Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 41


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian.


Widya menyodorkan surat pengunduran dirinya kepada Bian. "Apa ini?" tanya Bian penasaran, tanpa menunggu jawaban dari Widya ia langsung membuka surat tersebut.


Bian sangat terkejut, secara mendadak Widya mengundurkan diri dari perusahaannya. "Apa-apan ini Widya? Apa alasanmu tidak ingin lagi bekerja denganku?" tanyanya kesal. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba saja Widya mengundurkan dirinya dari perusahaannya. "Berikan alasanmu yang jelas!!" ia sungguh tidak puas dengan alasan klasik yang Widya sampaikan di suratnya.


"Baiklah jika bapak memaksa," Widya berdeham terlebih dahulu sebelum ia mengatakannya karena Widya sudah mengetahui setelah ini Bian akan mengoceh panjang kali lebar. "Aku mendapatkan tawaran pekerjaan yang gajinya 2x lipat dari yang bapak berikan, dan pastinya pekerjaan saya yang baru bosnya tidak segalak pak Bian, bahkan sama sekali tidak galak."


Bian mengerutkan keningnya. "Beraninya kau pergi hanya karena tawaran gaji yang orang lain berikan, jika kau merasa kurang dengan apa yang aku berikan harusnya kau bilang, tidak keluar secara mendadak seperti ini hanya karena kau mendapatkan tawaran gaji yang lebih tinggi. Perusahaan mana yang sudah menawarkan gaji yang lebih tinggi dari yang aku berikan?"


Ocehan Bian terhenti ketika pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang dari luar, kemudian pintu terbuka. "Assalamualaikum," ucap Annisa, ia masuk ke ruang kerja suaminya dengan membawakan makan siang untuk Bian.


"Walaikumsalam," jawab Bian dan Widya bersamaan.


Bian menghampiri dan menyambut kedatangan istrinya dengan pelukan hangatnya. "Katanya mau ke kampus?" tanya Bian dengan lembut, kemarahan yang tadi memuncak seketika hilang begitu melihat Annisa.


"Sekalian lewat, aku bawain makan siang untuk mas," Annisa menoleh ke arah Widya. "Apa aku mengganggu kalian?" Saat masuk tadi Annisa sempat melihat raut ketegangan di wajah suaminya.

__ADS_1


"Pak Bian masih butuh jawaban dari saya?" tanya Widya.


"Ya, jawablah sekarang," ucap Bian kembali meninggi.


"Jawabannya ada di depan bapak," ucap Widya membuat Bian bingung. "Kemarin Bu Annisa, menawarkan gaji yang lebih tinggi dari yang bapak berikan. Siapa pun pasti tidak akan menolak, selain gaji tinggi, bu Annisa tidak suka ngomel seperti pak Bian."


Pandangan Bian beralih ke istrinya. "Benarkah sayang?"


Annisa berdeham, ia merasa ada yang perlu di luruskan mengenai tawarannya kemarin. "Mba Widya, boleh tolong tinggalkan kami sebentar?" pinta Annisa.


Widya mengangguk. "Tentu," ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang kerja Bian.


Sejak sebulan yang lalu, dengan dukungan penuh yang di berikan oleh Bian, Annisa perlahan mewujudkan impiannya untuk membuka gerai soto. Persiapan gerai yang rencananya akan di buka di Mall Taman Anggrek dan Bandara Soekarno Hatta, hampir rampung, namun karena ia juga harus melanjutkan kuliahnya, ia membutuhkan orang yang bisa ia percaya untuk membantunya mengelola bisnis barunya.


"Sekali lagi aku minta maaf, jika aku terkesan merebut karyawan mas Imam. Aku membutuhkan Widya, untuk membantuku mengelola bisnis."


Selama ini Widya-lah yang selalu membantunya, mulai dari mencarikan ide tema gerai, hingga pengelolaan manajement gerai, untuk itulah ia membutuhkan Widya. Di samping itu ada hal lain yang membuat Annisa seolah merebut Widya dari Bian, dan Bian bisa membacanya dari sorot mata istrinya.

__ADS_1


"Hanya itu alasannya?" desak Bian.


Annisa menggelengkan kepalanya. "Enggak juga sih, sebenarnya... Aku tahu mas Imam dan Widya tidak ada hubungan apa-apa, aku pun sama sekali tak cemburu, hanya saja dalam Islam mengatur hukum muamalat habluminannas. 'Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan perempuan kecuali ada mahram yang menyertainya.' (HR. Bukhari no. 5233 dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Selama ini mas sering meeting berdua dengannya bahkan hingga larut malam, aku hanya ingin menjaga mas dan Widya. Karena aku sayang kalian," ia menatap suaminya dalam-dalam. "Maafkan aku jika mas kurang berkenan," imbuhnya.


Bian tersenyum sembari membelai wajah cantik istrinya. "Sebetulnya sejak awal kita menikah, aku sudah ingin mengganti dia dengan sekretaris pria, hanya saja aku bingung, Widya mau aku pindahkan di mana? Aku tidak ingin membuatnya tersinggung." Bian meraih tangan Annisa dan menggengamnya. "Aku sama sekali tidak marah sayang, tadi aku cuma terkejut karna kupikir dia mau bekerja di perusahaan lain, tapi ternyata tidak. Aku justru berterima kasih padamu, telah memberiku solusi, tapi izinkan dia menyelesaikan tanggung jawabnya sampai aku menemukan sekretaris baru? Aku janji sebelum acara grand opening geraimu di langsungkan, Widya sudah tidak bekerja denganku."


Annisa mengangguk setuju. "Terima kasih ya mas," ia mengecup pipi Bian dengan mesra, obrolan keduanya berlanjut mengenai acara resepsi pernikahan mereka yang akan di gelar berdekatan dengan acara grand opening gerai soto milik Annisa. Bian ingin pesta resepsinya berlangsung meriah, sehingga menutuhkan persiapan yang cukup matang.


"Ya sudah aku ke kampus dulu ya mas," Annisa meraih tangan Bian kemudian menciumnya. "Jangan lupa di makan makanannya," ia melirik ke arah paper bag yang beisi makan siang untuk suaminya, yang ia buat dengan sepenuh hatinya.


"Iy sayang, pasti akan aku habiskan," Bian mengantar Annisa hingga ke lobby kantornya, kini Annisa sudah tahu jalan, sehingga ia bisa menyetir kendaraannya sendiri. "Bye.." ia melambaikan tangannya pada mobil yang di kendarai istrinya.


Begitu Annisa sudah pergi dari kantornya, ia kembali ke ruangannya dan memanggil Widya kembali. "Kau boleh bekerja dengan istriku, tapi kau harus menyelesaikan tanggung jawabmu sampai selesai termasuk hand over pekerjaan dengan karyawan yang akan menggantikanmu."


Widya tersenyum sumringah. "Siap pak, dengan senang hati aku akan melimpahkan semua pekerjaanku pada sekretaris baru pak Bian."


Bian menatap tajam ke arah Widya. "Widya, apa aku semenyebalkan itu?" tanya Bian.

__ADS_1


"Menurut bapak bagaimana?" tanya Widya balik. "Saya permisi dulu pak, mau makan siang," ia beranjak dari ruangan Bian sebelum Bian kembali berkotek.


__ADS_2