
Bian terdiam cukup lama, di satu sisi ia tak ingin berbohong dengan Annisa, tapi di sisi lain ia pun tak ingin Annisa kecewa dengan kakaknya. Dari sorot mata Fahri sangat jelas terlihat dia merupakan sosok kakak yang selalu ingin menjadi superhero adiknya. "Iya," jawab Bian. "Tapi kamu tidak perlu khawatir, kakakmu sudah menyelesaikan semua masalahnya, dan besok aku pun sudah kembali ke Jakarta. Apakah besok pagi, sebelum pulang ke Jakarta aku masih boleh makan di warungmu?" tanya Bian sembari tersenyum untuk menenangkan hati Annisa.
Sayangnya Annisa menggeleng, namun bukan karena ia tak membolehkan Bian makan di warungnya, melainkan. "Tadi anaknya Mbok Darmi sakit, beliau izin tidak masuk besok, jadi kemungkinan aku akan bukan warung agak siang setelah aku ke pasar."
"Kalau begitu besok akan aku temani kau berbelanja, agar aku bisa tetap sarapan soyomu sebelum aku pulang ke Jakarta. Bagaimana?"
"Berbelanja?"
Bian mengangguk. "Ayolah, bukankah motormu masih di bengkel? Tentu akan memakan waktu lebih lama lagi jika kamu harus naik angkot. Jadi jam berapa dan di mana besok aku menjemputmu?"
"Jam 5 subuh, di sini," ucap Annisa malu-malu. "Malam ini aku yang dapat giliran jaga Ibu, karena mas Fahri sedang ada urusan."
Sembari tersenyum, Bian menganggukan kepala. "Okay, besok aku akan menjemputmu di sini. Aku permisi dulu ya, Assalamualaikum." ia pun menyalakan mesin motornya dan pergi dari rumah sakit.
"Walaikumsalam." Annisa baru pergi meninggalkan parkiran setelah Bian tidak terlihat lagi. Annisa terkejut ketika ia berbalik, kakaknya sudah ada di hadapannya. "Ngapain kamu di sini? Masuk sana!!" Fahri menatap tajam ke arah adiknya.
"Iya mas," tak ingin kena marah kakaknya, Annisa buru-buru pergi dari parkiran.
Sementara itu di tempat berbeda, Bian sengaja mencari hotel yang lokasinya tak jauh dari rumah sakit, agar besok ia tak terlambat menjemput Annisa. Sesampainya di kamar hotel, Bian melempar ranselnya di sofa, kemudian ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ingin rasanya ia memejamkan mata, tidur di teras kediaman Fahri tadi tak membuat kantunknya hilang, namun ia merasa tubuhnya sangat lengket, 10 jam berkendara dari Jakarta -Jogja, bahkan hingga sore ia belum juga membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
"Apa tadi Nissa mencium bau asem ketekku ya?" Bian mengakat tangannya sembari mengendus-endus keteknya. "Ah sudahlah, yang penting besok pagi saat ketemu aku harus wangi," gumamnya, ia meraih handuk di dalam lemari kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang, seketika hilang saat Bian berendam di air hangat. Ia memejamkan matanya, nemikmati sensasi air hangat yang seakan memihat tubuhnya. Sekelebat senyum Annisa muncul dalam pikirannya, gadis cantik itu berhasil menyelinap dan masuk ke pikiran Bian.
"Kenapa gue jadi mikirin Nissa ya?" gumam Bian, ia pun tak mengerti dengan perasaan yang timbul setiap kali berada di dekat Annisa, rasa degdegan bercampur bahagia bercampur menjadi satu, belum pernah ia merasakan hal ini sebelumnya termasuk pada Caroline yang sudah sepuluh tahun ia pacari.
Kedengarannya agak aneh memang, Bian bisa perpacaran selama itu dengan Caroline tanpa memiliki rasa yang special. Saat itu, ketika Bian belum mengenal sosok wanita, Caroline hadir memberikan banyak perhatian. Bian yang tak ingin membuat kecewa wanita yang sudah baik padanya, akhirnya menerima cinta Caroline.
Bian mencoba untuk setia dan menjaga komitment yang telah ia ucapkan. Dintambah hubungan mereka yang sudah terlampau jauh, membuat Caroline seakan mengikat Bian.
Air dalam bathtub perlahan berubah menjadi dingin, Bian pun menyudahi berendamnya dan mebikas tubuhnya seblum ia mengenakan handuk dan kembali ke kamarnya untuk benar-benar beristirahat di tempat tidur.
...****************...
Bian berjalan dengan gagah dan berani menyusuri lorong rumah sakit, sesaat ia menghembuskan napas pelannya. 'Kenapa degdegan gini sih? Padahal cuma mau ke pasar doang,' gumam Bian sebelum akhirnya ia mengetuk pintu ruang rawat inap ibunda Annisa.
Pada ketukannya yang ketiga Annisa membuka pintu, gadis itu nampak cantik dalam balutan mukena putih yang ia kenakan, hal itu sukses membuat Bian tepaku oleh aura kecantikan Annisa yang begitu alami.
"Mas Imam kok malah bengong? Ayo masuk!!" ajak Annisa.
Dengan ragu-ragu Bian melangkah. "Apa aku mengganggu? Aku bisa menunggumu di luar."
__ADS_1
"Mas Imam kepagian, ini baru saja adzan. Aku sama ibu mau shalat, mas Imam mau jadi Imam....?" ucap Annisa ragu-ragu.
Shalat.
Biam tak ingat kapan terakhir kalinya ia shalat, mungkin saat almarhum kakeknya masih hidup. Karena hanya beliau yang mengajari serta mengajaknya beribadah. Bian bahkan sudah tak ingat dengan bacaan-bacaan shalat. Satu-satunya surat yang ia hafal hanyalah Al-fatihah. Lantas bagaimana ia bisa menjadi imam, jika bacaannya saja ia tak hafal. "Aku shalat di musolah saja berjamah dengan yang lainnya. Permisi," Bian buru-buru keluar dari ruang rawat inap, ia bergegas mencari mushola di wilayah rumah sakit, dan benar saja di sana akan di laksanakan shalat subuh berjamaah.
Bian mengambil air wudhu sembari menoleh ke arah bocah kecil yang berada di sampingnya, bocah itu nampak terlihat lancar dalam berwudhu, dan itu sukses membuat Bian merasa malu.
Selesai berjamaah, kembali menghampiri Annisa di ruang rawat inap. Kali ini Annisa sudah tanpak rapih dan siap pergi bersamanya.
"Kamu temannya Fahri?" tanya Sekar, ibunda Annisa.
Bian mengangguk. "Iya tante, saya temannya Fahri di Jakarta." secara singkat Bian menceritakan perkenalannya dengan Annisa kemarin pagi saat mereka di bengkel, dan Bian pun meminta izin untuk menemani Annisa berbelanja di pasar.
"Panggil ibu saja," pinta Sekar. "Ibu mengucapkan banyak terima kasih karena kau telah banyak membantu Annisa, tapi kali ini saja keluar berduaannya. Kami sangat melarang Annisa jalan berduaan dengan seorang pria yang bukan mahromnya. Tapi karena kamu teman dekatnya Fahri dan Fahri pun sedang berada di Solo ya sudah, ibu izinkan, tolong jaga Annisa ya."
"Baik bu, nanti pulangnya Nissa akan naik motornya sendiri. Aku sudah dapat kabar dari bengkel kalau motor Annisa sudah bisa di ambil."
"Ya sudah, kalian hati-hati ya."
"Baik bu, kami pergi dulu ya. Assalamualaikum." Annisa meraih tangan ibundanya kemudian menciumnya, bergantian dengan Bian yang juga ikut menyalami ibunda Annisa.
__ADS_1
Hati Bian terasa damai ketika Sekar mengelus kepala Bian dengan lembut, ia terdiam sejenak, namun akhirnya menyusul Annisa keluar dari ruang rawat inap.
Sebelum berangkat, Annisa tak lupa menitipkan ibundanya pada perawat.