang keberapa kalinya, Bian di buat terpukau oleh Annisa. Suara Annisa yang begitu merdunya melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an begitu menentramkan hatinya.
Cukup lama Bian berdiri di tangga pendopo Masjid, memperhatikan Annisa dengan lemah lembut mengajari anak-anak mengaji, sungguh pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Bian baru bernajak dari tempatnya berdiri setelah anak-anak selesai belajar. "Uncle bawa sesuatu untuk kalian, anak-anak hebat yang sudah semangat belajar mengaji," ia membagikan alat-alat tulis secara merata, sembari anak-anak itu pamit kepada Annisa dan Bian.
"Aku pikir mas Imam sudah kembali ke hotel," ucap Annisa.
"Mana boleh begitu. Aku kan yang menjemputmu di rumah sakit, jadi aku berkewajiban mengantarmu hingga kembali ke hadapan ibu."
Annisa tersenyum sembari merapihkan buku-buku Tajwidnya yang ia gunakan untuk mengajari anak-anak mengaji. "Siapa yang mengajarimu mengaji hingga sehebat ini?" tanya Bian penasaran.
__ADS_1
"Almarhum bapak. Beliau sudah mewajibkan aku dan mas Fahri bisa mengaji sejak usia tiga tahun. Setelah bapak tidak ada, aku mulai sadar bahwa cara kita bisa terus mencintai orang yang sudah tidak ada adalah hanya dengan berdoa, mengirimkan ayat-ayat suci Al-quran untuk orang-orang terkasih yang sudah tiada, maka dari itu aku mengambil kuliah jurusan Ilmu Qur'an dan tafsir, tapi sayangnya untuk sementara ini aku harus cuti dulu karena alokasi dana untuk kuliahku di pakai untuk biaya pengobatan ibu. Tapi enggak masalah kok, buatku yang penting ibu bisa sehat." senyum sumringah penuh ketulusan terpancar dari raut wajah Annisa.