Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 49


__ADS_3

Sesaat setelah Margareth pergi, Bian menghela napas beratnya, kemudian ia beranjak dari ruang tamu. Bian terkejut memergoki istrinya berada di balik dinding pembatas antara ruang tamu dengan ruang keluarga. "Sayang.... Kamu ada di sini?" tanya Bian khwatir, ia takut istrinya mendengar percakapan antara dirinya dan Margareth


"Aku mau ngambil minum," jawabnya sambil tersenyum.


Bian tak puas dengan jawaban Annisa, ia yakin jika Annisa mendengar semua yang di katakan oleh Margareth. "Apa kamu mendengar semua pembicaraan aku dan ibunya Caroline?"


"Sebagian," Annisa meraih tangan Bian dan menggenggamnya. "Tapi aku baik-baik saja mas, aku sama sekali tak marah padamu atau juga pada ibunya Caroline, karena menurutku hal yang wajar jika seorang ibu mencari pertolongan untuk menolong putrinya."


Bian menarik Annisa dalam pelukannya. "Kamu tidak perlu mencemaskan perkataan ibunya Caroline, aku akan selalu menjagamu sayang."


Annisa membalas pelukan Bian lebih erat. "Aku percaya padamu sayang."


Suara dehaman dari pintu depan membuat Bian dan Annisa melepaskan pelukan mereka. "Apa aku mengganggu kalian?" tanya Fahri, ia nampak ragu untuk masuk ke kediaman Bian.


Annisa tersenyum ceria melihat kedatangan kakaknya. "Mas Fahri, ayo masuk!" ia menarik Fahri menuju ruang makan. "Ibu... Mas Fahri datang," teriaknya.


Annisa menyuguhkan puding susu buatan suaminya. "Ayo ceritakan bagaimana mas Fahri melamar mba Widya?" tanyanya tidak sabar, ia menopang dagunya denga kedua tangannya, tak sabar menunggu cerita versi kakaknya.


Fahri menyendokan puding ke dalam mulutnya sembari melirik ke arah ibundanya yang baru saja bergabung. "Apa yang bagaimana? Aku datang ke sana dan langsung mengutarakan niatku untuk melamar Widya, kepada Eric. Lalu kita ngobrol banyak mengenai Widya, dan keesokan harinya Widya mejawab lamarku. Aku di terima."


Annisa menghembuskan napas pelan. "Mengapa semudah itu?" ucapnya kecewa.


"Memangnya kamu berharap Widya atau Eric menolakku?" Fahri menyesap teh hangat buatan Maria, yang baru saja dia suguhkan padanya.

__ADS_1


"Bukan begitu, paling tidak Eric memberi tantangan pada mas Fahri, seperti yang mas Fahri lakukan pada mas Imam," Annisa menoleh ke suaminya yang berada di sampingnya sembari menggenggam erat tangannya.


Fahri hanya tersenyum, tak menanggapi pernyataan adiknya. Keluarganya tak perlu tahu, betapa sulitnya ia meyakinkan Eric agar Eric mau menerimanya. "Well, aku kemari mau mengajak kalian semua ke kostannya Eric dan Widya, aku ingin melamarnya secara resmi." ia mulai menceritakan rencana lamaran serta pernikahan sederhananya dengan Widya yang akan di langsungkan akhir bulan ini.


"Wow, cepat sekali," komentar Annisa.


"Niat baik, harus di segerakan," ucap Fahri, ia beralih ke arah ibundanya. "Tidak apa-apa kan bu jika aku segera menikahinya?"


"Loh kenapa tidak? Semakin cepat semakin baik, tapi tetap berikan mahar terbaik untuk istrimu sesuai dengan kemampuanmu," pesan Sekar.


"Sudah aku siapkan, bu."


Obrolan di lanjutkan mengenai kehamilan Annisa, Fahri begitu bahagia mendengar Annisa telah berbadan dua. "Aku akan lebih senang lagi kalau Widya bisa segera menyusul," ucapnya sembari tertawa.


Beberapa hari kemudian, setelah Annisa menghadiri acara lamaran kakaknya dengan Widya. Annisa mendapatkan surat misterius dari orang yang tak ia kenal, dalam surat itu tidak ada nama pengirim maupun alamatnya.


Security di rumahnya hanya mengatakan tadi ada seorang pria yang mengantarkan surat tersebut untuknya. Dengan rasa penasaran Annisa pun membukanya, ia tak merasa takut sebab itu hanya sebuah surat dan menurutnya tak membahayakan dirinya.


Namun alangkah terkejutnya Annisa ketika membuka surat tersebut ternyata berisi foto-foto telanjang suaminya bersama Caroline. Tangan Annisa gemetar, airmatanya mengalir deras di wajahnya melihat satu persatu foto-foto yang tak pantas itu.


Dia memangnsudah memaafkan dan menerima masa lalu suaminya, namun sebagai manusia biasa tentu hatinya terasa sakit melihat foto-foto tersebut.


Clek..

__ADS_1


Bian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang di lilit di pinggangnya. "Loh tadi katanya mau nyusul ke kamar mandi, tapi kenapa masih duduk di situ?" Bian melihat istrinya masih di posisi yang sama sebelum ia mandi, Annisa duduk di tempat tidur memunggungi arah kamar mandi.


Perlahan Bian mulai menyadari jika istrinya tengah menangis, ia pun bergegas menghampiri Annisa. "Sayang, ada apa?" ia berjongkok di hadapan Annisa, pandangan mata Bian jatuh pada foto-foto yang sebagian berserakan di lantai dan sebagian masih di tangannya.


"Astagfirullahaladzim," Bian terkejut mendapati foto-foto masa lalunya bersama Caroline berada di tangan istrinya. "Sayang kamu dapat dari mana foto ini?"


Annisa menggeleng sembari menyeka air matanya. "Aku tidak tahu, tidak ada nama dan alamat pengirimnya," jawab Annisa terbata-bata.


Bian menundukan kepalanya di pangkuan Annisa. "Maafkan aku sayang, maafkan akumyang selalu membuatmu terluka." tak ada yang bisa ia katakan selain kata maaf, karena ia pun tak bisa merubah masa lalunya.


Perlahan Annisa mengangkat tangannya dan mengelus kepala Bian dengan lembut. "Aku tidak marah padamu mas," ucapnya sembari menahan tangisnya. "Aku hanya terkejut melihat ini."


Bian mendongak, menatap Annisa dalam-dalam dengan tatapan penuh rasa bersalah. Annisa menggeleng, ia membelai lembut wajah suaminya. "Ini sudah berlalu mas, kamu sama sekali tidak salah."


Meski Annisa berulang kali mengatakan dirinya baik-baik saja dan tak marah dengannya, namun tetap saja Bian tak bisa tinggal diam. Ia menyuruh orang untuk mencari tahu siapa pengirim surat mesterius itu, sebab beberapa hari kemudian hal serupa terulang, Annisa mendapatkan surat serupa namun bukan lagi di kirim ke kediamannya melainkan ke alamat kedai sotonya.


Di suatu malam, pukul 02.00 Annisa terbangun dari tidurnya. Selesai shalat malam, ia turun ke taman di dekat kolam renang. Annisa duduk di bangku taman sembari memandangi bintang-bintang.


Ia terkejut ketika ibundanya datang menghampirinya. "Loh ibu tidak tidur?" tanya Annisa pada Sekar yang perlahan menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Tenggorokan ibu sedang tidak enak, tadi ibu bikin minuman hangat," jawab Sekar. "Kamu sendiri kenapa tidak tidur? Masih mikirin surat kaleng itu?" tanyanya.


Begitu seringnya Annisa mendapat surat serupa hingga Sekar pun mengetahui permasalahan yang di hadapi oleh putrinya. Annisa mendongak, memandangi langit-langit, kakinya sedikit terayun dengan tangan menopang di bangku. "Ternyata, menemani seseorang yang sedang berhijrah itu juga tidak mudah. Aku mengerti sekarang mengapa Allah memberikan balasan tanpa hisab untuk orang-orang yang sabar, sebab itu tidak mudah. Perasaanku memang terkadang masih bergejolak ketika melihat foto-foto itu, tapi aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan siapapun menggoyahkan rumah tanggaku," Annisa menyandarkan kepalanya di bahu ibundanya.

__ADS_1


Seker mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Semuanya butuh proses sayang, ibu yakin kamu dan suamimu bisa melewati ini."


__ADS_2