Road To Jogja

Road To Jogja
BAB 48


__ADS_3

Tiba-tiba saja Bian datang dan menutup pintu mobil Widya. "Aku ingin bicara denganmu," ia melirik ke arah taman depan kediamannya, seraya memberi kode kepada Widya agar bicara dengannya di sana.


Widya mengangguk setuju, ia kembalo menekan tombol lock pada kunci mobilnya, kemudian mengikuti Bian duduk di taman.


Wajah Bian terlihat sangat serius. "Sebetulnya aku tidaak pernah mengurusi urusan orang lain, terlebih urusan ranjang. Tapi karena kau adalah temanku dan Fahri adalah saudaraku, aku tidak ingin hal yang kemari menimpaku, menimpa pernikahan kalian," ucap Bian. Widya masih belum seratus persen mengerti arah pembicaraan Bian.


"Aku sangat mengenal Fahri, dia orang yang begitu saklek dan sulit terbuka. Jadi kusarankan, jika kau memiliki kesalahan di masa lalu, kau bercerita dengan Fahri agar setelah kalian menikah tidak menimbulkan masalah," lanjut Bian. Bukan tanpa alasan Bian mengatakan hal itu, karena ia tahu bagaimana gaya berpacaran Widya dengan staf HRDnya dulu.


Sekarang Widya mengerti apa yang di bicarakan oleh Bian. "Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih atas perhatian pak Bian padaku dan juga mas Fahri. Tapi sepertinya pak Bian salah, mas Fahri justru orang yang sangat terbuka mengenai hal itu. Sebelum aku menerima ta'arufnya, aku menceritakan semua masa laluku bersama mantan-mantan pacarku, aku sudah menawarinya untuk mundur jika mas Fahri tidak bisa menerimanya, tapi mas Fahri tidak mau. Dia tetap yakin pada pendiriannya untuk meminangku dan menerima semua masa laluku," ucap Widya. Ia tak mengatakan bahwa sebetulnya dulu pun Fahri pernah tidur dengan seorang gadis, saat ia dan teman-teman genknya termasuk Bian sering minum, minuman beralkohol, hanya saja Bian tak mengetahui bahwa Fahri pernah terlibat cinta satu malam dengan seorang gadis yang ia temui di bar.


"Baiklah kalau begitu, aku harap kau dan Fahri bahagia selalu." Bian beranjak dari tempat duduknya, ia mengicapkan selamat kepada Widya tanpa menjabat tangannya, kemudian ia kembali dapur untuk mengambil puding susu buatannya dan membawanya ke kamar.


"Sayang, puding susunya sudah jadi," Bian mendekat ke arah Annisa yang tengah duduk di atas tempat tidur, ia terkejut melihat wajah murung istrinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Bian, ia menaruh puding itu di atas meja sebab sepertinya Annisa sudah tidak tertarik untuk menyantapnya.


Annisa menatap tajam ke arah Bian, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Harusnya aku yang tanya, Mas Imam kenapa duduk berdua dengan Widya yang notabennya dia adalah calon kakak iparku?"


Bian terkejut karena rupanya Annisa melihatnya, namun kemudian akhirnya ia menceritakan apa saja yang tadi ia bicarakan dengan Widya. "Aku minta maaf tidak bercerita denganmu, karena ini menyangkut aib orang lain. Widya pasti malu jika sampai kau mengetahui ini, jadi jangan bicara apa-apa ya."


Annisa mengangguk mengerti, ia merasa tak punya hak untuk menghakimi masa lalu orang lain, baginya yang terpenting adalah Widya yang saat ini sudah berubah menjadi lebih baik dan kakaknya bahagia bersamanya. "Maafin aku ya mas, aku hamoir saja menuduhmu," ucap Annisa dengan penuh rasa bersalah, ia memeluk Bian dengan erat. "Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa moodku tidak stabil. Apa karena hormon kehamilan ini?" Annisa mengelus perutnya dengan lembut.

__ADS_1


Bian membalas pelukan Annisa dengan hangat. "Aku senang, akhirnya kau cembiru juga padaku. Selama ini aku merasa kau tidak benar-benar mencintaiku karena kau tidak pernah posesif atau pun cemburu."


Seketika Annisa mendongak, memandang ke wajah Bian. "Selama ini aku tidak pernah posesif karena aku sangat mempercayai mas Imam. Aku begitu mencintaimu sayang."


"Benarkah?" Bian mengangkat satu alisnya. "Kalau begitu, sekarang kamu harus habiskan puding susu buatanku." Bian melepaskan pelukannya kemudian ia mengambil kembali puding susu buatannya yang ia taruh di atas meja di samping tempat tidur.


Bian menyuapi Annisa dengan telaten, sembari bergurau mesra dengan istrinya. Di tengah suasana mesranya bersama Annisa, tiba-tiba saja Maria datang ke kamarnya.


"Ada apa Mar?" tanya Bian sembari membukakan pintu kamar.


Wajah Maria terlihat gugup. "Ada tamu menunggu pak Bian di bawah," ucapnya ragu-ragu.


"Tamu? Siapa?" Bian sendiri bingung menapa wajah asistennya terlihat gugup.


Sebetulnya Bian sudah menduga jika ibunda Caroline pasti akan datang menemuinya, namun ia tak menduga jika Margareth akan menemuinya di rumah. "Kau bikinkan saja minum untuknya, nanti aku akan menemuinya," ucap Bian.


"Siapa sayang?" tanya Annisa, ia mendengar jika ada tamu datang ke kediamannya.


Bian menutup pintu kemudian menghampiri Annisa, ia duduk di hadapan istrinya dan memandangnya lekat-lekat. "Ibunya Caroline," jawab Bian. " Kemungkinan beliau kemari untuk memintaku meringankan tuntutannya. Kamu di sini saja ya, biar aku yang menemuinya sendiri." Bian tak ingin Annisa terluka dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Margareth yang super tajam, bukan tidak mungkin wanita itu akan menghina istrinya.


Annisa mengangguk, patuh. Bian tersenyum sembari mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Kamu habiskan saja pudingnya, nanti aku akan kembali." Bian beranjak dari kamarnya meninggalkan Annisa untuk menemui Margareth.

__ADS_1


Sesuai dengan dugaan Bian, Margareth datang untuk meminta bantuannya, namun dengan tegas Bian menolaknya dan hal ini membuat Margaret murka terhadap Bian.


"Bian, apa yang Caroline lakukan ini, karena dia begitu mencintaimu, dia tidak ingin kau pergi dari hidupnya setelah kau merengkuh manisnya keperawanannya," ucap Margareth.


"Tante, aku sama sekali tidak menuntutnya atas penipuan yang selama bertahun-tahun ia lakukan kepadaku, dengan berpura-pura mengaku pernah hamil dan menggugurkan kandungannya. Apa yang menjeratnya kini adalah kasus kepemilikan senjata api ilegal, jual beli motor bodong dan percobaan pembunuhan pada kedua temanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya."


"Tapi kau bisa membujuk temanmu untuk menarik laporannya!!" bentak Margareth.


"Tidak bisa tante, temanku hampir mati karena kejadian itu bagaimana mungkin aku membujuknya untuk mencabut laporannya?"


"Kau bisa Bian, kau ketua genknya. Kau bisa memaksa anggotmu untuk meringankan tuntutan Caroline," teriak Margareth hingga menggema di kediaman Bian.


Tentu saja hal ini membuat Annisa dan ibundanya terkejut, dan penasaran.


"Apa karena sekarang kau sudah menikah dengan wanita kampung sialan itu, sehingga kau tak mau lagi menolong wanita yang sudah memberikan semuanya untukmu? Wanita yang sudah menemanimu dari 0 dan membuatmu seperti sekarang ini..."


"Ini tidak ada hubungannya dengan istriku, tante," Bian menyelanya. "Aku memang berpacaran dengan Caroline sejak SMP, tapi aku bisa menjadi seperti sekarang ini adalah berkat kerja kerasku dan modal yang berikan oleh keluargaku," ucap Bian dengan tegas.


Ia tak habis pikir mengapa Caroline dan keluarganya sering mengatakan hal itu, padahal dari TK sampai kuliah, ayahnya-lah yang telah membiayai pendidkannya, dan kakeknya yang memberikannya modal usaha, lantas mengapa hanya karena ia berpacaran dengan Caroline seolah apa yaang ia capai sekarang sekarang ini adalah berkat wanita itu? Padahal justru Caroline sendiri-lah yang sering mencontek dan memintanya untuk membuatkan tugas sekolah dan kuliah.


"Aku pikir, tante hanya membuang-buang waktu datang kemari. Lebih baik tante pergi saja dari rumahku."

__ADS_1


Margareth beranjak dari tempat duduknya. "Sombong sekali kau ini, akan kupastikan kau dan istrimu tidak akan bahagia!!" ucapnya sebelum meninggalkan kediaman Bian.


__ADS_2