Road To Jogja

Road To Jogja
Bab 29


__ADS_3

Keesokan paginya, Bian terbangun oleh suara makian yang terucap dari mulut Fahri. Tak hanya makian yang di terima Bian, ia yang belum sepenuhnya sadar itu pun terkena satu pukulan keras mendarat di wajahnya.


"Masih berani loe datang kesini?" Fahri menendang kursi rotan yang Bian duduki hingga Bian pun terjatuh ke lantai. "Jangan mentang-mentang gue kerja di kantor bokap loe, loe bisa seenaknya sama adek gue! Enggak brengsek!! Gue bisa kerja di sana berdasarkan kemapuan yang gue punya, gue enggak takut loe pecat!!"


Fahri kembali menarik kerah baju Bian, kemudian ia hendak mendaratkan satu pukulan lagi ke wajah Bian namun suara teriakan Annisa menghentikannya. "Mas Fahri stop!!" teriak Annisa.


Seketika Fahri menoleh ke arah Annisa, ia menatap Annisa dengan tatapan tajam. "Kamu masih mau belain bajingan yang menipumu, menipu keluarga kita? Bukan matamu, dek!!" bentak Fahri.


Bian mengelap darah yang menetes dari bibirnya, kemudian ia bangkit dan berdiri.


"aku enggak belain mas Imam, tapi bukan begini juga caranya mas," ucap Annisa. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik dan..."


Fahri kembali berbalik menghadap Bian, dan menarik kerah baju Bian. "FAHRI LEPASKAN!!" bentak Sekar, ia kemudian mengatur napasnya. Semenjak operasi pemasangan ring itu, ia tidak bisa lagi bebas mengeluarkan suara yang kencang.


Ketiganya menoleh ke arah Sekar dengan wajah cemas. "Lepaskan Imam," ucapnya.


Fahri menuruti perintah ibundanya, ia melepaskan tanyannya dari baju Bian kemudian mendorongnya menjauh. "Brengsek," gerutunya.


"Ayo kita bicarakan ini baik-baik di dalam," ajak Sekar, ia menyuruh Annisa dan Fahri masuk terlebih dahulu kemudian ia mengahampiri Bian. "Ayo nak, masuk!!" ajaknya pada Bian.


Setelah semuanya duduk dengan tenang di ruang tamu, Sekar meminta Annisa untuk membuatkan teh hangat serta mengambilkan kotak P3K untuk Bian.


"Brandalan seperti dia, sudah terbiasa dengan luka seperti itu, tidak perlu di manjakan," ucap Fahri dengan sinis.

__ADS_1


"Fahri! Kau ini bukannya minta maaf," tegur Sekar.


"Aku tidak perlu minta maaf pada bajingan yang menyakiti Annisa," protes Fahri, ia terlihat tak terima karena ibunya menyuruhnya meminta maaf pada Bian.


Bian menyentuh lengan Sekar. "Sudah bu, aku tidak apa-apa." Bian tak ingin mendengar keributan terjadi di keluarga Annisa.


"Cari muka," gerutu Fahri.


Annisa dengan segelas teh hangat di tangan kanannya dan kotak P3K di tangan kirinya, ia menaruh teh hangat tersebut di hadapan Bian. "Di minun dulu mas," ia duduk di sebelah Bian dan membuka kotak P3K.


"Nissa, berikan kotak itu dan duduk di sini," Fahri menepuk tempat duduk di sebelahnya dan melarang Annisa untuk membantu Bian mengobati lukanya.


Annisa bergegas mengeluarkan kapas dan obat luka. "Ini tinggal di pake saja mas," ia beranjak dari tempat duduknya, menuruti perintah kakaknya, namun ia memilih duduk di samping ibundanya.


"Mas Fahri.." Annisa langsung menoleh ke arah kakanya.


"Sudah, Niss," ucap Bian, ia benar-benar tak ingin membuat kedua kakak adik itu bertengkar. "Pertama-tama, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku ingin meminta maaf atas kejadian yang kemarin," ucap Bian dengan wajah serius dan lenuh penyesalan.


"Ayahku meninggal dunia," Bian menundukan kepala, rasa duka atas kepergian ayahnya masih menyelimuti hati Bian.


Annisa dan ibundanya terkejut, sementara Fahri justru tertawa. "Lelucon macam apa ini? Semua orang di kantor juga tahu, jika bokap loe lagi berlibur di luar negeri, dan kalaupun bokap loe meninggal berita ini sudah menjadi topik yang menggemparkan di group kantor."


Bian sudah menduga jika Fahri tidak akan percaya, untuk itulah ia tak mengatakan ini lewat sambungan telepon karena hanya akan membuang-buang waktu dan energi di saat ia ingin menghabiskan waktu di penghujung napas ayahnya.

__ADS_1


"Ayahku terkena HIV dan kanker kelamin yang cukup parah. Penyakit itu cukup membuat beliau malu, itulah alasan beliau mengatakan jika dirinya ingin menghabiskan masa tua di luar negeri dan menyuruhku memimpin perushaannya. Tapi pada kenyataannya selama dua bulan ini beliau terbaring lemah di ICU, dan setiap sore aku datang menjenguknya," terang Bian, ia merogoh sakunya untuk mengambil handphonenya.


"Beliau bukan hanya ingin menyembunyikan penyakitnya dari semua orang, tapi juga kematiannya. Kemarin hanya ada aku, pengacaranya, seorang ustad dan tim dari rumah duka yang membatu proses pemakaman," ia memperlihatkan mutasi rekening pembayaran rumah sakit dan rumah duka, serta email surat kematian ayahnya yang di kirimkan oleh pihak rumah sakit.


Wajah Annisa dan Sekar berubah menjadi prihatin ketika menatap Bian. "Demi Alalh aku tidak bermaksud mempermainkan Annisa, kemarin aku benar-benar berada di situasi kalut, aku kehilangan satu-satunya orang yang menjadi keluargaku," Bian tak dapat membendung air matanya, butiran bening satu-persatu menetes di wajahnya.


Annisa begitu mengerti apa yang di rasakan Bian, ia pernah berada di posisi Bian ketika ia harus kehilangan ayahnya, tapi Annisa masih punya ibu, masih punya Fahri yang menguatkannya sementara Bian, dia seorang diri tentu hal itu pasti akan lebih berat lagi.


Annisa beranjak dari tempat duduknya, ia kembali duduk di samping Bian dan mengelus lengannya. "Aku memaafkanmu, mas."


Sorot tajam mata Fahri langsung tertuju pada tangan Annisa yang menyentuh lengan Bian, namun ia tak bisa berkomentar sebab ibundanya sudah terlebih dahulu berkomentar. "Kami turut berduka cita atas kepergian ayahmu," ucap Sekar.


"Imam, kamu pasti lelah. Apa kamu mau mandi dulu dan sarapan bersama kami? Nanti setelah sarapan kita bicarakan lagi masalah pertunanganmu dengan Annisa, bagaimana?" tanya Sekar.


Bian mengangguk setuju, kemudian Sekar meminta Fahri untuk menyiapkan handuk dan pakaian ganti untuk Bian, sementara itu Annisa langsung bergegas ke dapur membuatkan sarapan.


Di saat Bian tengah membersihkan tubuhnya, Sekar menggunakan kesempatan itu untuk berbicara dengan putra sulungnya. "Fahri, apa yang kemarin terjadi tidak sepenuhnya salah Imam."


"Tapi bu, seharusnya Bian mengatakan padaku kemari."


"Fahri, apa kau tidak dengar tadi jika ayahnya melarangnya mengatakan pada siapapun, lagi pula jika dia mengatakan padamu di telepon apa kau akan langsung percaya? Tentu tidak. Kau sudah merasakan bagaimana kalut dan sedihnya ketika bapak sedang kritis, itulah yang di rasakan Imam kemarin," ucap Sekar.


"Tadi malam Bian datang kemari jam satu, dia rela menunggu sampai kita terbangun dan membukakan pintu, ibu pikir itu adalah rasa tanggung jawab yang luar biasa di tengah kesedihannya kehilangan ayahnya. Kalau kau tidak mau menikahkan adikmu, dengan Bian, ibu akan meminta pakde Rudi menikahkan mereka."

__ADS_1


"Baiklah," ucap Fahri.


__ADS_2