
Sesampainya di rumah sakit Bian langsung mendonorkan darahnya untuk Rangga. Setelah selesai ia menghampiri teman-temannya yang masih menunggu Rangga di ruang tunggu. "Bagaimana kronologinya?" tanya Bian.
Indra menggeleng. "Kita enggak ada yang tahu karena kita semua sedang kerja," jawabnya. "Rangga sendiri mampir ke markas karena semalem jaketnya tertinggal, namun naasnya kawanan itu datang mengacak-acak markas kita dan markas genk vespa. Rangga yang mencoba melawan mereka terkena tembakan di perutnya," terangnya.
"Kali ini, kita tidak boleh diam saja," ucap Bian. "Kita harus melaporkan kasus ini pada pihak kepolisian," ia merogoh sakunya untuk mengambil handphone, Bian langsung menghubungi pengacaranya.
"Kalian urus Rangga, beri tahu gue perkembangan kondisinya. Gue mau ke kantor polisi buat laporan, sekalian mengambil rekaman CCTV di markas," Bian pamit meninggalkan rumah sakit, namun sebelum pergi ia sempat menghampiro ruang administrasi untuk membayar biaya rumah sakit Rangga.
Cukup lama Bian mengurus kasus tersebut, mereka memiliki kendala untuk mencari pelaku sebab mereka tidak menggunakan plat motor. Hingga pukul 22.00 malam, Bian baru kembali ke kediamannya.
Rumahnya nampak sepi dan gelap, pertanda Annisa dan ibu mertuanya sudah istirahat. "Pak Bian..." Maria datang secara tiba-tiba dengan menggunakan selimut putih hingga menutupi kepalanya.
Bian tersentak ketika menoleh kebelakang. "Maria, kau ini mengagetkan saja," protes Bian.
"Maaf pak," Maria menurunkan selimutnya dari kepala. "Kata Bu Nissa, bapak makan dulu sebelum istirahat. Bu Nissa sudah menyiapkan sup untuk bapak."
"Di mana istriku?"
"Di kamar eyang."
Bian menghembuskan napasnya, mengetahui istrinya marah sampai-samapai tak mau tidur dengannya. "Ya aku akan makan," ujar Bian. Sebetulnya ia tak lapar, namun ia tak ingin membuat Annisa kecewa yang telah masak untuknya.
Selesai makan, Bian berjalan menuju kamar ibu mertuanya, ingin rasanya ia masuk dan memeluk Annisa, namun ia tak ingin mengganggu istrinya beristirahat. Yang pada kenyataannya di dalam Annisa pun tak bisa tidur.
Bian duduk bersandar di depan pintu kamar, hingga lama-kelamaan tanpa sadar ia tertidur.
__ADS_1
Pukul 04.00 pagi, ketika Annisa hendak keluar dari kamar ibundanya, ia terkejut dengan keberadaan Bian di belakang pintu. Tubuh Bian yang menyandar pada puntu hampir saja terjatuh. "Ya Allah mas, kenapa tidur sini?" Annisa langsung membungkuk dan menahan tubuh Bian agar tak jatuh ke lantai.
Bian yang baru saja terbangun dari tidurnya sama-samar melihat Annisa di hadapannya, ia langsung meraih tubuh Annisa dan memeluknya erat. "Sayang aku mohon kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya sama kamu."
Annisa hendak mengangkat tangannya untuk mengelus kelapa Bian, namun ia urungkan niatnya. Ia menarik tubuh Bian menjauh darinya. "Kita bicarakan masalah ini setelah mas shalat subuh," ucap Annisa, ia kembali berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Annisa menyiapkan air hangat dan pakaian untuk Bian. "Kau tak ingin menemaniku mandi?" tanya Bian dengan wajah memelas.
"Aku ingin membuat sarapan," jawab Annisa, kemudian ia berlalu meninggalkan Bian di kamarnya, tak mudah baginya untuk mendiami pria yang amat ia cintai, namun rasa sakit atas kejadian kemarin pagi masih begitu melekat di hatinya, di tambah Annisa merasa Bian tak serius meminta maaf kepadanya, karena setelah kejadian itu Bian malah pergi dari rumah dan pulang hingga larut malam.
Pagi itu Annisa membuatkan sarapan yang simple untuk Bian, ia membuat sandwich tuna dan segelas susu kedelai untuk suaminya. "Maria," panggil Annisa.
"Iya Bu," Maria mendekat ke arah Annisa.
"Ibu mau pergi?" tanyanya setengah terkejut. Di satu sisi ia memaklumi jika Annisa marah atas kejadian kemarin, tapi di satu sisi ia sedih jika Annisa pergi dari rumah ini, meski baru beberapa hari mengenal Annisa. Maria bisa merasakan jika Annisa merupakan majikan yang sangat baik. "Ibu pulang lagi kan?" tanyanya penuh harap.
Annisa hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Maria. "Jagain bapak ya, vitaminnya jangan sampai bapak tidak meminumnya." Annisa mengelus lengan Maria, kemudian ia membawa sarapan yang ia buat ke ruang makan dan menyajikannya di atas meja.
Annisa ke kamar ibundanya, membantunya membawakan koper keluar. "Kamu mau kemana?" tanya Bian ketika melihat Annisa menarik koper keluar dari kamar ibundanya, ia juga melihat Annisa dan ibundanya nampak rapih.
"Aku ingin izin pulang ke Jogja untuk mengurus surat perpindahan kuliahku," jawab Annisa. "Maaf jika aku baru izin sekarang, karena seharian kemarin mas tidak ada dirumah."
"Kau mau menghindariku?" tanya Bian.
"Entahlah mas, yang jelas aku butuh waktu sendiri."
__ADS_1
"Aku izinkan kamu pulang ke Jogja, tapi kamu harus mendengarkan semua penjelasanaku." Bian mengajak Annisa dan ibundanya duduk di luar keluarga. Ibu mertuanya sudah mengetahui permasalahan yang terjadi di rumah tangganya, sehingga menurut Bian ibu mertuanya juga harus mendengar penjelasannya.
"Apa yang mau mas jelaskan? Bukankah semua sudah jelas, jika mas Imam pernah memiliki hubungan dengan wanita itu, hingga wanita itu hamil dan mas menyuruhnya menggugurkan kandungannya?" tanya Annisa saat mereka sudah duduk di sofa.
"Iya aku berpacaran dengannya saat kita masih sama-sama masih SMP," Bian membenarkannya, ia juga membenarkannya jika Caroline sempat hamil dan Bian memintanya untuk menggugurkan kandungannya. "Saat itu aku masih kelas tiga SMA, Nis. Aku tidak mungkin menikahinya, aku belum memiliki penghasilan dan aku bisa di bunuh jika beliau tahu aku menghamili anak gadis orang."
"Lalu mas, berjanji akan menikahinya setelah mas memiliki penghasilan?"
Bian mengangguk. "Tadinya, tapi pada kenyataannya dia berselingkuh dan kami putus sebelum aku mengenalmu, Nis."
"Sejak kapan mas tidur denganya?" Meski kemarin wanita itu sudah mengatakannya, Annisa tetap ingin mendengar langsung dari mulut suaminya.
Bian terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia berkata. "Liburan setelah kelulusan SMP," jawabnya dengan suara berat. "Tapi demi Allah, aku tidak pernah mencintainya, Nis. Aku menerimanya karena saat itu hanya dia satu-satunya orang di sekolah yang mau dekat denganku, semua teman-temanku menjauhiku lantaran mereka tahu aku adalah seorang pemakai, dia yang membantuku agar aku tidak di keluarkan dari sekolah dan bisa tetap mengikuti ujian kelulusan."
"Lalu setelah semua yang dia lakukan, mas mencampakannya hingga sekarang dia menuntut mas kembali padanya?"
"Sudahku katakan aku tidak pernah mencampakannya. Dia selingkuh, dia hanya memanfaatkanku."
Sekarang Annisa mengerti mengapa kakaknya begitu menentang hubungannya dengan Bian, ia tak bisa membayangkan bagaimana gaya berpacaran suaminya dengan wanita itu yang sudah tidur bersama selama bertahun-tahun. "Sekalimlagi aku minta maaf mas, aku butuh waktu untuk sendiri." Annisa meraih tangan Bian dan menciumnya. "Aku pamit dulu mas, Assalamualaikum."
"Tunggu, Nis.. Aku akan mengantarmu."
Dengan menggunakan helikopter pribadinya, Bian mengantar Annisa dan Ibu mertuanya pulang ke Jogja. Sebelum kembali lagi ke Jakarta, Bian menitipkan Annisa pada ibu mertuanya, ia pun meminta maaf pada ibu mertuanya karena telah menyakiti hati Annisa.
"Kamu juga jaga diri ya, nak." Sekar mengelus bahu Bian dan mengantarnya hingga teras, sementara Annisa hanya melihat kepergian Bian dari balik kaca jendela.
__ADS_1