Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 33


__ADS_3

Selama perjalanan menuju Jakarta, Annisa bukan hanya di buat terkagum-kagum pada pemandangan kota-kota yang di laluinya, namun juga pada kepiawaian Bian dalam menerbangkan helikopternya. "Sejak kapan mas bisa menerbangkan ini?" tanya Annisa.


"Lima tahun yang lalu mobilitasku ke luar kota dan ke luar negeri sangatlah tinggi. Dalam sehari aku bisa pindah-pindah ke berbagai kota untuk mengurus bisnisku, dan juga harus menyelesaikan pendidikanku di Singapore," ucap Bian. "Memakan waktu yang cukup lama jika aku menggunakan pesawat komersil, dan akan memakan biaya yang cukup besar jika aku menyewa atau membeli jet pribadi. Untuk itulah aku membeli helikopter dan mencari surat izin menerbangkannya, memang di awal memakan biaya yang cukup besar karena harga helikopter sendiri tidak murah, tapi setelahnya akan memengkas banyak biaya."


Annisa lagi-lagi di buat terkagum pada suaminya yang memiliki perhitungan bisnis dengan matang dan berani, ingin suatu saat dirinya bisa seperti Bian, memiliki bisnis sendiri. "Hei mengapa melihatku seperti itu?" Bian merasa salah tingkah terus di pandangi oleh istrinya.


"Mas Imam sangat mengagumkan," puji Annisa, ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup pipi Bian


"Kau juga sayang, kamu sangat cantik dan mengagumkan," sejenak Bian menatap Annisa dengan tatapan mesra. "Sebentar lagi kita sampai," ucap Bian. Ia kemudian fokus pada pendaratan sembari berbicara pada petugas ATC.


Begitu tiba di Jakarta, Bian membawa istri dan ibu mertuanya ke makam ayahnya untuk berziarah. Annisa tak bisa membayangkan bagaimana kesedihan yang di rasakan Bian ketika ayahnya meninggal, terlebih ia seorang diri, tak ada yang menguatkannya.


"Ayah sangat senang ketika aku memberi tahunya, aku akan melamarmu," ucap Bian ketika mereka selesai berdoa.


"Benarkah? Tapi kita belum pernah bertemu? Bagaimana ayah menyukaiku?"


"Aku pernah menunjukan fotomu, beliau langsung menyuruhku untuk cepat-cepat menikahimu. Seandainya beliau masih hidup, pasti beliau sangat senang melihatmu."


Annisa menggenggam tangan suaminya dengan erat. "Kita masih bisa mendoakannya sayang."


Bian teringat jika dirinya masih menggelar acara pengajian bersama anak-anak yatim di kediaman ayahnya. "Apa kamu dan ibu mau ikut pengajian di rumah ayah?" tanya Bian.


Annisa mengangguk. "Ya, kami mau."


Selesai berziarah, Bian pun mengajak istri dan ibu mertuanya ke kediaman ayahnya. Annisa di buat terkejut dengan rumah mewah bak istana megah milik bapak mertuanya. Rumah yang di dominasi dengan warna putih dan miliki pagar yang menjulang tinggi, namun siapa sangka di balik rumah megah itu, kini penghuninya sudah tiada, rumah itu hanya di huni oleh security dan beberapa asisten rumah tangga.

__ADS_1


Mereka yang bekerja menyambut Bian dengan rasa hormat, tanpa raut kegembiraan terpancar dari wajah mereka ketika Bian memperkenalkan Annisa dan Ibu mertuanya. "Selamat ya pak Bian, kami tidak menyangka pak Bian sudah menikah," ucap salah seorang pekerja yang menurut Annisa dia adalah kepala pekerja di rumah bapak mertuanya.


Bian mengangguk, mengucapkan terima kasih atas ucapan dan doanya. Kemudian ia menanyakan persiapan pengajian yang akan di gelar setelah Isya. "Kami sedang mempersiapkan makanannya, tapi saya belum mempersiapkan amplopnya sebab uang dari pak Bian kemarin saya gunakan untuk membayar listrik dan kebersihan," ucap sang kepala pekerja.


Bian baru teringat dirinya belum memberikan uang bulanan untuk keperluan rumah ayahnya. "Baiklah, nanti aku akan beri uang bulanan sekaligus gaji kalian," ucap Bian, kemudian ia mengantar ibu mertuanya ke kamar tamu untuk beristirahat, baru kemudian ia mengajak istrinya ke kamarnya.


"Ini adalah kamarku beberapa bulan lalu sebelum aku pindah ke rumah yang aku bangun." Bian mempersilahkan istrinya masuk. Kamar itu sangat rapih, bak perpustakaan karena banyaknya buku yang berjejer di rak buku, bisa di bilang lebih banyak rak buku yang berjejera ketimbang lemari pakaian dan lemari aksesoris (Jam tangan, sepatu, kaca mata) 'pantas saja mas Imam terlihat sangat cerdas,' batin Annisa.


"Aku ingin membahas soal keuanganku," ucap Bian, ia meminta Annisa di meja kerjanya, yang berada di sudut kamar. Bian mulai memberi tahukan apa saja yang menjadi pengeluaran rutinnya setiap bulan, mulai dari biaya listrik, air, keperluan dapur hingga gaji para pekerja. "Mulai sekarang kamu yang mengaturnya," Bian menjelaskan jika ATM dan kartu kredit yang ia berikan saat berbelanja merupkan kartu utama yang biasa ia gunakan untuk keperluan rutinnya.


"Jadi kemarin mas kemarin bohong, bilang kalau saldonya tidak tahu cukup atau tidak?"


Bian tersenyum. "Kalau tidak begitu, kamu tidak akan menerimanya. Kamu pegang dan pergunakanlah untuk kebutuhan rumah tangga kita dan juga untuk keperpuan pribadimu, aku akan sangat senang kalau kamu membelanjakan uang itu."


Di tengah perbincangannya dengan Annisa, tiba-tiba saja sang asisten rumah tangga memberitahu Bian jika ada Widya datang untuk menemuinya.


"Widya siapa mas?"


"Sekretarisku, mau kenalan dengannya?" Bian mengulurkan tangannya dan mengajak Annisa turun ke ruang tamu untuk menemaninya bertemu Widya.


"Wah jadi ini ukhti-ukhti Jogja yang sudah berhasil menaklukan harimau Sumatera," komentar Widya ketika ia berkenalan dengan Annisa. "Selamat ya Bu, sudah menyelamatkan kami semua pegawai di kantor, berkat Bu Annisa, Pak Bian jauh lebih tenang."


"Hei bicara apa kau ini Widya," protes Bian. "Mana dokumen yang harus aku tanda tangani?" pinta Bian, menghentikan ocehan Widya.


"Oh.. ini pak."Widya bergegas memberikan dokumen itu pada Bian.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama Bian menandatangani dan mengembalikannya pada Widya. "Cepat sana pulang!!" usir Bian, sebelum Widya membeo yang tidak-tidak kepada istrinya, sebab dari tadi Widya kelihatan nampak akrab dengan Annisa.


"Apa aku tidak di tawari makan dulu?" Widya melirik ke arah makanan yang di suguhkan oleh asisten rumah tangga.


"Kau bawa saja semua sana, bawa sekalian sama piringnya!!"


"Mas.." Annisa memegang tangan Bian, kemudian beralih ke Widya. "Sebentar ya mbak, saya ambilkan tempatnya."


"Jangan Bu..." Belum sempat Widya mencegahnya Annisa sudah beranjak ke dapur.


"Bagus, belum apa-apa sudah merepotkan istriku," protes Bian.


"Salah pak Bian sendiri, ngusir aku. Aku kan masih mau ngobrol sama ukhti."


"Sudah mas, enggak apa-apa kok..." ucap Annisa yang baru kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa beberapa food container ia langsung memasukan semua makan yang tersedia di atas meja.


"Maaf ya bu Annisa, aku jadi merepotkan, padahal tadi aku cuma bercanda."


Annisa menutup tempat makan dan memasukannya ke paper bag baru ia memberikannya kepada Widya. "Enggak apa-apa mba Widya, aku sama sekali tidak merasa di repotkan. Terima kasih mba Widya sudah kemari."


"Aku masih cuti beberapa hari lagi, kalau ada dokumen yang harus akuntanda tangani, silahkankan ke rumah." Bian menambahkan sebelum Widya jeluar dari kediamannya.


Annisa dan Bian mengantar Widya hingga ke teras, setelah ia pergi. Annisa menanyakan kedekatan hubungan Bian dangan sekretarisnya. Tanpa ad yang di tutupi Bian menceritakan jika Bian sudah menganggap Widya seperti adiknya, sebab Widya bekerja dengannya saat Widya baru lulus SMA. Bian membiayainya kuliah dan menjadikannya sekretaris, untuk itulah ia dan Widya terlihat akrab, Bian pun menceritakan bahwa Widya mengambil andil cukup besar atas keputusannya melamarnya, serta Widya pula yang membantunya menghapal Juz 30. "Kamu enggak cemburukan sayang?"


Annisa menggeleng. "Aku percaya sama mas Imam," ucapnya sembari tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2