
Annisa dan keluarganya tetap datang ke hotel tempat acara pertunangan akan di langsungkan, meski belum juga ada kabar maupun tanda-tanda kedatangan Bian, mereka berharap Bian datang dan segera melangsungkan acara pertunangan yang seharusnya sudah berlangsung dua jam yang lalu.
Suara bisik-bisik dari keluarga besar maupun dari teman-teman Annisa mulai terdengar. Ada yang mempertanyaakan keberadaan Bian, dan ada pula mengatakan bahwa Bian hanya main-main. "Katanya mereka baru saling kenal ya?" bisik kakak sepupu Annisa, ke keluarganya yang lain. "Itu sih akibatnya, terlalu ngebet punya calon suami orang kota yang kaya raya, tapi ternyata malah di permainkan." Sudah sepelan mungkin mereka berbicara, namun Annisa masih bisa mendengarnya.
Kata-kata itu bagai pisau yang menusuk hati Annisa. Kini Annisa bukan hanya mencemaskan keberadaan Bian, namun juga omongan-omongan orang-orang di belakangnya membuat hati Annisa semakin carut marut, tak karuan. Ingin rasanya ia meneriaki orang-orang yang membicarakan di belakangnya, namun ia tak ingin membuat suasana semakin tidak karuan.
"Dasar bajingan, beraninya dia menipu kita," Fahri tak bisa menahan emosinya yang terus meledak, semua orang di kontak handphonenya yang kenal dengan Bian, sudah ia hubungi namun tak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Bian. "Akan aku habisi kau kalau ketemu," gerutunya.
Fahri mendekat ke arah Annisa. "Dari awal sudah kukatakan jangan dengan dengannya, tapi kau tidak mau mendengarkan mas. Sekarang kau lihat sendiri bajingan itu belum apa-apa berulah."
Annisa sudah tidak dapat lagi menahannya, air mata yang sedari tadi menggenang kini tumpah ruah. Sesaat ia mentap tajam ke arah kakaknya, kemudian tanpa bicara, Annisa pergi dari venue. Ia meminta Andin, sahabat baiknya untuk mengantarnya pulang. Andin langsung mengantarkan Annisa pulang, dan begitu sampai, Andin memberikan Annisa waktu untuk sendiri.
Hingga malam Annisa dan keluarganya belum juga mendapatkan kabar mengenai keberadaan Bian. "Berhentilah menangisi bajingan itu Annisa!! Kau tidak pantas menangisi pria sampah macam Bian. Dia mengira, mentang-mentang aku bekerja di perusahaan ayahnya, dia bisa seenaknya pada kita. Toh tanpa aku, perusahaan ayahnya akan hancur."
"Cukup Fahri!! Apa kamu tidak memikirkan perasaan adikmu? Diantara kita justru, Nissa lah yang paling sedih dengan kejadian ini," ucap Sekar, ia sudah tidak tahan mendengar Fahri terus memarahi putri bungsunya.
__ADS_1
"Itu salah dia sendiri, bu. Dia tidak pernah mau mendengarkan nasihatku, sejak mengenal Bian dia terus membantahku. Dan sekarang, apa yang aku ucapkan terbukti. Seandainya saja dia mau sedikit saja mendengarkan aku, untuk menunggu Azzam hingga lulus dari Kairo, tentu kejadian ini tidak akan terjadi." Fahri beralih menatap Annisa yang tertunduk di atas tempat tidurnya. "Inilah akibatnya jika kau memilih brandalan.."
"Hentikan Fahri! Ibu bilang hentikan!!" teriak Sekar dengan suara yang bergetar. "Sekarang juga kamu keluar dari adikmu!" pintanya.
Sekar menutup pintu kamar Annisa setelah Fahri keluar dari kamar putrinya, ia berjalan ke arah ranjang dan duduk di sisinya. "Sayang..." Sekar memeluk Annisa dengan erat, hanya pelukan hangat yang bisa ia berikan kepada putrinya karena ia pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bian.
Lama Annisa menangis di pelukan ibundanya, setelah mulai agak tenang, Sekar membantu putrinya mengganti pakaiannya dan menghapus makeupnya. "Percayalah, esok hari akan jauh lebih baik," bisik Sekar, malam itu ia tidur di samping putrinya, mendekap erat tubuhnya.
...****************...
Bian yang begitu mengkhawatirkan kondisi ayahnya, terpaksa meninggalkan Jogja dan terbang menuju Jakarta.
"Sebetulnya, kondisi Pak Wijaya sudah menurun drastis sejak siang kemarin, namun beliau melarang kami untuk menghubungi pak Bian," ucap sang dokter. "Kami telah melakukan berbagai upaya untuk menolongnya namun selepas subuh kondisinya semakin memburuk, kami khawatir jika terus menunggu maka kau tidak punya kesempatan untuk bertemu dengannya untukyang terakhir kali, untuk itulah kami menghubungi anda."
"Apa aku boleh masuk, meluhat ayahku?"
__ADS_1
Sang dokter mengangguk. "Tentu saja," ia mempersilahkan Bian untuk mengenakan pakaian khusus baru kemudian menjenguk ayahnya.
Pak Wijaya, nampak mengenaskan. Tubuh yang sudah hanya tinggal tulang dan kulit saja, itu kini terbaring lemah tak berdaya, napasnya sudah sangat pendek. Ia begitu bergantung pada alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Ayah," perlahan Bian mendekati tempat tidur ayahnya.
Mendengar suara yang tak asing di telinganya Pak Winaya memaksakan diri untuk membuka mata. "Ma-mau apa kau datang kemari?" suara pak Wijaya terdengar lemah dan terbata-bata, namun sorot matanya sangat tajam. "Tidak seharusnya kau berada di sini, menemani orang yang tidak pernah memberikanmu kebahagiaan. Pergi kau! Jemputlah kebahagiaanmu bersama calon istrimu. Tak ada gunanya kau ada di sini, aku pun akan mati juga."
"Ya, anda betul. Tak ada gunanya aku di sini, karena aku bukan dokter maupun Tuhan yang bisa menyembuhkan anda. Anda juga betul, anda tak pernah memberikan kebahagiaan untukku dan juga ibuku, anda hanya bisa menorehkan luka, sehingga aku sangat membeci anda," ucap Bian yang takalah tajamnya menatap Pak wijaya.
"Tapi saat ini, hanya andalah yang aku punya. Kau ayahku, aku membeci sekaligus menyayangimu," air mata Bian jatuh tak tertahankan, ia berhambur ke pelukan ayahnya. "Kau adalah ayahku. Hiks... " Bian memeluk Pak Wijaya dengan erat.
Perlahan Pak Wijaya, menaruh tangannya di atas kepala Bian dan mengusapnya. "Ma-maafkan a-yah..." suara pak Wijaya nyatis tak terdengar meski Bian sudah sedekat itu dengannya, napasnya semakin pendek, denyut jantungnya pun semakin lemah.
Bian mendongak, dan membisikan dua kalimat syahadat, lalu kemudian pak Wijaya menutup matanya. Bian mundur beberapa langkah, membiarkan dokter melakukan upaya terakhirnya untuk menyelamatkan ayahnya, meski pada akhirnya usaha itu sia-sia, karena beberapa menit kemudian dokter menyampaikan kabar duka kepergian ayahnya.
__ADS_1