
Selepas shalat subuh mereka langsung tancap gas keluar kota Jogja, rute pagi ini yang mereka lalui adalah Solo, suasana yang masih pagi membuat laju motor yang Bian kendarai bisa melaju dengan kecepatan maksimal 80 – 110 km/jam, melintasi Candi Prambanan yang menjadi salah satu ikon kota Jogja, mereka terus merayap melintasi Klaten dan akhirnya masuk kota Solo, dari kota ini mereka melanjutkan perjalanan menuju Sragen, mereka sengaja tidak mengambil rute Karanganyar karena rute tersebut akan menjadi jalur kembali saat dari Bali nanti.
Indahnya pemandangan di sepanjang jalan benar-benar memberikan kenikmantan tersendiri, jalanan hitam memanjang disisi kanan kiri jalan pesawahan menjadikan perjalanan mereka tidak terasa, hingga tak terasa akhirnya mereka sudah masuk Provinsi Jawa Timur, gerbang Kabupaten Ngawi.
Mereka sudah melewati, beberapa pondok pesantren terkenal seperti Gontor, lalu kemudian mereka istirahat dan mengisi bahan bakar sebelum keluar dari kota Ngawi, karena selepas ini mereka akan memasuki kawasan hutan Jati di daerah Caruban.
Jalan di belantara hutan Jati ini sangat mulus hanya beberapa titik saja yang rusak, namun bagi pengendara motor atau mobil harus ekstra hati-hati untuk mendahului kendaraan yang ada di depan jangan sampai melanggar rambu/marka jalan apalagi mendahului pada titik dimana ada garis lurus tanpa putus. Ereka berkendara secara tertib agar pengguna lain bisa sama-sama melewagi jalan.
Selepas siang mereka sudah masuk kabupaten Nganjuk dan terus merayap menuju Jombang karena target mereka, malam harus nyeberang ke Pulau Bali, karena jarak Jombang ke Mojokerto relative dekat ± 27 km, maka Bian putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Mojokerto.
Dari Mojokerto mereka langsung ambil arah ke Sidoarjo, yang artinya perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang masih sekitar ± 220 km. Bian kembali berhenti sejenak untuk shalat Ashar sembari mengecek kondisi anggotanya, terutama istrinya tercinta.
"Apa kamu lelah sayang?" tanya Bian ketika mereka selesai shalat.
Annisa menggelengkan kepalanya. "Aku hanya haus," ia melirik ke arah Fahri yang tengah memberikan minuman dingin kepada Widya. "Sepertinya sudah ada yang mulai pendekatan," gumam Annisa sembari tersenyum.
Fahri kemudian menghampiri Annisa dan memberikan sebotol air mineral dingin kepada adiknya. "Kalau kurang ambil saja di mobil, aku taruh di sana agar anak-anak yang lain bisa mengambilnya."
"Terima kasih, mas Fah," Annisa senang melihat senyum melintas di bibir kakanya, sudah hampir dua bulan ini ia hampir tak melihat Fahri tersenyum.
__ADS_1
Setelah beristirahat sejenak, perjalanan kembali di mulai, dari Sidoarjo mereka mengambil jalur Pantai Utara Pulau Jawa yaitu arah Pasuruan dan terus melanjutkan ke kota Probolinggo, kendaraan terus mereka pacu keluar kota Probolinggo.
Hari sudah hampir malam ketika mereka mencoba mengabadikan moment, sembari shalat maghrib di Paiton, salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk menyuplai listrik daerah Jawa dan Bali.
Perjalanan kembali mereka lanjutkan ke Situbondo, namun ditengah perjalanan hujan deras menemani perjalanan mereka, sempat terbesit dalam benak Bian namun rupanya para anggota memilih untuk menerobos hujan, dan ia melihat Annisa begitu menikmati hujan yang turun sembari memeluk tubuhnya.
Akhirnya walaupun dengan kecepatan 40-50 km/jam mereka tetap melanjutkan perjalanan hingg memasuki kota Situbondo, kota terakhir sebelum mereka menyeberang ke pulau Bali.
Dikota ini mereka berhenti sejenak di Pom Bensin, untuk mengganti pakaian dan shalat Isya. Jam sudah menunjukan pukul 20.00 malam. Beberapa dari anggota ada yang menganjurkan jangan dilanjutkan perjalanan karena setelah daerah Asembagus akan memasuki Taman Nasional Baluran yang penuh dengan hutan jati, jalanan menanjak dan ada titik jalan yang berlubang.
Namun feeling Bian mengatakan bahwa mereka akan tetap aman-aman saja, sehingga ia memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan menuju pelabuhan Ketapang. "Insyaallah semuanya baik-baik saja," ucap Bian, ia memberikan semangat kepada anggotanya untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah hampir satu jam setengah melintasi hutan jati tersebut akhirnya mereka memasuki wilayah Ketapang, pada pukul 22.15 malam dan mereka langsung naik kapal, menyeberangi selat Bali menuju pelabuhan Gilimanuk.
Dibutuhkan waktu kurang lebih dari tiga puluh menit untuk menyeberang ke pelabuhan Gilimanuk, hampir pukul 23.00 The Mogesudah menginjakka kaki di Pulau Dewata
Sungguh luar biasa dan surprise bagi Bian setelah hampir 14 jam nonstop berkendara dihari kedua ini akhirnya bisa sampai di Pulau Dewata. "Sayang, apa kamu akan selalu menemani perjalananku menjelajah negeri ini?"
"Ya, aku akan selalu menemanimu sayang." Annisa merasa, bersama Bian semuanya terasa indah dan menyenangkan, sehingga tak ada alasan baginya untuk tidak menemani suaminya mengelilingi Indonesia.
__ADS_1
Jalanan selepas Gilmanuk sangat bagus dan lebih banyak jalan lurus terutama di ujung kabupaten Jembrana. Di Desa Loloan mereka berhenti dan bermalam di sana.
Desa Loloan adalah salah satu kampung yang mayoritas penduduknya adalah muslim, sehingga tidak heran banyak Musholla dan Masjid sepanjang daerah tersebut. Subuh mereka shalat di salah satu masjid di sana, setelah itu mereka sarapan sembari mengecek kendaraan mereka.
Setelah siap barulah mereka mulai pertualan mereka menyusuri pulau Dewata. Udara pagi di Bali cukup sejuk, mereka sempat berpapasan dengan beberapa petani yang akan berangkat ke sawah, anak-anak yang berangkat ke sekolah. Nagara adalah salah satu kota besar yang mereka jumpai setelah memasuki Bali, selepas itu jalanan yang ditempuh dari Soka ke Tabanan sedikit berkelok dan menyempit, bahkan beberapa kali terjadi antrian karena ada kendaraan yang mogok bahkan terperosok ke jurang.
Tepat pukul 10 pagi mereka sudah memasuki kawasan wisata Tanah Lot yang terkenal itu dan ini menjadi destinasi wisata mereka yang pertama.
Bian tak melewatkan kesempatan itu untuk tidak menggambil gambar, ia banyak memotret istrinya di tengah keindahan Tanah Lot. "Kamu cantik sekali sayang," ia memperlihatkan hasil jepretannya.
"Foto berdua yuk," ajak Annisa, ia meminta tolong pada Widya untuk mengambil gambar mereka berdua, lalu Annisa meminta suaminya untuk mengambil gambar dirinya dan Widya. "Mas Fahri, mau ikutan foto?" ajak Annisa.
Tak membuang kesempatan Fahri pun ikut berfoto, bersama Annisa dan Widya. Kemudian Annisa mengajak foto berlima, entah mengapa Annisa meemiliki firasat jika suatu hari ia dan Widya akan menjadi saudara.
Tak hanya foto individu, seluruh anggota The Moge pun foto bersama di Tanah Lot.
Setelah dari Tanah Lot perjalanan mereka lanjutkan ke Pantai Kuta, di pantai ini mereka dijamu oleh komunitas motor yang ada di Bali, kedua komunitas itu saling bercengkrama dan bertukar pikiran. Bian berjanji jika mereka datang ke Jakarta, ia dan anggotanya pun akan menjamu mereka.
Setelah bercengkrama cukup lama, perjalanan lanjutkan berkeliling kota Denpasar, monument bom Bali I dan II di Legian dan dilanjutkan ke Pantai Sanur. Mereka memutuskan untuk menginap di sana, sebelum keesokan harinya Bian dan Annisa bertolak menuju Paris untuk menikmati bulan madu.
__ADS_1