Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 16


__ADS_3

Beberapa hari setelah membereskan pekerjaannya, Bian bersiap untuk kembali ke Jogja. "Wid, ada lagi yang perlu di tanda tangani?" tanya Bian, sembari merapihkan berkas yang berserakan di meja kerjanya.


"Sudah semua, pak Bian," jawab Widya, sudah dua kali ia memeriksa berkas yang sudah di tandatangani oleh Bian dan tak ada satu pun yang terlewat. "Oh iya, pak. Helikopter bapak akan ready tiga puluh menit lagi," ucap Widya.


Untuk mempersingkat waktu tempuh perjalanan, Bian memilih untuk menggunakan helikopter pribadinya ketimbang menggunakan motor atau pesawat komersil, ia sudah tidak sabar untuk melamar sang pujaan hati yang lebih dua minggu menghantui pikirannya.


"Terima kasih," Bian mengangguk kemudian ia membuka lacinya hendak mengambil kotak cincin yang sudah ia siapkan untuk melamar Annisa, namun di saat yang bersamaan Caroline justru datang ke kantornya. "Selamat siang sayang..." ia berlari dan berhambur ke pelukan Bian, untung saja Bian sudah terlebih dahulu menutup lacinya.


"Yah, ini ulet keket kenapa dateng sih?" gumam Widya, ia beranjak dari tempat duduk , kemudian permisi kepada Bian untuk keluar dari ruangannya.


"Sana, sana pergi. Kau menggangguku pacaran saja!!" Dengan wajah sombongnya, Caroline mengibaskan tangannya, sebagai tanda mengusir Widya dari ruangan Bian. Kemudian ia beralih menghadap Bian. "Sayang, aku rindu sekali padamu. Mengapa kau tidak pernah membalas pesan dan mengangkat teleponku." Caroline mengalungkan tangannya di leher Bian.


"Aku sudah membayar semua tagihan apartement dan mobilmu, lalu ada apa lagi?" Bian melepaskan tangan Caroline dari lehernya, kemudian ia mendorong Caroline agar menyingkir dari pangkannya.


"Kok kamu begitu sih, aku bukan hanya butuh uangmu..." ia langsung menutup mulutnya. "Maksudku, aku tidak butuh uangmu. Tapi yang aku butuhkan adalah dirimu, sayang."


Bian sama sekali tak terkejut mendengar ucapan yang di lontarkan Caroline secara tak sengaja itu, sudah sejak lama ia mengetahui jika Caroline memanfaatkan dirinya, namun Bian tak bisa berbuat banyak, penyesalan karena pernah memaksa wanita menggugurkan kandungannya terus menghantui dirinya. "Car, sudahku katakan berulang kali. Hubungan kita sudah selesai." Bian menatap Caroline dengan tatapan lelah.


"Tapi, Bi. Aku masih cinta banget sama kamu, kalau enggak sama kamu aku sama siapa? Mana ada pria yang mau menerima wanita yang pernah melakukan aborsi?" Mata Caroline mulai berkaca-kaca, dan hal ini lah yang selalu membuat Bian tak bisa berkutik, namun di sisi lain ia sudah tidak bisa bersama dengan Caroline, cintanya untuk Annisa sudah semakin dalam.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Car. Aku tidak bisa lagi bersamamu," ucap Bian, ia beranjak dari tempat duduknya. "Maaf aku harus pergi, ada hal penting yang harus aku selesaikan." Bian keluar dari ruang kerjanya, kemudian ia bergegas menuju rooftop, namun sebelum masuk lift, ia sempat menghampiri Widya. "Tolong suruh Caroline pergi dari kantor ini, dan bawakan cincinku yang ada di laci. Aku tunggu di rooftop."


Bukan maksud Bian membohongi Caroline, tapi ia tak ingin wanita itu tahu mengenai hubungannya dengan Annisa. Bian tak ingin Caroline sampai mengganggu Annisa, karena ia tahu wanita itu pasti nekat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Setelah memastikan Caroline pergi, Widya mengambil cincin dari laci meja kerja Bian, kemudian ia berlari menyusul Bian di rooftop. Bian nampak sangat gagah duduk di balik kemudi. Sudah sejak lima tahun yang lalu, ia belajar menemudikan helikopter, dan kini ia sudah mendapatkan surat izin menerbangkannya. 'Sayang sekali, jika pria sekeren itu harus bersanding dengan ulat keket yang tidak tahu malu itu,' batin Widya, ia berlari menghampiri Bian dan memberikan kotak cincinya. "Good luck, pak Bian," ucap Widya.


"Thanks ya, Wid." Bian mulai menerbangkan helikopternya, ketika Widya sudah mundur beberapa langkah menjauh darinya.


...****************...


Bian menangkap sorot mata keterkejutan Fahri dan ibundanya, ketika ia mengutarakan niatnya untuk melamar Annisa. Sementara Annisa sendiri sedang tidak ada di rumah, kemungkinan ia sedang berada di Masjid, mengajarkan anak-anak desanya mengaji.


Kala itu, seperti biasanya Caroline selalu tampil sexy dan menggoda, bahkan ia tak malu menunjukan kemesraannya dengan Bian. Sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi anghota The Moge, melihat Caroline dan Bian berciuman atau berpelukan.


"Gue sama dia udah putus, hampir dua bulan yang lalu," jawab Bian.


"Adek gue bukan Caroline, dan dia tidak akan pernah menjadi Caroline. Jadi loe salah orang jika ingin menjadikan Annisa sebagai pelarian atas kekosongan loe setelah putus dari pacar loe," ucap Fahri dengan tegas.


"Gue enggak pernah menganggap Annisa seperti Caroline, Annisa begitu istimewa di bandingkan dengan wanita mana pun di dunia ini, untuk itulah Gue mau melamarnya untuk gue jadiin istri bukan pacar."

__ADS_1


Fahri tertawa mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Bian, bagaimana tidak. Bian yang ia kenal urakan tiba-tiba saja melamar adik perempuannya yang alim. "Kemaren loe udah lihat kan bagaimana keseharian adek gue? Terus menurut loe, dengan sikap loe yang bajingan itu, gue bakal ngerstuin loe sama adek gue? Udahlah mending loe lamar Caroline aja, loe cocoknya sama wanita seperti dia, bukan dengan Annisa!! Annisa butuh sosok imam yang mampu membimbingnya, bukan materi yang berlimpah."


"Gue tahu, enggak cukup baik untuk Nissa. Gue jauh dari kata sholeh, tapi gue bakal berusaha menjadi imam yang baik untuknya, gue akan belajar," ucapnya dengan kesungguhan hatinya.


Fahri tersenyum sinis kepada Bian. "Gue tahu, loe cuma penasaran sama adek gue. Gue enggak akan ketipu sama loe," ucap Fahri, ia menoleh ke arah ibundanya yang memegang bahunya. Ia mengangkat tangannya untuk memberi kode kepada ibundanya agar tak ikut campur dalam masalah ini.


"Enggak pernah, sediki pun terlintas dalam benak gue, gue mau menipu loe dan Nissa. Gue bener-bener serius mau melamar, Nissa." Bian mencoba membela dirinya, sebetulnya ia agak tersinggung mendengar tuduhan yang di alamatkan Fahri padanya namun Bian tak begitu mengambil pusing.


"Sudahlah Bi, loe enggak usah buang-buang waktu ke sini untuk melamar adek gue, karena sampai kapan pun gue enggak akan pernah ngerestuin loe," Fahri beranjak dari sofanya, ia mengulurkan tangannya seraya memberi kode kepada Bian agar keluar dari kediamannya. "Masih banyak urusan yang harus gue selesaikan sebelum hari kamis gue mulai kerja di perusahaan baru gue."


Karena Fahri sudah mengusirnya, mau tak mau Bian pun keluar dari kediaman Fahri, namun ia tak pasrah begitu saja, Bian akan memikirkan rencana selanjutnya untuk bisa meyakinkan Fahri.


Disaat yang bersamaan ketika Bian hendak keluar dari kediaman Fahri, Annisa yang baru pulang dari mengajar anak-anak mengaji. "Mas Imam," sapa Annisa dengan mata yang berbinar-binar ia tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejut sekaligus bahagianya ketika melihat Bian.


Hal yang sama pun di rasakan oleh Bian. "Hai, Niss.."


"Bian kemari karena ada sedikit masalah club yang perlu kita obrolkan secara langsung, tapi masalah ya sudah clear semuanya. Kamu masuk-lah, dek!!" perintah Fahri pada Annisa.


Dengan patuh, Annisa menuruti perintah kakaknya, tapi sekali lagi ia menoleh ke arah Bian.

__ADS_1


__ADS_2