
Keesokan harinya Annisa menepati janjinya untuk menemui Margareth di tempat mereka janjian pukul 07.00 pagi, sehingga sebelum subuh Annisa sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suami serta ibu mertua dan dua adik iparnya.
"Maria sudah di jalan pulang," ucap Annisa saat mereka sarapan bersama, ia meminta Maria pulang untuk menemani Kylie dan Farel selama Claire dan Bian keluar mengurus laporan ke kantor polisi, sementara dirinya akan menemui Margareth, lalu kuliah dan mengunjungi kedainya di bandara.
"Ibu bagaimana?" tanya Bian, lalu memasukan kimbab buatan istrinya.
"Ibu masih menemani mba Wid, mas Fahri kan sampai besok di Bandunnya," jawab Annisa.
"Manja sekali Widya ini," gerutu Bian.
"Loh? Mba Widya kan sedang hamil muda mas, jadi ibu mana tega meninggalkan mba Widya sendirian dalam keadaan mengidam begitu."
"Iya manja namanya, rumah ini kan jadi sepi enggak ada ibu," protes Bian, menghabiskan suapan terakhir sarapannya.
"Kenapa mas Imam dan mba Widya akhir-akhir ini sering rebutan ibu sih?" gumam Annisa menggelengkan kepalanya. "Ya sudah aku berangkat dulu ya, takut telat aku janjiannya." Annisa meraih tasnya, kemudian ia mencium tangan Bian.
"Jadi jualan kuenya?" tanya Bian, ia pikir apa yang Annisa ceritakan semalam soal toko kue itu hanya sekedar wacana saja.
"Jadi dong kan semalem aku sudah izin juga sama mas. Udah ya aku beraangkat dulu, vitamin mas jangan lupa di minum." Annisa beranjak dari tempat duduknya ia mendekat ke arah Bian dan memberinya pelukan serta ciuman mesra.
Bian pun membalas pelukan dan ciuman istrinya, tak lupa ia mencium dan berbicara pada calon buah hatinya yang berada dalam perut istrinya. "Jangan capek-capek ya sayang."
"Iya, mas juga jangan capek-capek." Annisa mendaratkan kecupan terakhirnya di bibir Bian. "Love you. Assalamualaikum." Annisa mengenakan cadarnya, barulah ia melangkah meninggalkan ruang makan.
"Walaikumsalam, love you too honey," Bian memperhatikan istrinya keluar dari ruang makan, ia tak bisa mengantar ke depan sebab ia sudah mulai zoom meeting bersama para pegawainya, setelah Annisa pergi barulah Bian menyalakan kamera dan pengeras suaranya.
__ADS_1
Saat melewati ruang keluarga, Annisa berpapasan dengan Claire dan kedua anak-anaknya. "Mah aku pergi dulu ya," ia menghampiri dan mencium tangan Claire.
"Pagi sekali?" tanya Claire heran, ia melihat jam masih menujukan pukul 06.25.
"Iya mah, aku sedang ada kerjaan. Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum," Annisa memeluk dan mencium kedua pipi Claire serta berpamitan dengan kedua adiknya barulah ia keluar dari rumah.
"Walaikumsalam," jawab Claire, Kylie dan Farel bersamaan. Ke tiganya berjalan menuju meja makan.
...****************...
Pukul 06.59 Annisa sudah tiba di tempat kemarin ia janjian dengan Margareth, ia melihat Margareth sudah menunggunya di pinggir jalan bersama beberapa box besar berisi kue yang siap di jual.
"Apa ibu sudah menunggu lama?" tanya Annisa ketika ia turun dari mobil.
Margareth menggeleng. "Tidak aku baru saja datang," jawabnya. "Namaku Margareth," ia mengulurkan tangannya. "Kemarin kita belum sempat berkenalan," sambungnya.
"Bu Margareth, ini surat perjanjian kerja samanya," Annisa mengulurkan seberkas proposal perjanjian kerja sama yang ia buat tadi malam. "Silahkan ibu pelajari, jika ada yang kurang pas kita bisa diskusikan baru ibu tanda tangani."
"Aku tak perlu membacanya, berapa pun keuntungan yang kau berikan akan aku terima asalkan aku bisa makan, dan membayar sewa rumah dan mengirim putriku makanan di penjara, itu saja sudah cukup," ucapnya.
"Putri ibu di penjara?"
Wajah Margareth berubah menjadi sedih. "Iya, dia terjerat bebrapa kasus dan itu semua karena keserakahannya. Ia merasa tak puas dengan pria yang sudah ia pacari sedari SMP, sehingga ia mencari beberapa pria kaya lainnya untuk memenuhi gaya hidupnya yang tinggi. Lambat laun pria-pria tersebut pergi meninggalkannya karena sadar putriku hanya memanfaatkannya, termasuk pria yang telah di pacarinya sejak SMP. Putriku tak terima pria itu memutuskannya, segala cara ia lakukan agar pria itu kembali padanya bahkan ia sampai menghancurkan markas genk motor pria itu dan hampir menubuh temannya karena putriku menganggap teman-teman genk pria itu mempengaruhinya agar tidak kembali padanya." Margareth menghembuskan napas pelan.
"Sekarang ia harus mendekam selama 12 tahun di penjara, tapi bukan hanya dia saja yang mendapatkan hukuman, aku pun ikut mendapat hukuman dari ayahnya anakku. Dia menceraikanku setelah mengetahui putrinya terjerat masalah hukum yang cukup serius, dia menganggapku tak becus dalam mengurus anak. Dia menceraikan dan mengusirku tanpa uang sepeser pun. Untuk itulah aku terpaksa berjualan kue di pinggir jalan untuk menyambung hidup dan memberi makan putriku di penjara sebab jatah makannya selalu di ambil orang," lanjutnya.
__ADS_1
Di satu sisi Annisa merasa iba, tapi itulah hukum tabur tuai. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik. Annisa berharap setelah ini Margareth dan Caroline bisa berubah menjadi lebih baik.
"Aku tidak punya pulpen, apa aku boleh pinjam?"
"Tentu," Annisa merogoh tasnya dan mengambil pulpen, kemudian ia memberikan pulpen tersebut kepada Margareth.
Tiba di ruko, etalase untuk display kue baru saja tiba, Annisa langsung
memberikan istruksi posisi etalase. Tak lama kemudian satu pegawai yang ia ambil dari kedai sotonya datang, pegawai itu nantinya akan bertugas menjaga mesin kasir.
Mereka semua bahu membahu menata kue dalam etalase, sembari menunggu pelanggan Annisa menjelaskan konsep serta jenis kue yang akan di jual di toko kuenya. Ia ingin menjadi kan toko kue miliknya menjadi toko kue besar, hal itu di dasari setelah ia mencicipi semua kue buatan Margareth yang menurutnya memiliki cita rasa tinggi sehingga sayang jika hanya di buat sederhana.
"Bu Margareth tidak perlu mengontrak lagi. Tinggal saja di sini, lantai dua masih kosong, paling nanti siang aku suruh orang untuk membuat sekat ruangan bahan baku kue," terang Annisa.
"Oh Annisa, kau sungguh baik sekali. Aku akan bekerja keras untuk membalas semua kebaikanmu."
Annisa tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Sama-sama bu Margaret."
Hari itu menjadi hari paling sibuk bagi Annisa, karena alat-alat dan bahan-bahan pembuatan kue dalam jumlah besar datang pada hari itu juga. Annisa meminta Widya membuatkan akun media sosial untuk mengiklankan kue-kue di toko miliknya.
Di rumah, Widya mengerutkan keningnya. "Ternyata Nissa sama saja dengan pak Bian, sering tiba-tiba berpindah haluan bisnis dan maunya cepat dan sempurna."
Sekar tertawa mendengar gerutan menantunya. "Namanya juga jodoh, kamu turuti saja jika tidak memberatkan. Tapi kalau tidak bisa, bicara baik-baik dengan Nissa." ia mengukurkan susu hangat kepada menantunya. "Di minum dulu," ucapnya.
"Terima kasih ya bu," Widya menerima dan langsung menghabiskannya. "Bisa kok bu, ini mudah tapi ibu nginep lagi kan?" pinta Widya sembari menyandar di bahu Sekar. Sekar sungguh mengobati rasa rindunya pada ibu kandungnya yang telah tiada.
__ADS_1
Sekar mengangkat bahunya, sebab ia baru saja menerima pesan dari Bian bahwa Bian mengatakan akan menjemputnya nanti sore.