Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 56


__ADS_3

Bukan hanya Annisa saja yang sibuk, di hari itu Bian pun sangat sibuk. Setelah mengantar ibunda membuat laporan, ia dan kuasa hukumnya menemani Claire melakukan visum.


Bian terus menyakinkan mamanya, bahwa langkah yang ia ambil sudah sangat tepat dan ini yang terbaik untuk diri mamanya dan juga kedua adiknya. "Sejujurnya mama malu, bertemu denganmu dalam kondisi sulit seperti ini," ucap Claire ketika ia menunggu panggilan untuk menjalani visum.


"Jangan bicara seperti ini lagi ya mah, Bian selalu menantikan waktu bisa bertemu dengan mama, aku rindu sekali dengan mama." Bian menggenggam erat tangan ibundanya. Tak lama kemudian sang perawat memanggil Claire untuk masuk ke ruang pemeriksaan."Semangat mah," bisik Bian, sebelum Claire beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke ruang pemeriksaan.


Sembari menunggu mamanya, Bian menghubungi istrinya via video call untuk menanyakan kegiatan yang sedang di lakukannya. Pada deringan kedua Annisa mengangkat panggilannya. "Assalamualaikum sayang," ucap Bian tersenyum pada istrinya, ia melihat Annisa tengah berada di mobil.


"Walaikumsalam mas, mas Imam sudah di mana?" Annisa tak bisa menebak keberadaan suaminya sebab di belakang suaminya hanya ada tembok putih.


"Sudah di rumah sakit, nemenin mama visum," jawabnya. "Kamu di jalan mau ke kampus ya?"


Annisa menganggukan kepalanya. "Kebetulan sekali mas telepon, aku mau minta tolong sama Imam untuk membantuku mengurus perizinan toko kue karena mba Widya masih belum bisa beraktivitas," pinta Annisa.


"Boleh, tapi tidak gratis ya," jawab Bian.


"Iya mas, nanti aku transfer biaya administrasi dan transportnya," Annisa sudah menyiapkan anggaran untuk hal tersebut.


Bian menggeleng. "Aku enggak mau uang, aku mau yang lain," godanya.


Annisa yang bisa langsung menyadari apa yang di minta oleh Bian langsung mengecilkan volume handphonenya. "Apa mas? Kan tiap malam kita tidak pernah absen untuk melakukannya." bagi Annisa melayani suaminya di ranjang bukan sekedar kewajiban tapi juga kebutuhan batinnya, suaminya yang terlihat begitu menggoda membuatnya selalu ingin bercinta dengannya.


"Pakai baju dinas yang kemarin aku belikan, ya. Aku tunggu bayarannya mulai nanti malam, Assamualaikum istriku." Bian mematikan sambungan video callnya.

__ADS_1


"Walaikumsalam," Annisa mengerutkan keningnya, ia baru ingat jika kemarin security kediamannya memberikan paket belanjaan suaminya yang ternyata berisi baju dinasnya, Annisa sendiri belum sempat membukanya sebab kemarin ia sangat sibuk. "Mulai nanti malam?" guamam Annisa. Berarti akan ada malam-malam selanjutanya.


...****************...


Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya Claire keluar dari ruang pemeriksaan, Bian dan pengacaranya pun menghampiri Claire. "Bagaimana mah?"


"Sudah, nanti dari pihak kepolisian yang akan mengambil hasilnya."


Untuk pengajuan gugatan perceraian Claire, Bian menyerahkan sepenuhnya pada pengacaranya, mereka tak ikut mendatangi pengadilan agama. Bian ingin mengajak mamanya pergi ke suatu tempat.


"Bian, mau kemana kita?" tanya Claire dengan nada curiga, ia nampak tak asing pada jalanan yang di laluinya.


"Nanti juga mama tahu," ucapnya dengan santai, ia terus melajukan kendaraannya memasuki kawasan lerumahan elit di Jakarta pusat.


Wajah Claire terlihat semakin cemas. "Bian, jangan macam-macam kamu! Mama cerai dengan Rudi bukan berarti mama ingin balikan dengan ayahmu!" suara Claire meninggi saat putra sulungnya menepikan kendaraannya di depan kediaman mantan suaminya.


"BIAN, MAMA TIDAK INGIN BERTEMU DENGAN AYAHMU! BUKA PINTUNYA MAMA INGIN TURUN!" Claire semakin panik, ia mencoba membuka pintu mobil, namun Bian masih menguncinya. "BIAN MAMA MOHON, BIARKAN MAMA PERGI. MAMA TIDAK INGIN KEMBALI KE RUMAH INI LAGI," dengan deraian air mata, Claire mengguncang-guncangkan tubuh putranya saat Bian memarkirkan kendaraannya di depan teras kediaman Wijaya.


Bian menarik rem tangan, kemudian ia berbalik menghadap ibundanya. Dengan lembut ia menghapus air mata yang membasahi wajah Claire. "Tenanglah mah, ayah tidak ada di dalam, dan aku juga tidak akan meminta mama untuk balikan dengan ayah," ucapnya meyakini Claire. "Kita masuk yuk!" Bian membukakan sabuk pengaman mamanya kemudian ia turun dari mobil.


Bian memutar, membukakan pintu mobil untuk mamanya. "Ayo mah,"ia mengurkan tangannya.


Dengan ragu, Claire menerima ukuran tangan Bian. Sembari masuk ke rumah yang sudah lama ia tinggalkan, ia menggenggam erat tangan Bian. Menapaki rumah mantan suaminya, mata Claire bergerilya memandangi sekeliling. Rumah tersebut nampak tidak ada yang berubah dari terakhir kalinya ia tinggali, bahkan foto-foto keluarga dan foto pernikahannya dengan Wijaya masih terpajang di ruang tamu.

__ADS_1


Vas bunga yang biasa ia isi dengan bunga-bunga segar favoritnya pun masih ada di setiap sudut ruangan, lengkap dengan bunga mawar segar yang selalu ia ganti secara rutin.


Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya, saat Bian membawanya naik ke lantai dua. "Bian mau apa kita ke sini? Kita pulang saja yuk," suara Claire terdengar gemetar ketakutan.


"Tidak ada yang perlu mama khawatirkan selama aku di samping mama," Bian merangkul Claire mengajaknya memasuki ruang kerja ayahnya. Bian membawa Claire mendekat ke arah meja kerja, dan memintanya berjongkok di laci bawah yang terdapat pada meja tersebut.


"Bian mau apa? Ini punya ayahmu, dia akan marah besar jika tahu kita masuk ke ruang kerjanya," Claire marah pada Bian yang begitu beraninya membuka laci yang berisi sebuah brankas milik mantan suaminya.


"Passwordnya tanggal pertama kalinya kalian bertemu," ucap Bian, ia meminta mamanya untuk membukanya.


Claire membuang wajahnya. "Mama tidak ingat, kapan pertama kalinya mama bertemu dengan ayahmu."


"Ayolah mah, aku yakin mama masih mengingatnya."


"Sudahlah Bian, untuk apa membuka brankas ini. Lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum ayahmu datang dan membunuh kita karena telah lancang masuk ke ruang kerjanya." Claire hendak berdiri namun Bian menahannya.


"Aku mohon percaya-lah padaku," ia menatap Claire dalam.


Claire kembali duduk di lantai, tangannya yang gemetar begitu hebat perlahan mulai gemetar dan terulur ke arah brankas. Sebetulnya ia tak pernah mengingat tanggal pertemuannya dengan Wijaya, namun karena dulu Wijaya sering memberikannya hadiah istimewa pada tanggal tersebut tentu Claire jadi ingat.


Claire menekan angka tanggal pertemuannya dengan Wijaya, kemudian brankas itu terbuka dengan sendirinya. Setelah terbuka Bian meraih semua berkas yang ada di dalamnya dan menyerahkannya kepada Claire. "Ini semua adalah milik mama," ucapnya.


"Apa maksudmu Bian?" tanya Claire tidak mengerti. "Jangan sembarangan kamu, ayo cepat taruh kembali berkas itu jika kamu tidak mau istrimu menjanda karena suaminya di bunuh oleh bapak mertuanya sendiri."

__ADS_1


Bian hampir terkekeh, tapi kemudian ia memasang wajah seriusnya. "Ayah sudah meninggal lima bulan yang lalu," ucap Bian, ia sengajak tak langsung mengatakannya kepada Claire sejak awal sebab ia ingin tahu apa mamanya masih mengingat tanggal pertemuan mereka.


"Tak sepeserpun ayah mewariskan hartanya kepadku, karena semua harta yang ayah miliki adalah milik mama."


__ADS_2