
Ssuai dengan permintaan pak Wijaya, proses pemakaman pun di lakukan secara tertutup. Terlebih Pak Wijaya sendiri merupakan anak tunggal, orangtuanya sudah meninggal sejak lama sehingga tak ada sanak saudara yang menghadiri posesi pemakaman itu.
Dalam prosesi tersebut hanya ada seorang pemuka agama, petugas dari rumah duka yang mengurus jenazah, Bian, pengacara sekaligus sahabat mendiang ayahnya, dan tentunya Bian selaku anak tunggal pak Wijaya.
Bian turun langsung ke liang lahad untuk mengantarkan ayahnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. 'Aku akan selalu menndoakan, ayah,' batin Bian, saat meletakan jenazah ayahnya di tanah, kemudian ia menutupnya dengan papan dan kembali naik.
Selesai acara prosesi pemakaman, Bian mengucapkan terima kasih pada ustad, dan petugas dari rumah duka yang telah membantunya mengurus jenazah mendiang ayahnya.
Mereka semua telah pergi, kini yang tersisa hanya-lah Bian dan pengacara ayahnya, keduanya saling diM untuk beberapa saat, hingga akhirnya sang pengacar membuka mulutnya. "Bian, tak akan ada pembacaan harta warisan, karena ayahmu tak membuat surat wasiat," ucap sang pengacara sembari menepuk bahu Bian.
"Tapi ayahmu pernah berpesan, jika dia meninggal dunia, maka seluruh pengelolaan hartanya di serahkan padamu. Semua surat-surat berharga milik ayahmu, ada di bankas rumah, tepatnya di ruang kerjanya. Tapi sayangnya dia sama sekali tak menyebutkan passwordnya secara gambang, dia hanya bilang tanggal pertemuan pertamannya dengan ibumu." Sang pengacara berhenti sejenak.
__ADS_1
"Semoga kamu beruntung, nak. Kabari uncle jika kau butuh sesuatu. Sekali lagi uncle ucapkan turut berduka cita atas kepargian ayahmu, Bian. Semoga kamu tabah menghadapi ini," ia mengelus bahu Bian dengan lembut kemudian meninggalkan tempat pemakaman.
Bian sendiri baru beranjak dari makam ayahnya sore menjelang malam, memory otaknya terus memutar kenangan-demi kenangan yang pernah ia lewatkan bersama ayahnya. Ayahnya memang pria yang super sibuk, namun Bian tahu jika ayahnya berusaha untuk menyempatkan waktunya berkumpul bersama keluarga. Ya bisa di bilang beliau bukan ayah yang buruk, sebelum mengetahui istrinya masih menyimpan perasaan pada mendiang suami pertamanya.
Senja semakin tenggelam, perlahan Bian beranjak dari makam ayahnya, menuju kediaman orangtuanya. Sudah beberapa bulan terakhir ini, ia tak pernah menginjakkan kakinya di rumah masa kecilnya itu, terakhir kali ia menginap di rumah orangtuanya ketika Raka di tembak oleh kawanan yang mengacaukan markas The Moge, setelah itu Bian tak lagi datang kemari. Selain karena rumah pribadinya sudah bisa di tempati, Bian pun sudah lelah ribut dengan ayahnya. Setiap kali bertemu ada saja hal yang yang ia ributkan.
Namun kinirumah itu kosong, sekosong hati Bian. Ia berjalan menuju ruang kerja ayahnya, Bian mencari brankas yang menyimpan seluruh surat berharga milik ayahnya. Bukan. Bian bukan menginginkan harta peninggalan ayahnya, melainkan ada sesuatu yang harus ia buktikan.
Begitu brankas itu terbuka, ternyata dugaannya selama ini benar. Ayahnya tidak akan oernah mewariskan apa pun padanya karena seluruh hartanya atas nama Claire Florencia, ibunda Bian.
Ayahnya begitu memuja ibundanya, sehingga ia memberikan semua yang ia miliki kepada ibundanya. Sayangnya rasa cemburu yang begitu besar membutakannya, hingga ayahnya tega melukai hati dan fisik ibundanya hanya demi memuaskan ego dan memberi pelajaran pada ibunda Bian.
__ADS_1
Ibundanya tak pernah kembali lagi setelah berhasil pergi dari rumah ini, bahkan dia tak menuntut sepeserpun harta miliknya ayahnya yang sudah menjadi atas namanya. Yang ibundanya Bian mau hanyalah kebebasan, bebas dari hubungan toxic bersama pak Wijaya.
Lamunan Bian terhenti ketika asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman ayahnya memberitahunya jika anak-anak yatim yang ia undang untuk mendoakan ayahnya sudah menunggunya di bawah. "Tunggu sebenar, aku shalat dulu," ucap Bian, kemudian ia mengunci brankas dan keluar dari ruang kerja ayahnya.
Sebelum pulang dari makam tadi, Bian sempat mampir ke panti asuhan yang sering menjadi tempat ayahnya berdonasi, dan tak lupa ia juga mampir ke restoran untuk memesan makanan untuk acara pengajian malam itu, rencananya pengajian akan ia gelar selama 7 hari berturut-turut di kediaman ayahnya.
Pukul 22.30 acara pengajian berakhir, sebelum mereka pulang Bian sempat berbincang dengan kepala panti, ia meminta mereka untuk merahasiakan berita kematian ayahnya.
"Baik pak Bian, kami tidak akan menceritkan kepada siapa pun. Sekali lagi kami turut berduka cita sedalam-dalamnya, semoga amal ibadah beliau di terima dan di ampuni dosa-dosanya." Sang kepala panti dan anak asuhannya pamit.
Setelah mereka pergi, Bian baru teringat dengan Annisa, ia yakin jika Annisa dan keluarganya marah dan kecewa padanya. Tanpa membuang waktu, Bian bergegas menuju halipad dan terbang menuju Jogja.
__ADS_1
Bian baru tiba di kediaman pukul 01.00 dini hari, dari jendela kaca depan Bian bisa melihat lampu ruang tamu sudah di matikan, pertanda para penghuninya sudah beristirahat. Bian yang tak ingin mengganggu Annisa dan keluarganya, memilih untuk menunggu hingga pagi, namun sayangnya rasa lela yang mendera tubuhnya membuat Bian tanpa sadar tertidur pulas di depan teras kediaman Fahri.