
Sesampainya di rumah, Annisa menyambut kedatangan suami dan ibu mertuanya dengan penuh suka cita. "Selamat datang di rumah kami, semoga mama betah di sini," ucap Annisa sembari memeluk ibu mertuanya. "Kita makan malam dulu yuk mah, Kylie dan Farel sudah menunggu," ajak Annisa.
Claire sempat ragu, ia sama sekali tak ingin merepotkan dan menjadi beban anak sulung yang sudah ia tinggalkan selama bertahun tahun. "Ayo mah," Bian menggandeng tangan ibundanya menuju ruang makan.
Bian melihat sekitar, rumahnya nampak sepi tak seperti biasanya. "Sayang ibu di mana?" tanya sembari menarik kursi untuk mamanya.
"Ibu dan Maria, menginap di kostan mba Widya. Katanya mas Fahri ada kerjaan di Bandung, jadi ibu dan Maria yang menemani mba Wid, sekalian periksa kandungan." Annisa mengambilkan nasi untuk ibu mertuanya kemudian ia menyiapkan makan untuk suaminya.
"Iya, Fahri sedang menagani project di Bandung. Widya beneran hamil?"
"4 minggu, tadi ibu menelepon."
Mereka semua menikmati makan malam dengan hangat, setelah itu Bian mengantar ibundanya ke kamar. "Mah, aku harap mama mau melaporkan pria itu ke polisi. Percayalah, anak-anak tidak membutuhkan bapak yang memiliki nama baik palsu tapi membutuhkan mamanya mendapatkan keadilan," bujuk Bian sekali lagi, Bian tak hanya meminta Claire melaporkan suaminya ke polisi namun ia juga meminta Claire untuk menceraikan suaminya.
"Aku tahu Allah membenci perceraian, tapi jika dalam rumah tangga mama hanya menyengsarakan dan tidak ada kebahagiaan di dalamnya untuk apa di pertahankan? Mama tidak perlu mengkhawatirkan masa depan Kylie dan Farel, aku yang akan bertanggung jawab menjaga kalian."
Claire menggelengkan kepalanya. "Mama tak ingin melibatkanmu dalam masalah ini, mama tidak ingin menjadi bebanmu," tolaknya.
Bian hampir kehabisan akal untuk membujuk mamanya agar mau melaporkan suaminya ke polisi dan menerima bantuannya. "Mah, please. Kasih aku kesempatan untuk membantu mama."
__ADS_1
"Akan mama pikirkan lagi," ucap Claire, ia meminta waktu kepada Bian untuk memikirkan ulang rencananya kedepan, ia tak bisa terburu-buru sebab ia tak ingin kehilangan kedua anaknya seperti dulu ia kehilangan Bian.
"Ya mama, istirahat-lah." Bian menutup pintu kamar dan membiarkan mamanya istirahat sembari berpikir ulang.
...****************...
Seperti biasanya pukul 01.00 dini hari Annisa bangun dari tidurnya untuk menunaikan shalat malam, sebelum turun dari tempat tidur Annisa mengecup kening suaminya dan membelai lembut wajahnya. 'Betapa tampannya dia saat tidur,' batin Annisa yang selalu mengagumi ketampanan suaminya.
Perlahan ia turun dan bersiap untuk beribadah. Selesai beribadah Annisa merasa tenggorokannya sedikit kering sehingga ia memutuskan turun ke dapur untuk membuat minuman hangat. Sesampainya di dapur, Annisa melihat pintu samping yang mengarah ke kolam renang terbuka. Ia pun menghampiri karena penasaran siapa yang malam-malam keluar. Rupanya Claire tengah duduk di bangku taman pinggir kolam renang, Annisa pun menghampiri Claire dengan membawakan dua gelas teh hangat.
"Mama tidak tidur?" tanya Annisa sembari memberikan segelas teh hangat buatannya, kemudian ia duduk di samping mama mertuanya.
"Tenggorokanku kering, jadi aku ke bawah bikin teh."
"Niss, soto di kedaimu enak sekali. Kata Bian kamu sendiri yang meracik bumbunya," ucap Claire memulai obrolannya bersama Annisa, ia ingin mengenal lehih jauh sosok wanita yang sudah membuat putra sulungnya jatuh hati.
"Iya, resep turun temurun dari keluarga ibu," Annisa kemudian menceritakan proses perkenalannya dengan Bian. "Karena soto itulah, mas Imam keesokan harinya datang lagi, dia rela subuh-subuh mengantarku ke pasar."
"Mama rasa tidak, dia memang sudah jatuh hati padamu." keduanya tertawa. Claire menggenggam tangan Annisa. "Niss, seandainya Bian menyakiti fisik dan batinmu apa kamu akan memaafkannya?"
__ADS_1
Annisa terkejut dengan pertanyaan ibu mertuanya, namun kemudian ia mengerti mengapa Claire menanyakan hal itu, Claire ingin meminta pendapatnya jika Annisa berada di posisinya. "Insyaallah, aku percaya mas Imam tidak akan melakukan hal tersebut, dia adalah sosok pria yang lembut dan penuh kasih. Tapi seandainya dia melakukan hal itu padaku, mungkin untuk yang pertama aku akan memafkannya sebagai khilafannya karena manusia tidak akan pernah luput dari khilafan. Namun untuk yang kedua aku akan mengambil tindakan tegas. Aku akan melaporkannya ke polisi dan aku akan menggugat cerai."
"Meski kau punya anak?" tanya Claire.
"Ya," jawab Annisa tegas. "Sebagai orang tua aku berkewajiban memberikan contoh yang baik untuk anakku, aku juga berkewajiban memberikan lingkungan yang sehat kepada anakku. Dengan terus membiarkan anak berada dalam lingkungan yang penuh denga kekerasan, itu bisa memberikan luka batin pada anak. Tapi jika kita bersikap tegas dengan melaporkan orang yang telah melakukan kekerasaan, itu bisa memberikan contoh kepada anak bagaimana cara kita melindungi dan mencintai diri sendiri."
"Tapi nantinya anakmu akan memiliki ayah seorang narapidana?"
"Tidak apa-apa, dia akan belajar bahwa kita tidak boleh menyakiti siapa pun terlebih kepada keluarga sendiri." Annisa menggenggam erat tangan Claire. "Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku yakin mama pasti bisa. Mas Imam, Kylie, Farel dan aku akannselalu mendukung mama, kami ingin mama bahagia."
"Mama takut, Niss.. Mama takut ayahnya Kylie dan Farel berbuat nekat, dia bisa saja mengambil Kylie dan Farel dengan paksa kemudian menyakiti mereka hiks..." Claire menceritakan, jika dulu ia pernah berusaha kabur dengan membawa kedua anaknya namun rencana itu gagal dan suaminya bukan hanya memukuli dirinya tapi kedua anaknya.
Annisa memeluk Claire dengan hangat. "Insyaallah, hal itu tidak akan terjadi mah, ada mas Imam dan aku yang akan melindungi mama dan adik-adik."
"Yang di katakan Nissa benar mah, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mama lagi," Bian berjalan mendekat ke arah mereka, kemudian ia berjongkok di hadapan ibundanya. "Mama maukan melepaskannya dan melaporkannya ke polisi? Aku ingin mama bisa lepas dari orang yang menyakiti mama."
Perlahan Claire menganggukan kepalanya. "Iya nak, besok temani mama ya."
"Pasti mah, Bian akan terus menemani mama." Bian meraih kedua tangan Claire dan menciumnya.
__ADS_1