Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 31


__ADS_3

Bisa beboncengan dengan seorang kekasih merupakan salah satu keinginan yang sudah lama Bian inginkan, terlebih wanita yang kini duduk di belakangnya merupakan kekasih halalnya. Bian tersenyum melihat tangan Annisa yang melingkar di pinggangnya, ia teringat beberapa bulan lalu saat dirinya mengantar Annisa ke pasar, gadis itu menaruh tas belanjaannya di tengah, dan Annisa duduk hampir di ujung jok motor, berpegangan erat pada besi di belakangnya.


Ciiitttt...


Tiba-tiba saja di tengah jalan, Bian mengerem secara mendadak, hingga membuat Annisa cemas motor peninggalan ayahnya mogok lagi. "Ada apa mas?" tanya.


Bian tersenyum nakal. "Enggak apa-apa kok sayang. Peluknya yang kenceng biar kamu enggak jatu. Hehe..." ia menarik tangan Annisa hingga tubuh Annisa menempel di punggungnya, kemudian ia kembali melajukan kendaraannya.


"Modus," gumam Annisa pelan, meski masih malu-malu, ia sama sekali tak menolak permintaan suaminya.


"Boleh dong modusin istrinya biar di peluk yang erat?" ternyata Bian mendengar ucapan Annisa. Annisa hanya tersenyum dan lebih mempererat pelukannya.


Tiba di Plaza Ambarrukmo, Bian memilihkan baju-baju untuk istrinya. "Kok mas Imam malah beli baju untukku? Kan mas Imam yang tidak ada baju gantinya."


"Aku lagi ngumpulin pahala biar seimbang sama kamu. Kata guru ngajiku, ngajak istri jalan-jalan dan membelanjakan istri pahala sangat besar, lebih baik dari pahala iktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh."


Annisa menghembuskan napas pelan. "Mas, kita sama. Aku pun penuh dosa, hanya saja Allah menutupi aibku. Mulao hari ini mari kita kumpulkan pahala sama-sama agar kita bisa bersama-sama sampai ke Surga," ia menggandeng tangan Bian menuju tempat pakaian pria.


"Kamu sudah belanjanya?"


Annisa mengangguk. "Sudah," ucapnya sembari memilihkan celana untuk suaminya.


"Untuk ibu?"


"Sudah juga," Annisa meraih celana panjang berwana hitam untuk suaminya. "Cobain dulu mas," ia menyerahkannya kepada Bian.


Bian menerimanya sembari mengerutkan kening, kemudian ia menempelkan ujung celana itu di pinggangnya. "Ini pendek sayang, satu size lagi ya biar sampai menutup mata kaki," ucap Bian lembut.


"Maaf mas, itu namanya isbal sayang. Bukhari 5787: Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka. Mengenakan celana diatas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bagi laki-laki," terang Annisa, ia meraih tangan Bian dan menggenggamnya. "Maaf ya, bukan maksudku mengungguruimu," Annisa takut jika suaminya tak berkenan dengan apa yang ia sampaikan atau seolah mengguruinya.


Bian tersenyum, kemudian mengelus lengan istrinya. "Terima kasih ya," ia sama sekali tak marah, justru senang dan merasa beruntung memiliki Annisa yang mengingatkannya untuk menjadi lebih baik. Ia kemudian mendaratkan satu kecupan manis di kepala Annisa sebelum akhirnya Bian membawa celana pilihan istrinya ke fitting room.


Puas memilih, Bian meminta Annisa untuk membayar barang belanjaan mereka. "Kamu coba saja mana yang bisa di pakai, aku belum cek saldo dan limitnya," ucap Bian berbohong, ia memberikan satu kartu debit yang berisi hasil keuntungan dari perusahaannya, dan yang satu lagi kartu kredit dengan limit yang cukup besar.


Selesai membayar, Annisa kembali lagi pada Bian. "Tadi aku pake debit, saldonya masih cukup kok," Annisa memberikan kedua kartu itu kepada Bian.


"Pegang saja, itu untuk belanja bulanan rumah tangga kita," ucap Bian. "Masalah keuangan kita bicarakan setelah kita di Jakarta ya," Bian menggandeng tangan Annisa menuju parkiran, namun sebelum pulang Bian mengajak istrinya membeli ice cream kesukaan Annisa.


Bian tak menyangka pacaran setelah halal bersama pujaan hatinya, sungguh sangat menyenangkan. Ia bisa bebas memandangi wajah cantik Annisa, menggegam tangannya, mengelap sisa ice cream yang menempel di bibirnya, makan dari sendok yang sama bersama istrinya sembari mendengarkan cerita lucunya.

__ADS_1


...****************...


"Waah..." Annisa nampak takjub dengan kamar pengantin yang di penuhi oleh kelopak bunga mawar merah segar. "Kita shalat dulu yuk, sudah masuk waktu isya," Bian menaruh barang belanjaannya di meja, kemudian ia menggulung lengan kemejanya dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, di ikuti oleh Annisa di belakangnya.


Annisa tak dapat menahan rasa harunya mendengar surat Al-Qur'an yang Bian bacakan sewaktu Shalat, lebih fasih dan lancar di banding ketika Bian melamarnya. Itu artinya meski sudah mendapatkan restu dari Fahri, Bian tetap belajar untuk lebih baik.


Selesai salam Bian menoleh ke arah Annisa, Annisa mencium tangan Bian kemudian berhambur memeluknya. "Sayang kenapa kamu menangis?" tanya Bian sembari mengelus punggung istrinya dengan lembut.


Ungkapan terima kasih tak hentinya terucap dari mulut Annisa, betapa bersyukurnya ia memiliki Bian yang selalu berusaha menjadi Imam terbaik untuknya. "Aku yang beruntung memilikimu sayang," Bian mengecup kening Annisa kemudian kembali membawanya ke dalam pelukannya.


Setelah lebih tenang, Annisa izin ke kamar mandi sementara Bian menunggunya di tempat tidur sembari membuka handphonenya yang sejak pagi ia matikan. Alangkah terkejutnya Bian ketika melihat banyaknya telepon dan pesan masuk yang memberikan ucapan selamat kepadanya. "Dari mana mereka tahu aku sudah menikah?" ia langsung mencari tahu siapa yang telah menyebarkan berita itu.


Rupanya mereka tahu dari Fahri yang memasang story foto pernikahannya dengan Annisa, sehingga berita pernikahannya pun langsung tersebar di kantor dan genk motornya. Bian sama sekali tak menyalahkan Fahri, sebab ia tak meminta Fahri untuk merahasiakannya dulu sebelum acara resepsi, hanya saja..... Ia khawatir pada reaksi Caroline jika mengetauhi dirinya sudah menikah, ia takut Caroline nekat menyakiti Annisa. 'Aku harus segera menyelasaikan masalah ini,' batin Bian, ia harus bisa tegas pada Caroline agar Caroline tidak menyakiti istrinya.


"Sayang..."


Panggilan mesra dari istrinya membuat perhatian Bian teralihkan. "You look so beautiful," Bian sungguh terpesona pada kecantikan Annisa yang tampil dengan pakaian mininya, rambut panjangnya yang tergerai, serta sedikit polesan make up natural yang semakin membuatnya terlihat cantik. Selama ini Bian hampir tak pernah melihat Annisa mengenakan make up, selain tadi pada acara akad nikahnya dan malam ini Annisa berdandan untuknya.


Dengan langkah malu-malu, Annisa berjalan mendekat ke arah Bian, ia terlihah bingung dan malu. "Apa mas mau...."


Belum sempat Annisa melanjutkan kalimatnya, Bian memegang kedua pipi Annisa lalu mencium bibirnya. Perlahan lidahnya dijulurkan masuk ke dalam mulut Annisa, menyesapi rasa manis lidah Annisa. Annisa yang sedari tadi hanya diam, mulai menggerakan lidahnya, sebagaimana yang Bian ajarkan padanya.


“Kau cantik sekali, sayangku” bisik Bian. Ia membungkuk dan mencium kening istrinya.


“Mas juga tampan, suamiku.”


Bian kembali mencium bibir Annisa, tangannya mulai merayap menelusuri leher hingga dada istrinya, dengan lembut Bian kemudian direm*snya dengan penuh hasrat.


Kejantanan Bian bereaksi. Keduanya merasakan hal itu, desah napas mereka memburu, dan menggema. Bibir mereka saling memagut, lidah mereka saling menjilat, Annisa langsung bisa menyesuaikan irama Bian.


Sambil mengangkat kepala, Bian meletakkan tangannya di pundak Annisa, ia menjauhkan diri dari Annisa. Perlahan-lahan Bian membuka kaos dan celananya. Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Annisa, ia melemparkan celananya ke samping. Bian berdiri telanjang bulat di hadapan Annisa.


Jantung Annisa berdegup kencang, untuk pertama kalinya ia melihat pria telanjang di hadapannya, namun Annisa tak memalingkan pandangannya, ia justru menatap tubuh tegap, dan dada bidang suaminya. Kemudian pandangannya turun melihat...


Kejantanan Bian yang kini mengeras.


Sejenak Annisa memejamkan mata untuk melawan rasa pening yang menyerangnya, ia merasa seperti mau pingsan, namun desakan yang menggebu menyerang dirinya, itulah gelora hasrat yang dipicu dari perasaan cinta dan kagumnya kepada suaminya.


“Kau tidak apa‐apa sayang?” tanya Bian. "Apa ini terlalu cepat untukmu?"

__ADS_1


Annisa membuka mata, melihat Bian tersenyum padanya. Annisa tertawa malu-malu “Tidak, aku tidak apa-apa, sayang. Mas begitu tampan," pujinya.


Bian mengecup bibir Annisa dengan penuh kelembutan. “Terima kasih, sayang."


Bian membatu Annisa melepaskan pakaian tidur yang di kenakannya. “Sungguh betapa cantiknya dirimu.” gumam Bian takjub, ketika ia melihat p*yudara Annisa, ia terus memandangi tubuh Annisa yang kini tanpa sehelai benang pun dengan kagum. Sorot matanya memancarkan gairah yang meluap-luap, dan seperti hendak menelannya bulat-bulat.


Bian Mmnatap pa*udara Annisa yang padat berisi, lalu perut dan pinggulnya yang mulus. "Sayang, kau begitu cantik dan menawan.”


Dengan penuh kekaguman Bian menggenggam salah satu dan menjil*tnya. Dengan ibu jarinya, ia menelusuri puncak payud*ra Annisa. Sesat Bian memandanginya, lalu tersenyum, dan kembali mencondongkan badan, menciuminya berulang-ulang.


“Mas...” ujar Annisa, lirih memanggil namanya. Pria itu tidak menghiraukan ******* istrinya.


Bian terus beraksi makin panas. Annisa menjerit, tersentak kaget, dan melengkungkan punggungnya sehingga Bian makin leluasa bergerak. Bian merasakan pipinya panas ketika makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Annisa. Bian menciumi payud*ra Annisa yang satu lagi, membuat Annisa mengerang dan mendesah.


“Sepertinya ini akan menjadi tempat favoritku.” Bian membenamkan wajahnya di antara payud*ra Annisa.


"Milikmu sayang," ucap Annisa mengelus kepala Bian dengan lembut.


Bian membuka kaki Annisa dan menyusupkan pinggulnya di antara paha istrinya, hingga tubuh mereka bergesekan


Bian mendaratkan hujan ciuman pada tenggorokan dan leher Annisa dengan penuh gairah. “Kita lakukan sekarang?”


“Ya, sayang,” sahut Annisa, sambil melengkungkan tubuh ke arah suaminya.


Bian menurunkan tubuhnya. Tangannya membelai perut Annisa, terus ke bawah, terkagum-kagum merasakan kehalusan kulitnya. Kemudian jari-jarinya tiba di bagian sensitif Annisa dan menikmatinya. Diletakkannya telapak tangannya di bagian sensitif Annisa dan dibiarkannya jari-jarinya bergerak di antara kedua paha Annisa.


Bian menjauh, memberi jarak agar ia bisa mendekati bagian tubuh sensitif Annisa. Mereka saling menatap, mengamati perasaan cinta mendalam yang terpancar di wajah masing-masing setiap kali kejantanan Bian menyentuh bagian paling intim Annisa itu.


"Boleh aku masuk sekarang?"


“Lakukanlah sayang, aku sudah siap.”


Dengan sekujur tubuh tegang, Bian mengarahkan dirinya memasuki pelabuhan hangat di tubuh Annisa, ia menekan, terus menekan, sampai akhirnya masuk dengan sempurna.


Pemanasan panjang tadi membuat Annisa siap menerimanya, ia hanya merasakan kesakitan sesaat. Namun jeritannya dibungkam oleh bibir Bian.


Bian mulai bergerak, gerakannya sangat lembut, ia menarik istrinya ke dunia yang menghanyutkan. “Apakah sakit sayang?”


“Tidak, Sayang, tidak.”

__ADS_1


Bian tak lagi mampu menahan gairahnya yang terus meninggi. Ketika mencapai puncaknya, Bian merasakan kenikmatan paling dahsyat, dan ketika akhirnya kenikmatan itu berlalu, Bian terkulai di pelukan cinta istrinya dalam keadaan lelah, puas, dan bahagia. "Terima kasih sayangku, aku begitu mencintaimu." Bian mengecup kening Annisa.


__ADS_2