
Ada rasa sesal yang Bian rasakan ketika ia tak bisa mengantar Annisa mendaftar kuliah, sebab pagi itu Bian harus menghadiri meeting di Makasar, namun ia berjanji kepada Annisa akan pulang sebelum maghrib dan menemaninya meeting bersama WO yang ia percayakan untuk mengurus acara resepsi pernikahannya.
"Kabari aku terus ya, sayang," Bian menghujani Annisa dengan banyak ciuman di pipi dan keningnya sesaat sebelum ia naik ke helikopternya, ia memeluk Annisa dengan sagat erat.
Badan Annisa yang mungil hampir tenggelam dalam pelukan suaminya. "Iya sayang," dengan suara yang teredam pelukan Bian. Sekali lagi Bian mengecup kepala istrinya, lalu melepaskannya. "Wid, aku titip ibu negara ya," ujarnya pada Widya yang berdiri beberapa langkah di belakang Annisa.
Widya tersenyum sembari menganggukan kepalanya, sepintas terlintas angan dalam benaknya, pria yang ia kagumi akan memperlakukannya seperti Bian memperlakukan Annisa.
"Hati-hati ya mas, Assalamualaikum," Annisa mencium tangan Bian kemudian ia mundur, bersebelahan dengan Widya. Annisa memandangi Bian yang mulai menerbangkan helikopternya, sembari melambaikan tangannya. Sejenak Bian melihat ke bawah, dan tersenyum ke arah istrinya sebelum helikopter yang di terbangkannya meninggalkan gedung kantornya.
"Mari bu Annisa," ajak Widya, ia berbalik kembali masuk ke gedung kantornya. Annisa berjalan di sebelahnya. "Panggil aku Nissa saja," pinta Annisa.
'Bisa di cekek gue sama pak Bian,' batin Widya, ia tersenyum sembari menganggukan kepala. Keduanya berjalan keluar dari kantor, sesuai dengan perintah atasannya, Widya akan menemani Annisa mendaftar di kampus barunya.
"Maaf ya, aku jadi merepotkan mba Widya," ucap Annisa ketika Widya mulai mengendarai kendaraannya, selain belum tau jalan, suaminya belum menemukan supir wanita yang pas untuk istrinya sehingga Bian meminta Widya untuk menemani istrinya.
"Enggak apa-apa, bu. Eh, Niss.." Widya belum terbiasa memanggil Annisa hanya dengan nama saja. "Aku juga sedang suntuk di kantor."
Sepanjang perjalanan keduanya mengobrol dengan hangat, Annisa dan Widya menjadi semakin akrab, terlebih keduanya memiliki hobby kulineran. "Tapi menurutku, soto yang paling enak adalah buatan pak Bian."
Aanisa langsung tercengang mendengar ucapan Widya. "Mba Widya pernah makan, masakan suamiku?"
Widya langsung meluruskan, dengan menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa ada yang ia tutupi, termasuk soal Caroline yang menganggapnya sebagai simpanan Bian. Annisa menggelengkan kepalanya, ia tak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa kepada Widya sebab wanita itu sudah banyak membantu dirinya dan suaminya.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong soal soto, aku itu sebenarnya di Jogja penjual soto. Dan dari soto pula awal mul kedekatanku dengan mas Imam." Kini giliran Annisa yang menceritakan soal perkenalan dan kedekatan dirinya dengan suaminya saat pertama kali jumpa. "Untuk itulah aku ingin sekali membuat warung soto di Jakarta, aku ingin mengabadikan moment perkenalanku dengan mas Imam." Alasan kedua yang tak bisa Annisa sebutkan adalah ia ingin mandiri, meski suaminya telah mencukupi semua kebutuhannya.
"Menurutku, warung sotomu harus naik level," Widya berkomentar.
"Maksudmu?"
"Menu yang ada bukan hanya soto, tapi ada sego pecel, dan makanan khas Jawa lainnya. Kau bisa buka di mall atau Bandara, tempat-tempat yang ramai orang kunjungi. Kau bisa membawa nuansa Jogja dan Jawa tengah, di tengah ibu kota."
Annisa sangat tertarik dengan gagasan yang di sampaikan, namun obrolan mereka harus terhenti, lantaran mereka sudah tiba di depan kampus. "Aku tunggu di sini saja," ucap Widya sembari menarik rem tangan.
"Loh kenapa tidak ikut masuk?"
"Tuh," Widya menunjuk ke arah papan yang bertuliskan 'KAWASAN WAJIB BERHIJAB, BAGI MUSLIMAH.'
"Kau pilih saja, mana yang kau suka," Annisa menyodorkan empat buah hijab, dengan warna yang berbeda (Hitam,putih, merah muda, dan biru). Widya memilih warna biru, warna yang senada dengan kemeja yang di kenakannya. "Ini saja," tunjuknya.
Annisa memberikan hijab birunya kepada Widya, kemudian menaruh kembali tiga hijab yang tidak Widya pilih. Annisa membantu Widya mengenakan hijabnya. "Mau di pakaiin bros?"
Widya tak hentinya memandangi dirinya di depan cermin. "Boleh, Nis," ia menarik ijung hijabnya hingga ke atas, dan memegangi dengan satu tangannya sembari menunggu bros yang sedang Annisa ambil di tasnya.
"Jangan terlalu tinggi menarik hijabnya, dadanya terlihat. Selain karen perintah Allah, menutup dada ini juga untuk melindungi kita," ucap Annisa sembari membenahi hijab yang dikanakan Widya, ia hanya menarik sedikit tepi bagian atas kemudian memakaikan bros untuk mempermanis tampilan Widya. "Bagaimana?" tanya Annisa mempersilahkan Widya untuk kembali bercermin.
"Cantik," gumam Widya, sekarang ia tahu mengapa bosnya tergila-gila pada pada wanita yang di sampingnya. Selain karena cantik dan salihah. Annisa mampu memberi tahu tanpa menggurui, itulah yang membuatnya nyaman.
__ADS_1
"Sudah yuk turun," ajak Annisa.
Selesai melakukan registrasi pendaftaran di kampus barunya, ia mengajak Widya menuju sebuah showroom mobil. "Pilih saja yang mba Widya mau," ucap Annisa kepada Widya. "Anggaplah ini sebagi ganti mobilmu yang kemarin, sekaligus ucapan terima kasih kami padamu."
"Aku boleh pilih mercy?" tanya Widya tanpa rasa malu, menunjuk sebuah mobil Mercedes Benz CLS-Class seharga 1.97 miliar.
Annisa tercengang untuk beberapa saat, hingga akhirnya Widya tertawa. "Aku hanya bercanda, Nis. Mana sanggup aku bayar service dan pajaknya," ucap Widya, kemudian ia menunjuk ke arah mobil hinda jazz. "Mobil yang kemarin saja," ucap Widya. Annisa menyelesaikan pembayaran, kemudian Widya mengantar Annisa ke kediamannya.
"Terima kasih banyak ya, Nis," ucap Widya ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"Kami yang berterima kasih pada mba Widya. Apa mba tahu bagaimana leganya perasaan kami ketika mengetahui bahwa wanita itu tidak pernah mengandung anak mas Imam?"
Sekilas Widya memandang Annisa dengan penuh kekaguman. "Kamu itu kuat banget, Niss. Enggak mudah loh menerima pria dengan masa lalu yang seperti itu."
"Masa lalunya adalah miliknya, kami tidak bisa merubah hal itu. Tapi hari ini dan masa depan adalah milik kami, yang sedang kami nikmati perjalanannya sampai akhir hayat kami."
Mobil yang di kendarai Widya tiba di kediaman Annisa bertepatan dengan kedatangan Fahri. "Loh tumben mas kemari?" tanya Annisa, saat ia dan Widya turun dari mobil.
"Bian bilang dia jemput ibu dari Jogja, makanya aku datang," jawab Fahri, namun mata dan senyumannya tertuju pada Widya, ia nampak terpesona melihat Widya mengenakan hijab.
Widya tak membalas senyuman Fahri, ia langsung berpamitan pada Annisa sebab Eric datang menjemputnya. "Hati-hati ya mba," Annisa melambaikan tangannnya ke arah Widya, sementara Fahri dengan wajah kesalnya masuk ke kediaman Annisa. "Mas masuk ya, di luar gerah."
Annisa tertawa kecil melihat kakanya yang di landa rasa cemburu.
__ADS_1