Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 25


__ADS_3

Meski Fahri masih melarang Bian untuk menghubungi Annisa secara langsung, namun Bian dan Annisa tak menemukan kendala yang berarti dalam mempersiapkan acara pertunangan mereka yang rencananya akan di gelar di Jogja.


Mereka berkomunikasi melalui Fahri sebagai perantaranya. "Loe yakin enggak mau ngundang rekan bisnis atau teman-teman loe?" tanya Fahri saat mereka selesai meeting.


Bian menggeleng yakin. "Nanti aja deh, saat resepsi di Jakarta." bukan tanpa alasan Bian tak mengundang teman-teman atau pun rekan bisnisnya, sebagian besar dari teman-teman Bian dan rekan bisnisnya mengenal Caroline. Bagaimana tidak, selama sepuluh tahun ia menjalin hubungan dengan gadis itu, dan gadis itu selalu menempel padanya sehingga semua orang di lingkungannya pasti mengenalnya.


Bian tidak mau mengambil resiko, Caroline mengacaukan acara pentingnya. Ia berencana akan bicara baik-baik dengan Caroline setelah ia sah menikah dengan Annisa, dan meminta Caroline ikhlas serta tak mengganggu acara resepsinya.


"Fah, seperti yang loe tahu. Bokap gue sedang di luar negeri, beliau tidak bisa pulang ke Indonesia," Bian belum bisa berterus terang mengenai kondisi ayahnya yang masih terbaring lemah di rumah sakit dengan penyakit kanker dan HIV yang terus menggerogoti tubuhnya.


Bian hanya akan mau bercerita kepada Annisa, setelah mereka menikah dan mengajaknya sama-sama menjenguk ayahnya.


"Dan nyokap gue," Bian menundukan kepalanya. "Gue masih belum dapat kabar, gue udah nyoba DM Instagramnya, dan juga ke rumahnya. Tapi beliau enggak mau keluar nemuin gue," Bian mencoba untuk tidak terlihat sedih di depan Fahri. "Gue enggak mau Annisa sedih atau merasa keluarga gue enggak menyetujui pertunangan gue sama dia. Enggak itu sama sekali enggak, gue yakin jika suatu saat orangtua gue bertemu Annisa secara langsung, mereka pasti akan suka dengannya."


Fahri menepuk bahu Bian dengan lembut, sedikit banyaknya ia mengetahui tentang kondisi keluarga Bian. "Enggak apa-apa, Bi. Annisa juga menerti kok," ucap Fahri.


"Ya sudah kalau begitu, gue balik ke kantor gue dulu." Bian beranjak dari tempat duduknya kemudian ia keluar dari ruang meeting perusahaan ayahnya.


Sejauh ini Bian cukup puas dengan kinerja Fahri, masalah yang terjadi di perusahaan perlahan berangsur membaik, perusahaan kembali mendapat kepercayaan client untuk mengerjakan project-project besar. "Pilihan ayah, menunjuk Fahri adalah pilihan yang tepat," ucapnya saat ia menjenguk ayahnya di rumah sakit.


Ya, setelah dari kantor ayahnya, Bian tak langsung pergi kekantornya, ia memutuskan untuk menjenguk ayahnya di rumah sakit dan melaporkan beberapa perkembangan perusahaannya.


"Terima kasih, itu juga berkat bantuan dan kerja kerasmu," ucap pak Wijaya.


Bian berdeham, wajahnya nampak ragu-ragu untuk menyampaikan prihal pertunangannya dengan Annisa.


"Ada apa, nak? Apa ada masalah lain? Mungkin masalah kantormu? Katakanlah," pinta pria yang kini wajahnya semakin pucat, dan terlihat lemah tak berdaya di atas tempat tidur, padahal sebelum penyakit itu menggerogoti tubuhnya, dia adalah pria bertubuh kekar seperti putra tunggalnya.

__ADS_1


"Tidak, bukan itu, yah." Sanggah Bian dengan cepat. "Minggu depan aku akan melangsungkan pertunangan," ucapnya, akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya setelah beberapa minggu ia memandamnya.


"Kau benar-benar yakin ingin menikahi Caroline? Kalau ayah boleh berkomentar, sebaiknya kau pikirkan lagi, tapi apa pun yang menjadi keputusanmu, ayah akan mendukungmu."


Bian menggeleng. "Bukan, bukan dengan Caroline," bantahnya, ia mengeluarkan handphone dari sakunya dan memperlihatkan foto Annisa berserta keluarganya, foto itu di ambil ketika Bian melamar Annisa dengan Jus 30.


"Namanya Annisa, dia adik kandung Fahri yang sekarang menjabat sebagai direktur di perusahaan ayah," ucap Bian.


Pak Wijaya tersenyum lega, melihat calon menantunya. Sebetulnya ia sudah curiga mengenai perubahan sikap Bian yang lebih lembut, sekarang ia yakin pasti ada pengaruhnya dari Annisa. "Nak, jaga dia baik-baik. Semoga apa yang menimpa ayah dan ibumu tidak terjadi padamu, semoga kamu mendapatkan banyak pembelajaran."


"Aku akan menjaganya dengan segenap hatiku," ucap Bian dengan penuh keyakinan. "Sebenarnya aku menyampaikan berita ini karena minggu depan aku tidak bisa menjenguk ayah. Tapi ayah tidak perlu khawatir, aku akan terus memantau kondisi ayah melalui dokter. Aku janji, begitu acaranya selesai, aku akan kembali ke Jakarta, mungkin aku hanya dua atau tiga hari di Jogja."


Pak Wijaya mengangguk. "Tidak apa-apa, kau uruslah urusanmu. Maaf ayah tidak bisa mendampingimu di hari pentingmu, tapi doa ayah selalu menyertaimu," ucap Pak Wijaya. "Apa kau sudah menghubungi ibumu?"


"Tentu saja," jawab Bian, ia yang tak ingin membuat ayahnya merasa bersalah terpaksa mengatakan jika ibunya kemungkinan akan datang.


...****************...


Sesampainya di kantor, Bian di kejutkan dengan suara keributan yang berasal dari ruang kerjanya.


"Lebih baik anda keluar dari ruang kerja pak Bian, karena pak Bian tidak ada di tempat," ucap Widya dengan frustasi, padahal ia sudah di bantu oleh dua orang security yang hendak membawa Caroline keluar.


"JANGAN SENTUH AKU!!" teriak Caroline ketika security hendak memegang tangannya. "Aku tidak akan keluar sebelum bertemu dengan Bian."


"Saya sama sekali tak keberatan anda menunggu pak Bian, asalkan anda tidak menggangguku," Widya sangat kesal karena sedaritadi Caroline terus menggangguny bekerja.


"Babu tidak tahu malu sepertimu, memang harus di beri pelajaran. Kau tak pantas dengan Bi..."

__ADS_1


"Ada apa ini ribut-ribut?" Bian memotong.


Melihat Bian datang, mata Caroline langsung berbinar-binar, ia langsung berhambur ke pelukan Bian. "Sayang aku rindu sekali denganmu," ucapnya manja sembari mempererat pelukannya.


"Car, lepaskan! Malu di lihat banyak orang," Bian berusaha melepaskan tangan Caroline dari pinggangnya, sembari memberi kode kepada securitynya untuk keluar dari ruang kerjanya.


"Setiap minggu aku ke rumahmu, kamu tidak ada di rumah. Hanya ada wanita gatal ini di rumahmu, makanya aku mencarimu ke kantor," protes Caroline.


"Ya, aku memang sibuk akhir-akhir ini."


"Aku mengerti kamu sibuk sayang, tapi haruskah kau tidur dengan wanita jal*ng ini?" tunjuk Caroline ke arah Widya. "Aku bisa melayanimu lebih dari yang wanita murahan ini berikan, dia hanya menginginkan uangmu sayang."


Bian terkejut dengan kalimat yang di lontarkan Caroline, ia menatap Caroline, kemudian menatap Widya. Widya langsung mengedipkan matanya seraya memberi kode kepada Bian.


Bian berdeham. "Car, maafkan aku. Sepuluh menit lagi aku ada meeting dengan clien, aku harus mempelajari materinya dulu. Bisakah kita membicarakan ini lain kali?" perlahan Bian mendorong Caroline keluar dari ruang kerjanya.


"Tapi, Bi..."


"Please Car, aku sibuk sekali. Kau tahu kan betapa sulitnya aku membangun usaha ini? Jadi aku mohon keluarlah, aku mau meeting."


"Baiklah," ia menghentakan kakinya sebelum akhirnya Caroline keluar dari ruang kerja Bian.


Setelah memastikan Caroline pergi ia menatap Widya tajam. "Kau hanya punya waktu dua menit untuk menjelaskan ini," ucapnya sembari melihat jam di tangannya.


Widya pun langsung menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan Caroline di rumah Bian. "Tapi aku pikir lebih baik seperti ini, agar Caroline tidak mencari tahu bapak dekat siapa, karena tidak menutup kemungkinan jika ulat keket itu akan menghancurkan rencana pak Bian, setidaknya sampai pak Biyan dan ukhti Jogja itu sah."


Ya, itu pula yang sedang Bian pikirkan. Bian meraih berkas meetingnya, ia menepuk bahu Widya ketika melewatinya. "Maaf jika tadi Caroline menyebutmu dengan kata-kata kasar," ucap Bian, ia jadi tidak enak dengan Widya. "Terima kasih banyak atas semua bantuanmu. Nikmatilah liburanmu akhir bulan ini aku sudah membelikan tiket ke Korea dan tiket konser boyband kesukaanmu," Bian kemudian keluar dari ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2