Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 24


__ADS_3

Bian duduk di hadapan Sekar, dengan jantung yang berdegup kencang. Seumur hidupnya, belum pernah ia merasakan hal yang paling menegangkan seperti ini, bahkan ketika dirinya menghadapi sidang skripsinya di Singapore, ia sama sekali tak merasa tegang.


"Ayo di mulai, nak," ucap Sekar, meminta Bian untuk segera memulai.


Bian menoleh ke arah Annisa yang duduk di samping kakaknya, Annisa mengangguk pelan seraya memberikan semangat untuk Bian. Bian tersenyum sumringah seolah ia mendapatkan kekuatan baru dari Annisa, Bian menghembuskan napas pelan kemudian ia mulai melafalkan Ta'awudz.


Annisa menunduk dan menajamkan telinganya, mendengarkan surat demi surat yang dimlafalkan oleh Bian, keringat dingin mulai bercucuran, ia merem*s tangannya untuk mengurangi rasa gugupnya seolah, ia bagaikan seorang ibu yang tengah melihat putranya menjalani ujian.


Setelah hampir satu jam, di landa kegugupan yang luar biasa. Annisa bisa bernapas lega ketika Bian mengucapkan. "Shadaqallahul adzim," Bian mengakhiri bacaan Al-Qur'annya.


Sekar berdeham sebelum ia berbicara. "Seperti yang kita dengar sama-sama, jika tadi masih ada sedikit yang terbalik, tidak tepat pengucapannya, dan beberapa kamu ada yang sempat lupa."


Bian terdiam pasrah, ia mengakui jika memang hafalannya belumlah sempurna. Jika semalam Widya mengatakan semuanya bagus, itu karena Widya pun tak begitu mengerti tajwid, tidak seperti ibunda Annisa yang sangat paham dengan ilmu tersebut. Seandainya ia masih di berikan kesempatan beberapa hari lagi, ia masih ingin menyempurnakan lagi hafalannya.


"Tapi itu tidak masalah, kau masih punya banyak waktu untuk terus belajar lebih baik lagi," ucap Sekar sembari tersenyum bangga pada Bian. "Ibu sangat menghargai usahamu."


Bian tersenyum lebar mendengar ucapan Sekar. "Jadi lamaranku di terima?" tanyanya dengan mata yang berbinar-binar.


Sekar mengangkat bahunya. "Kau tanyakan langsung pada orangnya," ia melirik ke arah Annisa. Annisa tersenyum sembari menunduk, menyembunyikan rona di wajahnya.


Bian beranjak dari tempat duduknya dan berlutut di hadapan Annisa. "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Annisa Olivia, maukah kau menjadi pendamping hidupku, penyempurna imanku, dan menjadi teman ibadahku?" ucap Bian lirih dan penuh harap. Belum pernah sekali pun Bian mengutarakan perasaan terdalamnya pada seorang gadis, termasuk pada Caroline.


Meski sepuluh tahun menjalin kasih dengannya, Bian tak pernah mengatakan kata-kata cinta untuknya.

__ADS_1


Annisa mengangguk. "Iya mas, aku mau," jawab Annisa menerima lamaran Bian. "Tapi aku punya beberapa permintaan, apa mas tidak keberatan?"


"Katakanlah, Nis. Aku akan berusaha memenuhinya."


Annisa menoleh ke arah ibu dan kakaknya, kemudian ia menatap Bian. "Selama aku masih bisa melakukan kewajibanku sebagai istri, aku tidak mau di poligami. Bukan aku menentang, hanya saja aku merasa tidak sanggup," ucap Annisa.


Bian terkejut, tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk melakukan polugami, ia bahkan merasa tak memiliki ilmu yang cukup untuk melakukan hal tersebut. Bian menggeleng. "Sampai aku mati, kamu akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku," ucap Bian. "Setelah ibuku," sura lirih terdengar ketika ia menyebutkan ibunya, ia berharap ibunya mau hadir dalam acara bahagianya, nanti.


"Yang kedua, izinkan aku meneruskan kuliahku." pinta Annisa. "Aku berjanji akan tetap memprioritaskan mas Imam."


Bian tersenyum menganggukan kepalanya, bagi Bian pun pendidikan adalah hal yang penting apa lagi kelak Annisa akan menjadi madrasah untuk anak-anaknya. "Tentu saja sayang, aku akan mendukung apa pun kehiatanmu, asalkan kau tidak mengabaikanku."


Annisa tersipu malu, baru kali ini ia di panggil sayang oleh orang yang bukan berasal dari keluarga intinya. Hatinya bagai terbang kelangit mendengar kata sayang itu meluncur dari mulut calon suaminya. "Lalu yang terakhir," ucap Annisa, sepintas ia melirik ke ibundanya. "Mas Imam kan tahu, jika saat ini aku hanya tinggal berdua dengan ibu, sementara mas Fahri tinggal di Jakarta..."


"Sebetulnya, aku sudah menyiapkan kamar untuk ibu," Bian memotong ucapan Annisa, kemudian ia beralih ke arah Sekar. "Ibu mau kan tinggal bersama kami?" tanyanya.


Bian dan Annisa beranjak mendekat ke arah Sekar. "Tentu saja tidak, bu. Benarkan mas?"


Bian mengangguk setuju. "Iya bu, kami justru akan senang." ia merogoh saku celananya untuk mengambil kotak cincin yang sudah ia siapkan sejak pertama kalinya ia hendak melamar Annisa. Bian memberikan kotak itu kepada Sekar untuk selanjutnya di pasangkan ke jari manis Annisa.


"Selamat ya sayang," Sekar mencium kedua pipi Annisa dan memeluknya dengan hangat.


Fahri pun membrikan ucapan selamatnya kepada Bian. "Selamat ya, bro. Jangan pernah kau sakiti adikku."

__ADS_1


Obrolan selanjutnya mengenai acara pertunangan dan pernikahan. Bian dan Fahri baru kembali lagi ke Jakarta, malam hari setelah makan malam. Fahri sempat heran mengapa mobil yang membawa dirinya dan Bian bukan mengarah pada bandara, melaikan mobil itu berhenti di rumah sakit. "Loe mau nengok orang? Siapa yang salit?" tanya Fahri bingung.


Bian hanya tersenyum, keluar dari mobil dan bergegas masuk ke rumah sakit. Mau tak mau Fahri mengikitinya dengan penuh tanda tanya sembari mengomel. "Loe itu mau balik ke Jakarta enggak sih, Bi? Besok pagi kita kan ada meeting project," gerutunya. "Ah dari siang tadi, gue juga udah bilang biar gue aja yang beli tiket pesawatnya, loe yang beli jadi enggak bereskan mampir ke sana-sini dulu...." Ocehan Fahri terhenti ketika Bian membuka pintu rooftop dan melihat ada helikopter di sana.


"Ayo!" ajak Bian.


"Kita naik ini?" tanya Fahri meyakinkan apa yang di lihatnya.


Bian mengangat bahunya. "Ya apa lagi, helipad terdekat cuma ada di rumah sakit ini jadi aku parkir di sini," Bian berjalan menuju helikopternya yang sudah siap untuk terbang.


"Jadi minggu kemarin kau kemari juga menggunakan ini?"


Bian mengangguk, ia mulai masuk ke helikopternya yang membuat Fahri semakin di buat terkejut. "Loe yang bawa?" tanyanya semakin tak percaya. "Gue enggak mau ikut ah, gue masih mau hidup."


"Terus loe pikir gue mau mati?" teriak Bian karena suara bising yang di hasilkan oleh mesin helikopter membuatnya harus berteriak. "Gue enggak mau mati, gue belom nikahin Nisaa. Sudahlah, cepat naik gue udah punya surat izin terbang kok. Aman."


Dengan ragu-ragu, Fahri naik dan duduk di sebelah Bian. Meski Bian terlihat terampil dalam mengemudikan helikopternya, tetap saja Fahri tak bisa menghilangkan rasa ketakutannya. Sepanjang jalan ia terus berkomat-kamit membacakan doa-doa, meski udara cukup dingin keringat dingin mulai bercucuran.


"Loe lihat deh ke bawah, keren banget kan?" Sedari tadi ia memperhatikan Fahri menutup matanya dengan rapat, padahal sayang sekali melewatkan keindahan kota Jogja dari atas awan.


Perlahan Fahri membuka matanya, ia takjub dengan keindahan kota Jogja.


"Sebenarnya gue pengen banget orang pertama yang duduk di samping gue adalah Nissa. Tapi enggak apa-apa calon kakak ipar dulu."

__ADS_1


"Dih apaan sih loe, gue mau walaupun nanti loe udah nikah sama Annisa, kita masih tetap seperti ini," ucap Fahri.


Bian mengangguk setuju. Ya akan terasa aneh juga jika memanggilnya dengan sebutan mas, sama seperti Fahri ketika memanggil Bian dengan sebutan 'Pak' saat mereka di kantor. Sehingga mereka sepakat untuk tidak merubah apa pun selain di situasi yang memang formal di depan banyak orang.


__ADS_2