Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 43


__ADS_3

"Kamu yakin enggak mau bulan madu di luar negeri dan mau ikut touring ke Bali saja? Nanti capek loh, itu kan perjalanan jauh sayang." Sudah lebih dari sepuluh kali Bian menanyakan hal ini, jawaban Annisa selalu sama. Ia lebih menginginkan ikut touring ke Bali bersama The Moge ketimbang ke luar negeri.


"Aku sih maunya ikut touring bersama Widya, mas Fahri dan teman-teman mas Imam lainnya, tapi kalau mas Imam mau ke luar negeri, ya aku akan ikut juga. Aku akan ikut kemana pun mas mengajakku," ucap Annisa.


Sebetulnya Bian pun menginginkan touring bersama temaan-temannya setelah melewati badai yang menghampiri The Moge beberapa bulan belakangan ini, terlebih touring bersama kekasih halal merupakan salah satu impiannya, namun ia khawatir Annisa kelelahan, karena mengingat jarak antara Jakarta dan Bali cukup jauh bila di tempuh oleh perjalanan darat. "Tapi nanti kalau capek atau ngantuk bilang ya, sayang."


Annisa mengangguk setuju, ia begitu senang akhirnya bisa ikut touring bersama The Moge, sudah lama ia ingin tahu seperti apa lingkar pertemanan suaminya, apakah seperti genk motor brandalan yang pernah mengganggu kedai sotonya di Jogja atau justru genk yang peduli dengan sekitar.


Persiapan Bian untuk touring kali ini berbeda ketika ia hanya touring bersama teman-teman atau melakukan single touring, banyak hal yang ia persiapkan karena ia membawa sang istri tercinta.


Sebelum berangkat tidak lupa mereka berpamitan pada Sekar, termasuk Fahri yang datang ke kediaman Bian untuk berpamitan pada ibundanya. "Ibu tidak apa-apa kan kami tinggal sebentar?" tanya Annisa dengan raut wajah sedikit cemas.


"Enggak apa-apa sayang, kan ada Maria dan juga Mbok Darmi yang menemani ibu. Kalau bosan ibu bisa mendatangi gerai sotomu dan ngobrol dengan karyawanmu di sana," ucap Sekar sembari mengelus lengan Annisa. "Kalian senang-senang-lah di sana," ia beralih ke Fahri. "Terutama kamu, ibu lihat akhir-akhir ini kau terilhat kusut sekali apa karena banyak pekerjaan?"


Annisa dan Bian tersenyum, mereka tahu Fahri terlihat kusut bukan karena banyaknya pekerjaan di kantor, melainkan karena Eric sering datang ke markas The Moge bersama Widya.


"Tidak, bu. Tidak ada apa-apa. Ya sudah kami berangkat dulu ya bu," Fahri menghindari obrolan tentang dirinya, ia memeluk dan mencium ibundanya, bergantian dengan Annisa serta Bian.


"Pergi dulu ya, bu. Assalamualaikum." ucap Bian dan Annisa kompak.

__ADS_1


"Walaikumsalam," jawab Sekar.


"Maria, aku titip Eyang ya," ucap Annisa saat ia melewati Maria yang tengah menyiram tamanaman. "Kalau habis ke Gereja tolong langsung pulang ya, jangan kelayapan dulu."


"Enggak bu, aku sudah putus sama kadal buntung itu jadi enggak akan kemana-mana."


Annisa hampir tertawa mendengar Maria menyebut mantannya kadal buntung. "Ya sudah, nanti kabarin aku kalau ada apa-apa ya."


Maria mengangguk. "Baik, bu."


Tiba di garasi, Annisa meminta kunci motor pada Bian. "Aku yang bawa ya motornya sampai ke markas?" puntanya.


Sampai sekarang, Bian selalu kagum setiap kali istrinya mengendarai motor gedenya. Di balik tubuhnya yang mungil, ia begitu lihai dalam mengemudikan motor gede. "Sayang kenapa sih kalau aku yang bawa, mas enggak pernah meluk aku? Padahal kalau mas yang bawa selalu minta di peluk?" tanya Annisa saat mereka menuju markas. Annisa memperhatikan tangan Bian selalu berada di atas tanki bensin motornya.


"Takut jatuh," Bian tertawa, ya memang itu alsannya, ia takut Annisa geli ketika ia memeluknya dan menjadi tidak simbang sehingga bisa membahayakan dirinya dan istrinya sehingga Bian memilih untuk tidak menyentuh istrinya.


Annisa yang kesal dengan jawaban suaminya, langsung menambah kecepatan, ia seperti membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan berkendara yang sangat bagus. "Sayang, sayang... Jangan ngebut-ngebut." Bian menepuk-nepuk bahu Annisa, memintanya untuk menurunkan kecepatannya.


Sampai di markas, mereka berdua justru berdebat. "Kalau mas yang bawa ngebut aku enggak pernah protes," ucap Annisa kesal.

__ADS_1


"Ya beda dong sanyang.."


"Apanya yang beda? Mas itu suka ngeremehin orang."


Bian langsung diam, karena sadar dirinya menjadi pusat perhatian teman-temannya. Ia langsung mengajak anggota touring berkumpul untuk briefing dan berdoa sebelum berangkat menuju Bali.


Annisa suka melihat cara Bian memimpin atau memberikan arahan, baik itu di kantor maupun di markas. Bian terlihat sangat berwibawa dan mengagumkan, tapi entah mengapa terkadang saat bersamanya tingkah suaminya seperti anak kecil yang begitu manja, terlibih saat tidur di pelukannya, ia bagai bayi gede yang selalu minta di belai.


Setelah hampir tiga puluh menit, mereka selesai briefing dan berdoa. Para anggota saling bahu-membahu memasukan paket sembako ke mobil. Akan ada satu mobel yang akan ikut dengan mereka, mobil tersebut membawa obat-obatan, paket sembako yang akan mereka bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan yang mereka lewati serta salah seorang kameramen yang mengabadikan moment perjalanan mereka ke Bali.


"Sudah siap berangkat?" tanya Bian menghampiri istrinya yang tengah bersama Widya, ia nampak keringatan setelah membantu anggota The Moge memasukan paket sembako.


"Siap tapi di bersihin dulunkeringatnya," ucap Annisa, ia mengelap kerengat di dahi suaminya, begitu pun dengan Widya ia membatu Erik membersihkan wajahnya dari keringat.


"Harusnya gue enggak ikut," gerutu Fahri, melihat Widya dan Erik, ia menendang botol air mineral hingga air di dalamnya keluar dan mengenai temannya. "Sorry, sorry gue enggak sengaja," Fahri langsung meminta maaf pada temannya.


"Loe itu kenapa sih, kesel mulu bawaannya?"


Fahri tak menjawabnya, ia memilih untuk naik ke motornya.

__ADS_1


__ADS_2