Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 46


__ADS_3

Satu minggu setelah kepulangannya ke tanah air, Annisa merasakan ada yang tidak beres dengan badannya, awalnya ia mengira masih terkena Jet lag karena perbedaan zona waktu antara Eropa dengan Indonesia, ternyata kondisi ituntak kunjung membaik.


Annisa yang tengah membuatkan sarapan untuk suaminya, terus-menerus memegangi kepalanya, hingga rasa mual yangntak tertahankan menderanya. "Maria, tolong lanjutkan ya, perutnsaya mual sekali," Annisa membuka appronnya dan menaruhnya di meja karena ia sudah tidak tahan lagi ingin ke kamar mandi.


Bian yang baru saja turun dan tak tahu jika istrinya tengah mual, menghampiri dan menyapanya. "Pagi sayang," baru saja ia ingin memeluk istrinya, namun Annisa justru malah muntah di tubuhnya hingga mengotori pakaian kerjanya.


Hoeekk... Hoeek..


Annisa mengeluarkan semua isi perutnya di dada Bian. "Sayang..." dengan sigap, Bian langsung membawa Annisa ke kamar mandi, tanpa rasa jijik ia menyeka sisa muntahan dari mulut istrinya. "Sudah muntahnya?"


Annisa mengangguk, wajahnya terlihat sangat pucat, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Dengan lembut, Bian pun mengelap keringat Annisa. "Maaf ya mas, aku suah mengotori pakaian mas Imam," ucapnya penuh rasa bersalah.


Annosa ingin membantu Bian melepas pakaian yang terkena muntahannya, namun Bian mencegahnya. "Enggak apa-apa sayang, nanti aku bersihkan sendiri." Bian sama sekali tak marah pada Annisa ia justru sangat mencemaskan kondisi istrinya. "Kamu istirahat saja ya."


Dengan cepat Bian membuka bajunya, kemudian ia membopong tubuh Annisa menuju kamar. "Maria," teriak Bian. "Tolong hubungi dokter Cindy, suruh dia datang kemari memeriksa ibu!" perintahnya.


"Baik pak Bian," Maria langsung menghubungi dokter Cindy, kemudian membuatkan teh hangat untuk Annisa.


Sementara itu Bian merawat Annisa dengan sangat telaten, ia menggantikan pakaian Annisa yang juga terkena cipratan muntahan. "Maaf ya mas, aku jadi merepotkan."


"Enggak sama sekali sayang, kamu tidak pernah merepotkanku." Bian mengganti pakaian Annisa dengan daster yang lebih ringan agar Annisa merasa nyaman. "Jadi jangan pernah bicara seperti itu ya."


Sekar penasaran ketika melihat Maria membawakan teh hangat ke kamar Annisa. "Teh buat siapa, Mar?" tanya Sekar.

__ADS_1


Maria menoleh ke arah Sekar. "Untuk bu Annisa, eyang. Tadi bu Annisa muntah-muntah."


Raut wajah sekar seketika berubah menjadi panik, ia pun menyusul Maria ke kamar Annisa. "Sayang, kamu sedang sakit?"


Annisa menggeleng. "Enggak kok bu, cuma masuk angin saja, istirahta sebentar juga sembuh," jawab Annisa tak ingin membuat ibundanya khawatir.


"Aku sudah menghubungi dokter untuk memeriksa Annisa, mungkin sebentar lagi datang," sahut Bian menambahkan. Ia kemudian mengambil gelas teh dari tangan Maria, kemudian memberikannya ke Annisa. "Pelan-pelan, masih panas."


Lima belas menit kemudian domter Cindy datang dan langsung memeriksa kondisi Annisa. Dokter tersebut tersenyum pada saat melakukan pemeriksaan, sementara Bian dan Sekar nampak terlihat tegang menunggu dokter memeriksa Annisa.


"Jadi bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Bian tak sabar, saat dokter selesai memeriksa Annisa.


Dokter Cindy merapihkan perkakasnya dan memasukannya ke tas, kemudian ia berbalik menghadap Bian. "Sepertinya akuntidak perlu menuliskan resep apa pun untuk bu Nissa," ucapnya membuat Bian bingung. "Karena sebaiknya pak Bian cepat-cepat membawa bu Nisa ke dokter kandungan agar mendapatkan vitamin yang di butuhkan untuk ibu dan calon buah hati bapak," ucap sang dokter.


Bian terdiam untuk beberapa saat, mencerna apa yang dimkatakan dokter Cindy, ia hampir tak percaya jika istrinya tengah mengandung buah cinta mereka. "Istri saya hamil dok?" mata Bian berkaca-kaca tak dapat menahan rasa haru bahagianya.


Kebahagiaan tak hanya di rasakan oleh Bian dan Annisa, Sekar pun turut bahagia atas berita kehamilan putrinya, tak hentinya ia mengucapkan puji syukur kepada sang kuasa.


Bian kembali lagi ke kamar setelah, ia mengantar dokter keluar dari kediamannya. "Terima kasih kau telah mengandung anak kita sayang," Bian meraih tubuh Annisa dan memeluknya erat.


Hari itu Bian begitu memanjakan istrinya, ia membatu Annisa mengganti pakaiannya dan menyuapinya sebelum mereka pergi ke rumah sakit. "Hari ini aku akan menemanimu seharian," ucap Bian.


"Terima kasih ya sayang." rasa mual yang tadi ia rasakan seketika hilang, selera makannya mulai bertambah ketika Bian menyuapinya dengan tangan kosongnya. Entahlah ia merasa jari jemari suaminya terasa sangat manis, sehingga menambah cita rasa makanan yang ia makan.

__ADS_1


Selesai sarapan, mereka pamit kepada Sekar untuk segera ke rumah sakit memeriksakan buah hati yang berada dalam kandungan Annisa. Sekar begitu bahagia dan tak sabar melihat hasil USG janin putri kesayangannya. "Hati-hati ya nak," ia melambaikan tangannya pada mobil menantunya.


Pemeriksaan pertama, memakan waktu yang cukup lama, sebab Annisa harus cek darah. Namun mereka sangat menikmatinya, terlebih ketika semua hasil pemeriksaan bagus, mereka sangat senang dan puas.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Bian sembari mengelus perut istrinya yang masih rata ketika mereka tengah dalam perjalanan pulang. "Katakanlah, apa pun yang kamu inginkan akan aku penuhi."


Annisa tersenyum memandangi hasil USGnya, kemudian ia menoleh ke arah Bian. "Apa mas tidak keberatan jika memhuatkan puding susu untuku, aku ingin sekali makan puding susu yang pernah mas Imam buatkan dulu."


Bian menghembuskan napasnya pelan, sebenarnya ia agak sedikit merasa bersalah, ia terkesan seolah tidak seperhatian ketika belum menikahi Annisa. Kesibukannya yang tinggi membuatnya jarang membuatkan makanan untuk Annisa. "Tentu saja sayang, setelah kita sampai di rumah, aku akan membuatkan yang spesial untukmu."


Annisa menyandarkan kepalanya di bahu Bian. "Terima kasih sayang," ia kembali mengakat hsil USGnya dan terus memandangi calon buah hati mereka, hingga Annisa tersadar jika sejak tadi handphonenya bergetar.


Annisa beranjak dari bahu Bian, kemudian ia merogoh tasnya dan mengambil handphonenya. "Assalamualaikum mas Fahri," sapanya pada kakanya yang berada di seberang telepon.


Annisa terdiam hampir tiga menit, kemudian ia tiba-tiba berteriak. "ALHAMDULILLAH, akhirnya lamaran mas Fahri di terima oleh Widya," ucap Annisa senang. Saking senangnya, mungkin jika ia tak ingat sedang berada di mobil Annisa sudah melompat kegirangan.


"Pokoknya mas Fahri hatprus ke rumah, ceritakan semuanya padaku karena aku juga punya kabar baik untuk mas Fahri."


"Kamu hamil kan?" Fahri langsung bisa menebaknya.


"Sebelum meneleponmu, aku menelepon Ibu, tadi ibu myang mengatakan jika kau sedang berada di dokter kandungan."


"Tapi pokoknya, aku enggak mau tahu. Mas Fahri harus datang ke rumah, sore ini juga!!" pintanya memaksa.

__ADS_1


"Iya, iya insyaallah mas akan datang."


"Ya sudah, aku tunggu ya. Assalamualaikum." Annisa menutup sambungan teleponnya dengan perasaan bahagia, berbeda dengan Bian yang napak tegang ketika mendengar Widya menerima lamaran Fahri.


__ADS_2